22 February 2021, 08:05 WIB

Mendorong Persatuan Sepak Bola Ngada Lewati Batas Stadion


Ignas Kunda | Sepak Bola

NASIB Persatuan Sepak Bola Ngada (PSN Ngada) pascasanksi dari panitia disiplin Liga 3 Indonesia pada Desember 2019 belum diketahui pasti. Berbagai upaya pembelaan telah dilakukan secara resmi oleh manajemen maupun penggalangan dukungan di media sosial oleh suporter.

Namun, sampai sekarang tidak kunjung menemukan titik terang.
Pengurus PSN Ngada, Kletus M Gabhe, menjelaskan kondisi terakhir klub tersebut dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Yayasan Arnoldus Wea dengan tajuk PSN Ngada: Unfinished Story pada Minggu (21/2).

"Informasi terakhir, kami tetap berada di Liga 3 Nasional," katanya setelah menceritakan awal kejadian, proses advokasi, hingga keputusan akhir PSSI. "Sebenarnya kalau tidak ada covid-19, tahun 2020 kami sudah bisa bermain lagi."

Informasi tersebut tentu melegakan bagi seluruh Ngada mania (sebutan untuk pendukung PSN Ngada). Kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan lagi. Kekeliruan yang sudah lalu harus menjadi pelajaran berharga, sehingga bisa menata masa depan yang lebih baik.

Bagaimana model pengembangan PSN Ngada selanjutnya?
Yayasan Arnoldus Wea bersama tim yang berada di bawah naungannya memprakarsai wadah diskusi virtual lewat plaform Zoom untuk menjawab tantangan tersebut. Pertemuan yang dihadiri Ngada mania ini dimaksudkan untuk mengindentifikasi berbagai persoalan dan menjaring gagasan sebagai jalan keluarnya.

Founder Yayasan Arnoldus Wea, Arnoldus Wea, menjelaskan gambaran umum diskusi bermuara pada gagasan yang rinci dan komprehensif, tentang pembangunan olahraga sepak bola, khususnya PSN Ngada. Cakupan isu mulai dari penataan sisi manajerial hingga titik paling bawah, seperti urusan penjualan tiket.

Salah satu gagasan yang disampaikan Arnoldus Wea pada sesi pembuka kegiatan tersebut yaitu sepak bola tidak sekadar urusan olahraga semata, tetapi juga ikut menumbuhkan ekonomi mikro di tengah masyarakat. Sepak bola juga merupakan bisnis karena dapat dikolaborasikan dengan pariwisata dan bidang pembangunan lain di daerah.

"Bagaimana  PSN menjadi contoh pembangunan sepak bola di Ngada dan NTT pada umumnya. PSN bukan hanya milik orang Ngada, tapi sudah jadi milik orang NTT pada umumnya," kata Arnoldus yang juga penggagas Gerakan Dhegha Nua tersebut.

Setelah sesi pembuka tersebut, tampil pemantik diskusi utama yang lain seperti Daud L Bara, Hancel Goru Dolu, Patrick Nay Neta, dan Mursina Wahyuningsih Daeng sebagai perwakilan suporter. Diskusi terus berkembang dengan berbagai tanggapan dan masukan dari peserta yang lain.

Ada tokoh senior yang pernah mendengar dan menyaksikan langsung perkembangan sepak bola di Ngada. Begitu pun para pendukung, mantan pemain, perwakilan pemerintah, Ultras Ngada, dan pecinta Laskar Jaramasi lain. Secara umum peserta menunjukkan rasa bangga kepada PSN Ngada. Semua menginginkan klub ini terus eksis dan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Topik yang dibahas  masing-masing peserta sangat beragam. Demikian pula dengan solusi yang ditawarkan. Jika dikelompokkan secara garis besar, tema-temanya mencakup beberap isu berikut ini.

Pertama, manajemen klub masih dianggap kurang profesional. Perlu perekrutan tenaga yang berkompeten dan tepat sasaran sebagai pengelola klub selanjutnya. Begitu juga pengurus PSSI tingkat dasar, dalam hal ini Asosiasi Kabupaten Ngada. Right man in the right place harus menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar lagi.

Kedua, proses perekrutan dan pembinaan atlet sepak bola selama ini belum tertata dengan baik. Selanjutnya perlu dibuatkan turnamen atau kompetisi yang rutin, sehingga mudah menemukan bibit pemain sepak bola masa depan. Selain itu, pembinaan berdasarkan jenjang umur tertentu harus segera dijalankan.

Ketiga, masalah pendanaan yang selama ini lebih banyak dibebankan pada APBD Pemkab Ngada. PSN Ngada tidak bisa terus-terusan berharap kepada pemerintah. Klub memiliki potensi untuk mendatangkan penghasilan sendiri. Misalnya, dengan menjual jersei atau aksesoris klub lain, menjadi tuan rumah turnamen tertentu sehingga mendapatkan uang dari penjualan tiket pertandingan, mencari sponsor, dan bentuk usaha lain.

Anton Resi juga yang mewakili Bupati Ngada mengatakan harus ada perombakan manajemen pengurus sepak bola secara total, menata sistem pembinaan secara berjenjang, dan mengalokasi anggaran yang cukup. Sebagai penutup Arnoldus Wea berjanji segera menggerakkan timnya untuk merangkum semua hasil diskusi secara tertulis. Laporan terstruktur ini akan menjadi bahan kajian bersama lagi sebelum ditetapkan sebagai grand design yang matang. (OL-14)

BERITA TERKAIT