Sajak-sajak Osip Mandelstam 

Ilustrasi: Andrey Bole 

Bantu Aku Tuhan 

Tuhan, bantu aku tegar ini malam:  
aku takut menjadi budak-Mu seumur hidup 
tinggal di Petersburg, namun serasa tidur di keranda. 

Januari 1931 

 

Perempuan Amerika 

Perempuan Amerika di usia dua puluh tahun 
harus berkelana sampai ke Mesir, 
melupakan sejenak kisah Titanic 
dan tidur di bawah tanah yang gelap. 

Di Amerika terompet berbunyi 
gedung pencakar langit memerah 
awan dingin sesekali menyenggol 
bibirnya yang lembut basah. 

Sedang di Louvre, putri samudra 
berdiri anggun bagai pohon poplar; 
ia hendak mengulum gula-gula 
dan memanjati puncak Acropolis. 

Tanpa memahami apa-apa 
ia membaca Faust di kereta 
penuh penyesalan bertanya 
mengapa Louis tak lagi berkuasa. 

1913 


Bach

Di sini paroki ialah anak-anak tanah 
mereka papan bukan gambar, 
di mana Sebastian Bach hanyalah angka 
yang muncul dalam kidung mazmur. 

Perselisihan apa?
di bar atau gereja yang riuh, 
bersukacitalah seperti Yesaya 
oh, Bach yang bijaksana! 

Kau penjinak yang tinggi moral, bukan?
paduan suara berkoar untuk cucu mereka 
bersemangat mendapatkan dukungan 
apakah kau masih mencari bukti? 

Suara mereka terdengar keras, bukan? 
enam belas sosok, tubuh-tubuh bergoyang 
hanya gerutu kudengar jelas di kuping 
oh, orang tua yang keras kepala! 

Pendeta Lutheran berkhotbah 
di atas mimbar hitam legam 
sementara lawan bicara marah 
dan mengganggu pidatonya. 

1913 

 

Tidak Benar 

Aku datang dengan menggotong obor 
jemari-jemari menuntunku ke gubuk; 
"Biarkan aku melihatmu terakhir kalinya, 
sebab peti mati telah tersedia di sini." 

Kau menyuguhkan semangkuk jamur asin 
yang diambil dari panci di bawah tempat tidur, 
sebagaimana disajikan bagi anak-anak 
menuangkan semangkuk kaldu panas bagiku 

"Makanlah," ujarmu. 
"Jika kurang, akan kutambahkan." 

Mendekati batas ambang, 
bahuku menempel dan mendekap tubuhmu. 

Kutu dan gurun, hening dan lumut  
sebagian kamar tidur bagai penjara... 
tak ada apa-apa, namun rapih dan nyaman 
aku sekarat di pangkuan sang ayah sarani. 

4 April 1931 

 

Aku goyah dan lelah dalam ketidakpastian, namun masih dapat menenangkan diri.  


Aku Menyukai Hawa Sejuk   

Aku menyukai hawa sejuk 
musim dingin tiba: aku adalah aku, 
sementara kenyataan adalah kenyataan. 

Pipi bocah memerah seperti senter 
penguasa menggiringnya untuk mengisi 
bahan bakar sebelum bergegas mengapung. 

Aku hidup bertengkar dengan dunia, 
keinginan menjadi infeksi perdamaian 
hidup dalam sangkar perak dan tersingkirkan. 

Kelopak mata berkedip dan berjatuhan bulu-bulunya, 
lalu terbang ke arus sungai yang mengalir lembut 
awan putih merendah ke kaki yang dilapisi sepatu bot. 

24 Januari 1937 


Kita Hidup Tanpa Merasakan Kehadiran Negara 

Kita hidup tanpa merasakan kehadiran negara, 
pidato-pidato terbungkam dalam sepuluh langkah, 
hanya cukup untuk separuh percakapan. 
Mereka mengingat para pendaki puncak Kremlin di sana. 
Jari-jari yang tebal, seperti cacing gemuk yang kepanasan 
kata-kata mereka, berbunga-bunga dan selalu saja benar. 
Saat tertawa, kumis mereka bagai kecoak 
dan sepatu bot mereka selalu bersinar. 

Di sekeliling, rakyat jelata berleher tipis 
dipermainkan atas dasar perikemanusiaan. 
Siapa bersiul, siapa mengeong, siapa merintih. 
Selalu mengekang dan menusuk dari belakang, 
seperti tapal kuda, dekrit menempa dekrit: 

Siapa di selangkangan, siapa di dahi, siapa di alis, siapa di mata. 
Apapun hukuman, kita tetap saja rasberi 
senantiasa setia berbunga di dada Ossetia. 

November, 1933 


Cukup Disimpan Saja 

Cukup disimpan saja: aku tahu 
sebab diriku ditakdirkan menjalani hukuman; 
tak pernah sembunyikan apa pun
tak punya rahasia tentang Muse... 

Sungguh aneh aku rasa kini 
tak bisa bernafas selega-leganya 
hanya menunggu sakramen kematian... 

Aku goyah dan lelah dalam ketidakpastian, 
namun masih dapat menenangkan diri: 
ini keputusan tak dapat kutarik kembali 
semoga keabadian berikut milikku sendiri! 
 
Akhir 1908 - Awal 1909 


 

Bacaan rujukan 
1] Mandelstam, O. E. Koleksi puisi-puisi dalam 4 jilid. Moskwa: Art-Business Center, 1993. 
2] Mandelstam, O.E. Shum vremeni (The Noise of Time). Leningrad: Vremia, 1925. 

 

 

 

 

 


 

 

Osip Emilyevich Mandelstam, penyair, lahir di Warsawa, Polandia, 14 Januari 1891 dan wafat di Vladivostok, Soviet Rusia, 27 Desember 1938. Mandelstam adalah salah satu pendiri Acmeism, sebuah gerakan sastra di antara penyair Rusia pada awal abad ke-20 yang ditandai dengan reaksi terhadap ketidakjelasan simbolisme dan gerakan futurisme. Ia belajar di Sekolah Tenishevsky pada 1900-1907. Pada 1908-1910, ia kuliah di Universitas Sorbonne, Paris, Prancis dan Universitas Heidelberg, Jerman. Di Paris, ia bertemu dengan penyair satu negaranya Nikolay Gumilyov sehingga terpengaruh gaya puisi Prancis, mulai dari epik Prancis kuno, Francois Villon, Charles Baudelaire, sampai Paul Verlaine. Pertama kali puisi-puisi Mandelstam muncul di media cetak pada 1908. Karya-karya awalnya sebelum 1912 begitu condong ke tema simbolisme. Beberapa buku kumpulan puisi berhasil diterbitkannya, yaitu Tristia (1922), Buku Kedua (1923), dan Batu (edisi ketiga, 1923). Buku-buku itu diluncurkan di tiga kota berbeda, yaitu di Petrograd, Moskwa, dan Berlin. Mandelstam wafat pada 27 Desember 1938 karena tifus yang dideritanya selama menjalani masa tahanan di kamp transit Vladperpunkt (Vladivostok). Semasa hidupnya, Mandelstam dianggap subversif karena melawan penguasa komunis Joseph Stalin (1878-1953). Nama baiknya kemudian direhabilitasi secara anumerta atas kasus yang dialaminya. Puisi-puisi Mandelstam di Sajak Kofe - Media Indonesia diterjemahkan oleh Iwan Jaconiah. (SK-1)