11 April 2020, 06:43 WIB

Sadio Mane, Buatan Senegal


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group |

SENEGAL, negara paling barat di Benua Afrika, merupakan negara yang mempunyai sejarah panjang. Sejak abad ke-15, mereka mengalami
penjajahan dari satu negara Eropa ke negara Eropa lainnya. Masa kelam itu bahkan ditandai dengan perbudakan yang meruntuhkan harga diri bangsa itu.

Pulau Goree yang terletak tidak jauh dari ibu kota Dakar menjadi saksi sejarah perjalanan kelam bangsa Senegal dan bangsa Afrika. Bagaimana anak-anak muda yang mempunyai tinggi badan yang ideal digembleng fisiknya dan diberi makan yang cukup di Pulau Goree. Setelah itu mereka ‘dijual’ sebagai budak ke Benua Amerika.

Baru pada 1860, Prancis melarang adanya perbudakan dan bangsa Senegal terbebas dari penderitaan. Namun, baru satu abad kemudian, Senegal benar-benar bisa menjadi sebuah negara yang merdeka.

Tidak usah heran apabila kemiskinan menjadi bagian dari kehidupan bangsa Senegal. Salah satu yang merasakan kemiskinan itu ialah pemain sepak bola terbaik Afrika 2019, Sadio Mane.

Dalam film pendek berjudul Sadio Mane, Made in Senegal, bintang Liverpool itu menceritakan kemiskinan yang ia hadapi saat kecil. Bagaimana ayah yang sangat ia cintai harus meninggal karena tidak ada rumah sakit di kampung halamannya di Bambali.

“Ketika itu saya masih berusia 7 tahun,” ujar Mane dalam film pendek itu. “Saat saya sedang bermain di lapangan, sepupu saya datang berlari sambil berteriak-teriak, ‘Sadio, ayahmu meninggal. Ketika itu saya hanya menjawab: Ah kamu bercanda?’ Saya sebenarnya tidak mengerti juga apa yang sebenarnya terjadi.”

Mane menceritakan ayahnya ketika itu memang sakit. “Sekitar seminggu ia terbaring di tempat tidur,” katanya kepada The Guardian.

Biasanya ketika sakit, ayahnya hanya dibelikan obat tradisional. Sekitar tiga atau empat bulan biasanya membaik, tetapi kemudian kambuh kembali.

Membangun RS

Mane merasakan betul kehangatan yang selalu diberikan sang ayah kepada dirinya. Ayah Mane merupakan seorang imam di Bambali. Sampai sekarang banyak orang yang masih membacakan Alquran untuk almarhum ayahnya.

“Ketika saya kecil, ayah saya selalu berkata betapa bangganya ia kepada saya,” kenang Mane. “Ia seorang yang berhati besar. Ketika ayah meninggal dunia, benar-benar merupakan kehilangan bagi saya dan keluarga. Saya kemudian berjanji untuk melakukan yang terbaik guna menolong ibu saya dan saudara saya. Namun, sebagai anak yang baru berusia tujuh tahun ketika itu, apa juga yang bisa saya lakukan?”

Ternyata Tuhan selalu memberikan jalan kepada makhluk ciptaan-Nya. Dua dekade setelah peristiwa itu, Mane mampu membangunkan sebuah rumah sakit bagi warga Bambali. Ia berharap enam bulan mendatang, pembangunan rumah sakit itu selesai sepenuhnya.

Setahun yang lalu, Mane kembali ke kampung halamannya untuk membangunkan sebuah sekolah. Ia berharap sekolah itu bisa menjadi tempat belajar bagi anak-anak di Bambali sehingga mereka bisa mengejar cita-cita mereka.

Apa yang melatarbelakangi Mane melakukan semua itu? Pemain kesayangan pendukung Liverpool itu tidak ingin melihat orang bernasib
seperti ayahnya yang tidak bisa ditangani ketika sakit karena tidak ada rumah sakit di kampung halamannya.

“Bank Dunia mengatakan Provinsi Sedhiou tempat saya tinggal ini 70% warganya hidup dalam kemiskinan. Saya tidak menampik semua itu karena adik saya pun lahir bukan di rumah sakit,” kata Mane.

“Kenyataan ini tentu merupakan sesuatu yang sangat menyedihkan bagi semua orang. Sekarang saya membangunkan rumah sakit di sini sekadar untuk memberi harapan kepada banyak orang,” tambah pemain andal an tim nasional Senegal itu.

Harus sekolah

Satu lagi yang menjadi harapan Mane ialah banyaknya anak-anak Senegal yang bisa mengecap pendidikan formal. Ia tidak ingin mereka bernasib seperti dirinya, yang tidak pernah menjalani pendidikan formal.

“Saya orang yang lari dari rumah karena tidak mau sekolah. Saya merasa bahwa saya tidak punya kemampuan untuk mengikuti pendidikan sekolah dan hanya ingin menjadi pemain sepak bola,” kata Mane yang juga mendonasikan 40 ribu pound sterling kepada pemerintah Senegal untuk menghadapi virus korona.

Bersama teman bermainnya, Luc Djiboune, Mane kemudian pergi ke Dakar saat masih berusia 15 tahun. Ia sempat merasa berat karena tidak ada orang yang mendukung keinginannya. Satu yang membuat Mane berbuat nekat hanyalah keyakinannya bisa menjadi pemain sepak bola yang hebat.

Ia merasa bersyukur kemudian bertemu dengan Mady Toure yang merupakan pemilik sekolah sepak bola Generation Foot Academy. Mane menyebut Mady Toure sebagai orangtua kedua karena membukakan jalannya sebagai pemain besar sepak bola.

Mady Toure melihat bakat besar pada diri Mane ketika ia mencetak empat gol dalam sebuah pertandingan uji coba. Itulah yang membukakan jalan bagi Mane untuk bisa bergabung dengan klub Prancis, Metz, pada 2011. Hanya 18 bulan di klub itu, Mane ditarik Red Bull Salzburg, Austria, karena penampilan gemilang saat ikut membawa Senegal lolos hingga perempat final Piala Afrika. “Saya merasa bersyukur bahwa kesungguhan saya akhirnya meluluhkan hati ibu saya. Ia kemudian mendukung penuh saya sebagai pemain sepak bola.”

Pada 2014, ia sebenarnya sempat dilirik Juergen Klopp untuk ditarik ke Borussia Dortmund. Namun, Mane gagal bergabung ke salah satu klub papan atas Bundesliga itu karena saat bertemu menggunakan ‘topi bisbol’.

“Saya ketika itu dianggap lebih cocok menjadi rapper,” ujar Mane mengenang ‘penolakan’ Klopp untuk bergabung dengan Dortmund. “Saya mau bilang apa karena saya merasa inilah gaya hidup saya. Namun, saya berjanji kalau ada kesempatan lagi bertemu, saya akan tunjukkan siapa diri saya.”

Dua tahun setelah itu, Klopp benar-benar jatuh hati kepada Mane. Dia mempersembahkan empat gol bagi Southampton saat tiga kali berhadapan dengan Liverpool. Mane pun menjawab kepercayaan Klopp dengan ikut mempersembahkan Liga Champions bagi Liverpool pada 2019 lalu.

Mane sangat mengagumi Klopp. Ia tidak pernah bisa melupakan momen tahun lalu ketika Liverpool harus berhadapan dengan Barcelona
di semifinal Liga Champions. Liverpool sudah kalah 0-3 di laga pertama dan harus tampil tanpa dua bintang andalan, Mohammed Salah dan Roberto Firmino.

“Satu yang membuat ia sangat spesial ialah ia tidak pernah berhenti untuk percaya kepada kemampuan tim,” ujar Mane. “Sebelum pertandingan dimulai, dia menyuntikkan semangat bahwa kami pasti bisa. Ia hanya meminta kami untuk memberikan kemampuan terbaik tanpa harus membebani.”

Kemenangan 4-0 atas Barcelona di Anfield tidak hanya membuat Liverpool mampu maju ke pertandingan final, tetapi di Madrid, kemudian the Reds mampu merebut piala untuk kelima kalinya.

Namun, dari semua itu, Mane lebih memimpikan anak-anak di Bambali bisa mengecap pendidikan yang baik. “Pendidikan itu paling utama. Kita akan bisa menjadi pemain sepak bola yang hebat apabila juga mempunyai pendidikan yang baik,” nasihat Mane kepada anak-anak di Senegal.

BERITA TERKAIT