12 July 2021, 14:09 WIB

Sekuel Mimpi Buruk Menerpa Southgate


Akmal Fauzi | Sepak Bola

KEKALAHAN Inggris lewat babak adu penalti di Final Piala Eropa 2020 jadi sekuel untuk mimpi buruk Gareth Southgate.

Pada 25 tahun lalu di tempat yang sama, Southgate menjadi saksi kegagalan The Three Lions.

Inggris saat itu punya kans mencapai final Piala Eropa 1996. Namun, secara menyesakkan mereka takluk dari Jerman melalui adu penalti. Southgate yang saat itu menjadi pemain maju sebagai penendang terakhir Inggris saat kedudukan masih sama kuat 4-4.

Pemain yang saat itu memperkuat Aston Villa gagal menaklukkan Andreas Koepke, penjaga gawang tim Panser.

Pada Piala Eropa 2020, saat publik Inggris mendapat harapan jargon "Football's coming home" menjadi kenyataan dan mengulang sukses merengkuh trofi Piala Dunia 1966, Inggris kembali takluk di drama adu penalti. Sekali lagi, itu hanya menjadi jargon tanpa wujud.

Keputusan Southgate untuk memasukkan Marcus Rashford, Jadon Sancho dan pemain muda Bukayo Saka di akhir perpanjangan waktu untuk mengambil penalti melawan Italia menjadi bumerang. Ketiganya gagal mengeksekusi penalti yang membuat Italia juara Piala Eropa 2020.

Puasa gelar Inggris setelah 55 tahun masih akan berlanjut. Mimpi buruk Southgate belum selesai, justru bertambah.

"Soal adu penalti, itu semua keputusan saya. Saya memutuskan eksekutor penalti berdasarkan apa yang sudah mereka lakukan di sesi latihan, tidak ada yang mengambil keputusan sendiri," jelas Southgate.

Dia tidak mau ada nama pemain yang disalahkan. Inggris menang sebagai tim dan kalah sebagai tim. Menurutnya, skuad Inggris sudah memberikan yang terbaik di final Piala Eropa 2020.

"Kami sangat kecewa. Para pemain layak mendapatkan pujian, mereka telah memberikan segalanya. Mereka berlari sampai habis tenaga," lanjut Southgate.

Mantan pemain Manchester United, Roy Keane mengecam pemain senior Inggris yang membiarkan Bukayo Saka menendang penalti penentu. Pemain berusia 19 tahun itu belum pernah menendang penalti bagi klubnya, Arsenal, tetapi malah diberi tanggung jawab menjadi penendang kelima pada adu penalti.

"Jika Anda (Raheem) Sterling atau (Jack) Grealish, Anda tidak bisa duduk di situ dan membiarkan pemain muda menendang penalti lebih dahulu ketimbang Anda, tidak bisa," ujar Keane.

"Anda tidak boleh membiarkan pemain 19 tahun yang pemalu (menendang penalti) lebih dahulu. Mereka memiliki pengalaman lebih banyak, Sterling telah memenangkan trofi, mereka wajib berdiri di depan anak muda itu," lanjutnya.

Keane juga menilai, kekalahan itu juga Sama halnya dengan pengalaman menyakitkan mereka yang takluk dari Kroasia di semifinal di Piala Dunia 2018 1-2.

Inggris kehabisan tenaga meski sempat unggul di babak pertama. "Mereka membutuhkan satu atau dua perubahan lagi, mereka butuh lebih banyak energi dalam tim," kata Roy Keane. (Mal/Goal/AFP/OL-09)

BERITA TERKAIT