11 July 2021, 06:56 WIB

Didenda oleh UEFA, Hongaria Balik Lontarkan Kritik


Basuki Eka Purnama |

HONGARIA, Sabtu (10/7), menuding UEFA sebagai lembaga pengecut setelah federasi sepak bola negara itu diganjar sanksi karena perilaku para pendukung mereka selama Piala Eropa 2020.

UEFA menghukum timnas Hongaria untuk menggelar tiga laga berikutnya tanpa penonton dan menjatuhkan denda sebesar 100 ribu euro.

UEFA menyelidiki suara monyet dan spanduk homofobia dalam laga Piala Eropa yang dimainkan Hongaria dan Budapest dan Muenchen.

Baca juga: Southgate Minta Inggris Bermain Seperti Biasa di Final Piala Eropa

Di Piala Eropa, Hongaria tersingkir di babak penyisihan grup.

Hongaria tengah dikritik oleh sesama negara Eropa karena memberlakukan Undang-Undang Anti-LGBTQ.

"Tampaknya UEFA mempekerjakan seorang pegadu, yang fungsinga tidak lain melaporkan apa yang dikatakan (atau tidak dikatakan) para penonton," ujar Menteri Luar Negeri Hongaria Peter Szijjarto lewat Facebook.

"Seperti komunis, mereka tidak butuh bukti, laporan dari pengadu itu sudah cukup," lanjutnya.

Perilaku pendukung Hongaria merupakan salah satu insiden kontroversial yang terjadi selama Piala Eropa 2020.

UEFA juga menolak permintaan pemerintah Kota Muenchen untuk menyalakan Stadion Allianz Arena dengan warna pelangi sebagai dukungan untuk komunitas LGBTQ dalam laga Piala Eropa 2020 antara Jerman dan Hongaria.

Dalam laga itu, seorang pendukung Jerman masuk ke dalam lapangan saat lagu kebangsaan Hongaria dinyanyikan sembari membawa bendera pelangi.

"Masuk ke lapangan dan memprovokasi pemain lawan saat lagu kebangsaan dinyanyikan tidak masalah," kecam Szijjarto sebelum menyebut Hongaria disanksi karena mengizinkan penonton memadati stadion.

"Menyenteri kiper lawan juga tidak apa-apa (mengacu pada insiden yang berakhir dengan Asosiasi Sepak Bola Inggris didenda)."

"Namun, menghadirkan stadion yang penuh dan atmosfer yang luar biasa tidak bisa. Karenanya, kami harus memainkan laga tanpa penonton. Badan yang mengambil keputusan ini sangatlah buruk dan pengecut. Mereka seharusnya malu," pungkasnya. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT