19 June 2021, 06:00 WIB

Solidaritas untuk Christian Eriksen


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola

AJANG Piala Eropa bukan sekadar menjadi arena persaingan 24 negara Eropa menuju tangga juara. Sepekan setelah kejuaraan bergulir, festival sepak bola bangsa Eropa itu menjadi tempat tumbuhnya rasa persaudaraan, persahabatan, dan kepedulian. Christian Eriksen menjadi penguat rasa kemanusiaan itu. Pemain asal Denmark tersebut dikenal sebagai salah satu pemain yang memiliki talenta tinggi. Ia merupakan andalan tim ‘Dinamit’ karena visi bermainnya yang luas sehingga menjadi pengatur permainan.

Daya jelajahnya yang tinggi membuat Eriksen menjadi andalan. Tiga klub besar pun pernah mengontraknya, yaitu Ajax, Tottenham Hotspur, dan Internazionale Milan. Itu menjadi bukti bahwa pemain berusia 29 tahun ini merupakan salah satu pemain terbaik di dunia.

Minggu lalu Eriksen menjadi harapan bagi Denmark untuk memulai perjalanan menuju tangga juara. Para penonton di Stadion Parken, Kopenhagen, pun bersemangat mendukung tim kesayangannya untuk bisa menundukkan tim tamu, Finlandia.

Hampir sepanjang babak pertama, Denmark terus menekan tim debutan turnamen besar, Finlandia. Eriksen selalu berada di dekat permainan untuk membantu rekan-rekannya keluar dari penjagaan pemain lawan.

Di tengah riuh teriakan penonton, pada menit ke-42, Eriksen tiba-tiba terkulai dan jatuh. Wasit Anthony Taylor segera menghentikan pertandingan dan mendekat ke arah Eriksen. Secara cepat ia pun memanggil tim medis Denmark untuk masuk ke lapangan.

"Dia sudah tidak ada,” kata Dokter Morten Boesen menjelaskan apa yang terjadi ketika ia pertama kali memeriksa Eriksen. “Kami meyakini ia mengalami serangan jantung dan langsung kami putuskan memberikan cardiopulmonary resuscitation. Dengan satu kejutan, beruntung jantungnya bisa berdenyut kembali.”

Stadion Parken tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Semua menanti dengan berdebar-debar apa yang terjadi dengan Eriksen. Seluruh pemain Denmark berdiri saling berangkulan untuk memberikan dukungan moral kepada rekannya yang terbaring di lapangan.

“Apa pun hasil kejuaraan ini, bagi saya, para pemain Denmark merupakan pahlawan. Kapten kesebelasan Denmark Simon Kjaer mampu membangun kebersamaan dan saya hampir meneteskan air mata melihat momen itu,” ujar Kapten Skotlandia, Andrew Robertson.

 

 

Doa untuk Eriksen

Rasa simpati pun mengalir dari seluruh dunia kepada Eriksen. Kostum nomor 10 Eriksen pun kemudian menjadi simbol dukungan bagi pulihnya kembali kesehatan bintang sepak bola Denmark itu.

Mural, spanduk, bahkan billboards dukungan kepada Eriksen pun muncul pada setiap kejadian. Para pemain Denmark satu per satu menjenguk Eriksen untuk terus menyampaikan dukungan bagi pemulihannya.

“Saya terharu dan berkaca-kaca ketika datang menjenguknya dan melihat dia sudah memberikan respons. Kalau sekarang kami kembali bermain, semua itu kami lakukan untuk Eriksen,” ujar Kiper Denmark, Kasper Schmeichel.

Jumat dini hari, Denmark tampil dengan gagah berani untuk menghadapi favorit Belgia. Sebelum pertandingan, para pemain Denmark dan penonton di Stadion Parken memberikan penghormatan selama 10 menit dengan membentangkan kostum Eriksen bernomor punggung 10.

Para pemain Belgia tidak ketinggalan untuk memberikan penghormatan kepada bintang Denmark itu. Eriksen dijadikan anggota kehormatan kesebelasan Belgia. Kapten kesebelasan Jan Vertonghen memberikan kostum putih Belgia yang ditandatangani semua pemain dengan nomor punggung 10 dan bertuliskan nama “Christian”.

Eriksen diperkirakan akan pensiun dari sepak bola. Tim dokter yang merawatnya mengatakan, tidak mungkin lagi bagi Eriksen untuk turun ke lapangan. Ia diharuskan memakai alat pacu jantung untuk mencegah jangan sampai serangan kedua kembali terjadi.

Peristiwa yang dialami Eriksen memberi banyak pelajaran bagi pengelolaan pertandingan sepak bola ke depan. Pengelola televisi diminta untuk tidak mengeksploitasi kejadian seperti itu hanya untuk kepentingan rating and share. Para pengelola televisi diminta untuk menggunakan hati dan mempunyai empati agar tidak terjebak kepada sensasi.

UEFA dikritik untuk tidak menempatkan tim dan pemain dalam kondisi sulit. Dalam kejadian seperti itu seharusnya UEFA memutuskan untuk menunda pertandingan, bukan menanyakan kepada tim dan pemain untuk mau melanjutkan pertandingan atau tidak.

Para pemain Denmark dalam kondisi psikologis yang tertekan setelah melihat apa yang dialami Eriksen. Mereka tidak dalam kondisi yang siap untuk melanjutkan pertandingan. Semua perhatian dan pikiran tersedot pada momen yang begitu menakutkan. Denmark akhirnya harus menelan pil pahit kedua dengan kalah 0-1 dari Finlandia. Perjalanan mereka semakin berat setelah kemarin dipaksa menyerah juga 1-2 oleh Belgia.

 

 

Penentuan Jerman

Sepekan bergulirnya Piala Eropa sudah meloloskan tiga negara melaju ke 16 Besar. Italia menjadi tim pertama yang memastikan mendapat tiket ke perdelapan final setelah mencatat kemenangan kedua 3-0 atas Swiss. Belgia mengikuti dengan menundukkan Denmark 2-1, serta Belanda yang mengalahkan Austria 2-0.

Sabtu malam ini menjadi partai penentuan bagi juara tiga kali Jerman untuk bisa lolos ke 16 besar. Setelah kekalahan 0-1 dari Prancis, Die Mannschaft harus mengalahkan juara bertahan Portugal.

Pelatih Joachim Loew mencoba bereksperimen dengan memainkan gaya Chelsea 3-4-3 saat bertemu Prancis. Persoalannya, Jerman tidak memiliki dua gelandang di tengah yang mempunyai kemampuan bertahan yang baik. Toni Kroos dan Ilkay Guendogan mempunyai karakter sama sebagai gelandang serang.

Joshua Kimmich dan Robin Gosens yang ditugaskan berperan ganda sebagai bek sayap dan gelandang sayap, tidak optimal dalam menjalankan tugas. Kimmich, bahkan tidak memiliki kecepatan untuk menahan gerakan penyerang andalan Prancis Kylian Mbappe. Berulang kali Kimmich ketinggalan lari, apalagi Matthias Ginter juga tidak mampu menutupi kelemahan Kimmich sehingga berulang kali Mbappe bisa lepas dan mengancam gawang Manuel Neuer.

Malam ini Loew harus menemukan cara menutupi kelemahan di gelandang dan barisan belakang. Seperti halnya Prancis, Portugal mempunyai kecepatan, baik itu melalui Cristiano Ronaldo maupun Diogo Jota. Bayang-bayang kegagalan seperti di Piala Dunia 2018 akan semakin tampak apabila Jerman tidak mampu meraih kemenangan malam ini.

Pilihan yang bisa diambil Loew ialah kembali menerapkan pola 4-2-3-1. Lebih baik Kimmich dan Gosens ditempatkan sebagai bek sayap murni. Posisi center-back diberikan kepada Mats Hummels dan Antonio Ruediger. Posisi double six bisa diserahkan kepada Leon Goretzka dan Ilkay Guendogan yang terbiasa bermain seperti itu di klubnya.

Pekerjaan lain yang harus dibenahi ialah di barisan depan. Jerman tidak memiliki ketajaman. Pilihan terbaik menempatkan Kai Havertz sebagai ujung tombak dan Thomas Mueller sebagai second striker. Posisi penyerang sayap diberikan kepada Serge Gnabry dan Leroy Sane yang sangat efektif memainkan peran itu di Bayern Muenchen.

Portugal yang harus mereka hadapi malam ini bukanlah tim yang mudah untuk ditaklukkan. Tim asuhan Fernando Santos kali ini jauh lebih solid jika dibandingkan ketika menjadi juara pada 2016. Di belakang ada Ruben Dias dan Pepe sebagai palang pintu. Di depan mereka ada William Carvalho yang efektif sebagai breaker.

BERITA TERKAIT