23 January 2021, 13:55 WIB

Misi Penyelamatan Klaas-Jan


Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola

SCHALKE pantas bersyukur memiliki pemain seperti Klaas-Jan Huntelaar. Ia memilih untuk meninggalkan Ajax Amsterdam demi membela klub lamanya, Schalke. Klub Jerman itu memang membutuhkan pertolongan karena berada di ujung degradasi.

Tidak terbayang klub yang begitu disegani, kini berada di peringkat buncit klasemen sementara Bundesliga. Bahkan dengan FC Koln yang berada dua tingkat di atas mereka, Schalke tertinggal delapan poin.

“Ajax relatif aman di Eredivisie. Schalke yang membutuhkan bantuan. Saya memilih untuk kembali ke Schalke karena saya harus ikut menyelamatkan mereka dari ancaman degradasi,” kata pemain asal Belanda itu tentang keputusan besar yang diambilnya.

Huntelaar merasa terpanggil untuk kembali karena ia pernah menjadi bagian dari Schalke. Selama tujuh musim dari 2010 hingga 2017, ia membela ‘Tim Biru’. Dari 240 kali penampilan untuk Schalke, ia menyumbangkan 126 gol.

Memang, umur Huntelaar tidak muda lagi. Ia kini sudah memasuki usia 37 tahun. Meski demikian, ia masih dikenal sebagai mesin gol yang produktif dan memiliki insting mencetak gol yang masih sangat kuat.

“Kami harus memenangi setiap pertandingan ke depan dan harus bisa mencetak gol sebanyak mungkin agar bisa naik peringkat klasemennya,” ucap Huntelaar.

“Saya ingin menjadi bagian untuk bisa bangkit lagi. Schalke harus tetap berada di Bundesliga dan tanggung jawab semua pemain untuk bisa tetap membawa klub berada di sana,” ujarnya lagi.

 

Menghadapi Muenchen

Misi besar yang harus dijalani Huntelaar tidaklah mudah. Besok malam, tidak tanggung-tanggung ia harus langsung membela Schalke berhadapan dengan raksasa Bundesliga, Bayern Muenchen, di Veltins-Arena.

Meski tampil di kandang sendiri, bukan jaminan Schalke akan bisa menang. Rabu malam mereka dipaksa menye rah 1-2 oleh FC Koln di Veltins Arena. Sebuah kekalahan yang bukan hanya menyakitkan, tetapi juga membenamkan mereka sebagai juru kunci klasemen sementara Bundesliga.

Satu yang bisa membedakan Schalke besok malam ialah Royal Blue kini memiliki dua ujung tombak andalan. Bahkan menariknya, kedua ujung tombak ini mewakili generasi yang berbeda. Huntelaar mewakili generasi gaek, dan satu lagi, Matthew Hoppe, usianya setengah umur Huntelaar.

Hoppe menjadi perhatian pengamat sepak bola karena mencuat sebagai instant hero. Dalam tiga penampilan terakhir untuk Schalke, pemain berusia 19 tahun ini mencetak lima gol. Ia mulai disebut-sebut sebagai Robert Lewandowski muda.

Saat membawa Schalke meraih kemenangan satusatunya di musim sekarang ini, Hoppe bahkan mencetak hattrick. Ia menjadi pemain AS pertama yang bisa mencetak tiga gol dalam satu pertandingan di Bundesliga.

Pelatih Schalke, Christian Gross, berharap duet Huntelaar dan Hoppe akan membuat produktivitas timnya menjadi lebih tinggi. Ia pun bisa kembali memainkan pola 4-4-2 agar bisa menopang pergerakan dua ujung tombak andalan.

Dengan Mark Uth dan Amine Harit yang bermain sebagai gelandang sayap, sangat diharapkan bola-bola silang banyak disuplai untuk Huntelaar dan Hoppe. Sementara tugas mengawal lapangan di tengah diserahkan kepada gelandang asal Prancis, Benjamin Stambouli, dan pemain nasional Jerman, Suat Serdar.

Gross sangat berharap anakanak asuhannya tampil dengan penuh percaya diri. Mereka tidak boleh gentar oleh nama-nama besar di kubu Bayern. Dengan Joshua Kimmich dan Leon Goretzka yang menjadi jangkar di lapangan tengah, memang tidak mudah bagi pemain tuan rumah untuk memenangi pertarungan di lapangan tengah.

Belum lagi di belakang, FC Hollywood memiliki empat serangkai yang semakin solid, yakni Jerome Boateng dan David Alaba sebagai duet center back, serta Benjamin Pavard dan Alphonso Davies yang menjaga bagian sayap. Gegenpressing yang diterapkan pelatih Hans-Dieter Flick membuat tim lawan selalu sulit mengembangkan permainan.

Belum lagi kiper Manuel Neuer yang mampu menjadi sweeper. Sebagai pemain belakang kelima, Neuer sering mampu mematahkan ancaman dari tim lawan. Tidak usah heran apabila kapten kesebelasan Jerman itu mampu menyamai rekor seniornya, Oliver Kahn, yang 196 kali tidak pernah kebobolan.

 

Jangan kebobolan

Tugas paling berat yang dihadapi Schalke besok malam ialah jangan sampai kebobolan, apalagi kalah. Ini merupakan pekerjaan yang hampir mustahil karena Bayern memiliki begitu banyak pemain yang bisa mengancam gawang Ralf Farhmann.

Memang bukan hanya ‘Lewangolski’ yang bisa menjadi ancaman, melainkan juga Thomas Mueller yang selalu menjadi second striker. Di sayap, Bayern mempunyai dua penyerang yang sangat licin, yakni Leroy Sane dan Serge Gnabry.

Bayern tidak keliru disebut sebagai FC Hollywood karena bukan hanya itu pilihan yang bisa diturunkan Flick. Ia masih memiliki Kingsley Coman dan Douglas Costa yang bisa menjadi pemain pengganti. Die Roten juga memiliki pemain muda yang penuh harapan, Jamal Musiala.

Kehadiran pemain asal Bosnia, Sead Kolasinac, diharapkan bisa memperkukuh barisan pertahanan Schalke. Pemain yang baru ditarik dari Arsenal ini akan bertugas untuk mengawasi gerakan penyerang sayap Bayern, Sane.

Tugas tidak kalah beratnya harus dipikul Matija Nastasic dan Ozan Kabak. Mereka harus jelas pembagian tugasnya untuk mengawasi gerakan tanpa bola dari Lewandowski dan Mueller karena keduanya mengawal jantung pertahanan.

Satu lagi yang juga harus waspada dalam menjalankan tugasnya ialah bek kanan Timo Becker. Baik Gnabry, Koman, atau Costa yang akan ditempatkan di sayap kiri bisa membawa malapetaka apabila dibiarkan bebas untuk bermain.

Meski sangat dominan sehingga sudah delapan kali berturut- turut menjuarai Bundesliga, Bayern bukan tidak memiliki kelemahan. Mereka bisa juga lengah dan terbukti pernah dikalahkan Borussia Moenchengladbach 2-3 meski sempat unggul dua gol.

Schalke pantas berharap pelatih Flick menurunkan Niclas Sule untuk mengisi posisi center-back. Pemain ‘raksasa’ Bayern Muenchen ini sering terlambat untuk balik badan ketika harus menghadang wallpass lawan. Operan cepat satu-dua yang bisa dimanfaatkan Schalke untuk mencuri kemenangan.

Sebagai pemain kawakan, Huntelaar pasti paham bagaimana mencuri kesempatan. Apalagi jika ia mampu menyuntikkan lagi kepercayaan diri kepada Hoppe untuk membuktikan bahwa pemain muda Schalke itu bisa menyamai ujung tombak andalan Bayern Muenchen, Lewandowski. Kali ini Schalke butuh mukjizat agar selamat dari degradasi.

BERITA TERKAIT