Pesastra Hebat Tahan Dicela Atawa Diejek 

Ilustrasi: Paulo Ito 

MEMBICARAKAN Rusia tak akan terlepas dari lumbung literaturnya. Bahasa Rusia sangat kaya dan kompleks. Para penulis Rusia telah diakui secara luas di dunia oleh karena karya-karya mumpuni, terutama di zaman emas dan zaman perak. 

Sastra dapat membantu pembaca memahami budaya yang berbeda-beda dengan lebih mudah dan santai. Oleh karena itu, karya sastra adalah representasi sempurna dari negara tempat suatu karya ditulis. 

Karya-karya sastrawan besar di sana, seperti Alexander Pushkin, Mikhail Lermontov, dan Leo Tolstoy selalu menjadi rujukan bagi siapapun yang meminati sastra Rusia. Karya-karya mereka sudah banyak diterjemahkan ke pelbagai rumpun bahasa dunia sampai ini hari. 

Timbul pertanyaan dan kegelisahan saya: adakah karya sastra Rusia yang tidak populer semasa penulisnya hidup? Mengapa budaya dekat dengan pluralitas? Karya-karya sastra yang dulunya tidak populer semasa para penulisnya hidup, nyatanya kini diketahui secara luas. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menyimpan dualisme. Tergantung pada perspektif. Saya pikir ada banyak jawaban sehingga tak ada yang absolut. Persoalan sinkronis-diakronis memberikan kajian bahwa produk kebudayaan sebagai hakikatnya, yaitu karya sastra itu sendiri. 

Karya sastra sebagai produk kebudayaan menjadi legitimasi akan simbol peradaban. Sastra memberikan pemahaman dan menambah kekayaan intelektual dalam sebuah bangsa yang plural. 

Untuk memahaminya, saya merujuk dari berbagai kajian literatur kontemporer. Salah satunya riset yang pernah dilakukan oleh filolog Rusia Anna Valerievna Krechetova. Pada 2015, dia mengkaji tentang masalah seni dan sastra era 1860-1880. 

Selain itu, tentu saja, pengamatan pada karya-karya sastra yang kian dicetak kembali oleh sederet penerbit mayor. Lalu, dari kajian yang dilakukan Livelib, sebuah layanan rekomendasi buku terbaik di Rusia. Berikut ini tujuh karya sastra Rusia yang tidak terkenal semasa penulis-penulisnya hidup. 

 

Orang Miskin, Fyodor Dostoyevsky

Ketika novel pertama Fyodor Dostoyevsky (1821-1881) berjudul Orang Miskin, sebuah komedi yang kritis, dicela dan diejek oleh Anton Chekhov, maka terjalin komunikasi yang kuat di antara mereka. Berbagai kritik bersarang, namun membuat novel tersebut kian dikenal secara luas. Terutama, setelah Dostoyevsky berpulang ke pangkuan Sang Khalik. 

Novel Orang Miskin membawa Dostoyevsky menjadi tokoh penting. Ia begitu kuat mengusung tema tentang kemiskinan dan kebutuhan konstan yang menurunkan martabat seseorang. Terlepas dari tema tersebut, tanpa disadari telah memberikan kesempatan kepada banyak orang untuk saling peduli. Ya, tentang apa yang ada di sekitarnya, selain hanya untuk sekadar bertahan hidup. 

 

Cossack, Leo Tolstoy 

Berikutnya ialah novel Cossack karya Leo Tolstoy (1828-1910). Dia menulis dan merangkai alur cerita selama hampir 10 tahun. Tolstoy menciptakan bab pertama pada 1853. Cerita di novel ini sebagian besar tentang autobiografi sang penulis itu sendiri. 

Tolstoy menghabiskan lima bulan di Kaukasus dan menjalankan tugas di batalion artileri. Dia banyak berteman dan berkomunikasi dengan Cossack atau Bangsa Kazaki, orang Kristen Ortodoks Slavia Timur yang berasal dari stepa Pontic–Kaspia di Ukraina dan Rusia selatan. 

Melihat secara umum, novel Cossack menceritakan tentang kehidupan taruna Dmitry Olenin. Dia mengambil keputusan untuk pergi melayani ke desa Kazakov. Sesungguhnya, Olenin sudah merasa lelah dan jengah dengan kehidupan di Moskwa yang monoton. Baginya, Kaukasus dapat menjadi tempat menyenangkan dan membahagiakannya. 

Singkat cerita, Olenin bertemu dengan para tentara Kazaki di Kaukasus. Dia begitu mencintai kebebasan bangsa tersebut. Sayangnya, para tentara Kazaki tidak dapat menerima Olenin sebagai kadet dalam barisan. Alasan mereka cukup sederhana. Olenin orang kota yang tak dapat dipegang janjinya. 

 

Leshy, Anton Chekhov 

Pembaca sastra pasti tak asing dengan nama besar Anton Chekhov (1860-1904). Dari semua karya terbaik Chekhov, sebuah novel berjudul Leshy mendapatkan ejekan. Ini adalah komedi tentang kisah para rasul. 

Novel tersebut awalnya tidak dikenal sebagaimana karya-karya Chekhov lainnya yang telah dipentaskan ke panggung drama. Sebut saja Kebun Ceri, Tiga Perempuan Bersaudari, dan Burung Camar

Chekhov menulis Leshy pada 1889. Mengusung cerita nyata tentang seorang pensiunan bernama profesor Serebryakov. Setelah kematian istri pertamanya, Serebryakov menikahi seorang gadis muda nan jelita, Elena Andreevna. 

Bersama dengan istri kedua dan putri dari pernikahan pertamanya, Serebryakov pergi mengunjungi seorang sahabatnya bernama Zheltukhin di luar kota. Sejumlah rekanan mengetahui ketibaan sang profesor. Mereka pun berbondong-bondong datang menemui sang profesor kondang, itu. 

Novel Leshy tidak populer dan menuai banyak kritik. Chekhov pun menolak untuk diadaptasi dan dipentaskan di Teater Alexandrinsky, Saint Petersburg dan Teater Maly, Moskwa. Kritikus menilai bahwa komedi dalam karya tersebut menyerupai novel Dostoyevsky dan tidak menghibur. 

Chekhov mendapat celaan dan ejekan, namun dia sendiri tetap konsisten berkarya secara genius. Bahkan karya Chekhov berjudul Paman Vanya berhasil dipentaskan sebagai drama komedi. Paman Vanya mendapat sambutan yang luar biasa hingga kini dibandingkan Leshy

Saya pribadi telah menonton pementasan lakon Paman Vanya dan Kebun Ceri di Teater Maly. Begitu pula pernah diundang menjadi peserta pada X International Literary Festival Chekhov Autumn-2019 di Yalta, Krimea. Chekhov adalah tokoh hebat yang didewakan di tanah kelahirannya. 


Karya sastra adalah representasi sempurna dari negara tempat suatu karya ditulis. 


Natalia, Si Putri Boyar, Nikolai Karamzin 

Sebagai karya sastra, novel Natalia, Si Putri Boyar karya Nikolai Karamzin (1766-1826) adalah cerita sentimental. Karya ini tidak populer sebagaimana novel dia lainnya berjudul Lisa, Si Gadis Miskin. Karamzin menulis kedua prosa tersebut pada 1792 dan muncul bersamaan di sebuah majalah sastra di Moskwa. 

Natalia, Si Putri Boyar memiliki ujung cerita penuh bahagia (fin heureuse). Bertolak belakang dengan Lisa, Si Gadis Miskin yang sedih di akhir kisahnya (fin triste). Namun, kedua novel tersebut disajikan dalam cara yang sama seperti masa lalu yang menyedihkan dan sejarah yang terkait dalam pikiran penulis-narator di dalam novel. Itu membuat ada kemiripan akan sebuah keajaiban yang kadang-kadang pernah terjadi dalam sejarah. 

Plot Natalia, Si Putri Boyar memuat cerita nyata. Karamzin menulis tentang pernikahan kedua Tsar Alexey Mikhailovich dengan Natalia Naryshkina. Pada abad ke-17, uni anggota keluarga sangat berkuasa dan kaum bangsawan biasanya kerap diduga melakukan skandal. Namun begitu, pernikahan Alexey dan Natalia berhasil digelar. 

Nah, dalam alur cerita di novel tersebut, Karamzin sedikit mengubah jalan ceritanya. Natalia dikisahkan jatuh cinta bukan dengan tsar atau raja, melainkan dengan Alexey Lyuboslavsky, seorang pemuda biasa yang sering dipermalukan kaum bangsawan. 

 

Malam Mesir, Alexander Pushkin 

Siapapun yang menyukai puisi pasti mengetahui nama Alexander Pushkin (1799-1837). Dia adalah Bapak Sastra Rusia. Malam Mesir  adalah satu-satunya karya Pushkin di mana prosa begitu erat dengan puisi. 

Pada awal abad ke-19, gaya ini dianggap inovatif. Pushkin tidak sempat menyelesaikan ceritanya. Pertama kali Malam Mesir diterbitkan di majalah Sovremennik pada 1837, setelah kematian sang penyair. 

Kaum akademis dan kritikus sastra di Rusia masih mencoba untuk merekonstruksi plot secara keseluruhan. Pasalnya, Pushkin hanya berhasil menulis Malam Mesir dalam tiga bab. Dalam karya tersebut, karakter utama dari cerita ialah penyair muda Charsky. Dia menyebut dirinya "Seniman Neapolitan". Untuk itu, Charsky meminta bantuan kepada seorang "teman" secara mistis agar menjadi terkenal. 

 

Vadim, Mikhail Lermontov 

Memahami karya sastra secara jernih dapat membuat seseorang menjadi lebih humanis. Meski begitu, novel Vadim adalah salah satu karya prosa dari Mikhail Lermontov (1814-1841) yang dinilai buruk di zamannya. 

Lermontov menulisnya ketika belajar di sekolah pada 1832-1834. Awalnya, judul buku ini tidak diketahui. Halaman pertama dalam naskah robek. Mendapati naskah tak utuh, filolog Pavel Viskovatov dan Innokenty Boldakov memberikan judul Vadim  untuk novel yang tak lengkap tersebut. 

Cerita mengambil tempat pada 1770-an, selama Pemberontakan Pugachev. Menurut cerita, si bongkok Vadim mendapat pekerjaan dengan pemilik tanah Boris Palitsyn. Sebagai tokoh pahlawan, dia memutuskan untuk membalas dendam. Ya, kepada pemilik tanah kaya yang di masa lalu merampas semua properti milik ayahnya. 

 

Lagu Kemenangan Cinta, Ivan Turgenev 

Setiap penulis menghadirkan karya di zamannya, namun pembaca yang menentukan dan menimbang untuk dibaca. Memberi apresiasi atau sebaliknya dibiarkan begitu saja. Karya lain yang tak begitu populer di eranya ialah Lagu Kemenangan Cinta. Adalah salah satu karya Ivan Turgenev (1818-1883). 

Novel ini termasuk dalam seri cerita misterius, yaitu Hantu, Mimpi, dan Klara Milich. Plot dari setiap buku menceritakan tentang peristiwa mistis. Turgenev mendedikasikan cerita itu untuk Gustave Flaubert (1821-1880), penulis dan tokoh realisme sastra Prancis. 

Lagu Kemenangan Cinta mendapatkan pengaruh Italia. Gaya penulisan Turgenev tidak terlepas dari pengaruh naskah-naskah tua yang dia baca di sana. Novel tersebut mengisahkan tentang dua sahabat, Fabius dan Mucius. Mereka saling bersaing untuk mendapatkan cinta seorang gadis bernama Valeria. Salah satu dari mereka dibantu oleh penyihir misterius. Tujuannya untuk meluluhkan hati sang pujaan hati. 

Turgenev sendiri menganggap cerita itu adalah "cahaya omong kosong", tapi kritikus memuji hal tersebut untuk gaya dan narasi puitis. Lagu Kemenangan Cinta menjadi dasar dari sebuah opera, balet, dan film di Rusia. Sayangnya, setelah Revolusi Rusia 1917, novel tersebut hampir dilupakan. 

Sesungguhnya, normal saja jika karya-karya sastra tidak terkenal semasa para penulis hidup. Pesastra bukan pesohor yang mencari popularitas. Hal yang membuat karya-karya itu mampu "berbunyi" adalah apresiasi dari masyarakat itu sendiri. Budaya membaca juga memiliki peran penting dalam sebuah negara beradab. 

Saya merasakan dan melihat sendiri bahwa masyarakat Rusia sangat menghargai karya sastra. Nama-nama besar seperti Dostoyevsky, Pushkin, dan Turgenev telah menjadi tokoh sejarah kesusastraan di sana. Begitu pula karya sastra telah menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari anak-anak sampai opa-opa. 

Keberadaan monumen Pushkin yang berdiri megah di Moskwa dan Saint Petersburg, misalnya, telah memberi arti sekaligus simbol tentang peradaban Rusia. Peranan sastrawan tidak terlepas dalam perjalanan sejarah bangsanya. Sastrawan-sastrawan hebat tahan dicela atawa dimaki sebab mereka menulis melampaui zaman itu sendiri. Saya pikir, memang selaiknya tidak hanya di Rusia, namun juga di Indonesia. (SK-1) 

 

Baca juga: Osip Mandelstam dan Kita
Baca juga: Sajak-sajak Shabrina Adliah
Baca juga: Menyelami Teori Puisi Rusia Abad ke-18

 

 

 

 


Iwan Jaconiah, penyair, editor puisi Media Indonesia, dan kurator antologi puisi Doa Tanah Air: suara pelajar dari negeri Pushkin, Pentas Grafika, Jakarta, 2022. Paulo Ito, seniman Brasil, karya muralnya pernah dipameran pada ajang internasional bertajuk Atmosphere di All-Russian Exhibition Center, Moskwa, Rusia, 2016 dan 2021.