Mengajuk Zaman Keemasan Puisi Rusia

Ilustrasi: Adrian Volkov. Bidikan Terakhir A. S. Pushkin, 1869. (Museum Pushkin) 

ZAMAN Keemasan, sebuah istilah penting dalam sejarah sastra Rusia pada awal abad ke-19. Sebuah era ketika puisi beralih dari gaya klasisisme ke romantisme. 

Selama periode inilah, penulis dan penyair mengubah pakem perpuisian di sana. Mengajuk puisi dengan bahasa rendah sebagai bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Ada tiga nama populer yang muncul. Mereka ialah Vasily Zhukovsky (09 Februari 1783 - 12 April 1852), Alexander Pushkin (6 Juni 1799 - 10 Februari 1837), dan Mikhail Lermontov (15 Oktober 1814 - 27 Juli 1841). Bahasa puisi Rusia pun berubah secara dramatis lewat karya-karya mereka. 

Sebelumnya, para reformis Rusia abad ke-18 lebih dahulu memunculkan teori-teori. Pengaruhnya begitu kuat merambat ke puisi-puisi gaya baru. Artinya, Zaman Keemasan ditandai dengan pembentukan norma-norma melawan klasisisme Barat dalam sastra. 

Karya Pushkin, misalnya, dihargai karena kemurnian, kekayaan kosakata, dan kesederhanaannya yang cemerlang. Kejelasan bermula dari hasil perdebatan serius antara Pushkin dan para pendukungnya serta penganut klasisisme. 

Pushkin menjadi sasaran kritik paling keras. Bisakah salju menumpuk di karpet? Apakah diperbolehkan menggunakan pinjaman istilah-istilah asing ke dalam pidato Rusia? Dua pertanyaan ini selalu diperdebatkan di kalangan sastrawan semasanya. 

Bahasa puisi sehari-hari dan sederhana dapat dilihat jelas dalam karya Pushkin. Hal itu tanpa disadari bahwa Pushkin secara langsung menolak gaya puisi para pendahulunya. 

Selain Zhukovsky, Pushkin dan Lermontov, sesungguhnya ada juga sejumlah nama-nama lain. Sebut saja, Yevgeny Baratynsky (1800-1844), Konstantin Batyushkov (1787-1855), Denis Davydov (1784-1839), Nikolay Yazykov (1803-1846), Apollon Maykov (1821-1897), Fedor Tyutchev (1803-1873), dan Afanasy Fet (1820-1892). 

Tren paling signifikan dalam puisi Zaman Keemasan adalah romantisme. 

Mereka mengusung nilai inheren dari kekuatan spiritual dan kreatif manusia. Menggambarkan kerusuhan nafsu, keteguhan karakter, dan kekuatan alam. 

Untuk melihat secara mendalam gaya, bentuk, dan pesan puisi Zaman Keemasan, Media Indonesia menerjemahkan beberapa puisi penting ketiga tokoh paling berpengaruh. 

Pertama, karya Pushkin. Setelah lulus dari Lyceum, ia pindah ke Saint Petersburg pada 1817. Sempat pula terdaftar pada layanan Collegium Urusan Luar Negeri. 

Pushkin hidup bersama masyarakat sekuler. Ia mendalami sastra, menghadiri pesta dansa, dan menonton teater. Pada 1820, ia menyelesaikan buku puisi Ruslan dan Lyudmila. Itu menjadi karya besar pertamanya¹. Berikut petilannya. 

Ruslan dan Lyudmila 

Di bibir laut, pohon ek menghijau permai; 
Seutas rantai emas nampak di dekatnya: 
Baik siang maupun malam si kucing pandai 
Berjalan-jalan di sekitar lilitan rantainya; 
Ke kanan - lagu perlahan-lahan dimulai, 
Ke kiri - hikayat dongeng diceritakannya. 

***

Kedua, karya Zhukovsky yang legendaris, yaitu Doa Rusia (Tuhan Selamatkan Tsar) dan Laut (Elegi) yang tersohot ini². Kedua puisi Zhukovsky tersebut disajikan tanpa menghilangkan unsur, bentuk, dan makna. Berikut petilannya. 

Doa Rusia (Tuhan Selamatkan Tsar) 

Tuhan selamatkan Raja! 
Menjalani hari-hari penuh kejayaan 
Berikan umur panjang baginya di bumi! 
Selalu rendah hati penuh kemuliaan, 
Sebagai penjaga yang lemah,
Dan penghibur seluruh rakyat - 
Turunkan tali kasih-Mu! 

Selamatkan Kekristenan Rusia, 
Biarlah kerajaan harmonis senantiasa! 
Berdiam dalam pengharapan, semuanya 
Memang tak layak di hadapan-Mu! 

Oh takdir! 
Biarkan berkat tercurah penuh! 
Tuntun langkah memperjuangkan kebaikan, 
Memupuk kerendahan hati demi kebahagiaan, 
Berikanlah kesabaran di setiap penderitaan
Berkatilah tanah air kami! 

*** 

Laut (Elegi) 

Laut diam, laut biru, 
Penuh pesona kulihat jurangmu. 
Kau resah bercinta: bergelora; bernapas, 
Pikiranmu dipenuhi berbagai rasa cemas. 
Laut diam, laut biru, 
Mengungkapkan rahasia terselubung.
Apa yang menggerakkan dadamu mendekap luas?
Apa yang menghirupkan jantungmu mengalir tegang? 
Atau kenapa langit membuatmu terhempas 
Dari perbudakan duniawi yang berang? 
Kehidupan manis begitu misterius, 
Kau murni di khalik agung: 
Birunya cahaya tertuang, 
Sinar pagi dan sore terbakar, 
Kau membelai awan emasnya 
Gembira ria bintang-gemintang. 
Kapan awan gelap melengkung, 
Untuk mengusap langit cerahmu - 
Memukul, melolong, menggelombang, 
Menyapu, dan mengoyak sekawanan kabut... 
Hingga awan pun terlenyapkan, 
Namun, masa lalu penuh kecemasan,
Perlahan meningkatkan deburan ketakutan 
Untuk waktu yang begitu panjang, 
Langit pun kembali cemerlang 
Tanpa mendatangkan keheningan; 
Paras parasaanmu tampak menipu: 
Bingung sembunyikan tapal kematian, 
Aku mengagumi dan mengasihi laut biru. 

* * * 

Ketiga ialah Lermontov dengan karyanya berjudul Puji Syukur. Menghadirkan rasa penuh hormat bagi seorang kekasih atau seseorang yang begitu dipujanya. Berikut sajiannya tanpa menghilangkan pesan dan makna. 

Puji Syukur 

Untuk segala-galanya, aku menunaikan syukur: 
Bagi siksaan rahasia penuh nafsu, 
Air mata kepahitan, ciuman beracun, 
Untuk balas dendam musuh dan fitnah teman; 
Bagi jiwa yang panas, terbuang di padang tandus, 
Untuk semua yang tertipu dalam hidup... 
Atur saja secara wajar, mulai sekarang kau 
Tak perlu waktu lama mengucapkan terima kasih. 

*** 

Lermontov menulis puisi di atas pada 1840. Ini periode karya terakhir. Tak lama sebelum kematiannya pada 1841 lewat adu duel dengan Nikolai Martynov. Peristiwa serupa sebelumnya lebih dahulu menimpa Pushkin. Ia tewas setelah sebutir peluru milik Georges de Gekkern alias Dantes menancap di dadanya. 

Beberapa kritikus percaya bahwa Lermontov mendedikasikan karya Puji Syukur untuk salah satu kekasihnya. Memang, kata ganti "kau" dapat menunjukkan orang tertentu. Di lain sisi, sejumlah kritikus juga menganggap bahwa puisi tersebut ditujukan kepada dunia dan Tuhan.

Karya Lermontov semacam puisi doa pengampunan 

Ada hal menarik dari karya-karya Lermontov. Ternyata, sejumlah puisi dan prosa dalam buku Masquerade yang juga berisikan puisi Puji Syukur itu pernah dilarang penguasa. Karyanya tidak lolos sensor dan baru dapat diterbitkan setelah kematian Lermontov³

Sesungguhnya, judul buku awalnya bukan Masquerade, tetapi Maskerad. Di salah satu edisi lain namanya adalah Arbenin. Buku tersebut dilarang karena "serangan" melalui puisi yang dinilai kurang ajar terhadap perempuan-perempuan bangsawan. 

Melalui Zaman Keemasan, puisi Rusia mendapatkan tempat terhormat di hati penduduknya. Penggunaan kata-kata merakyat dalam karya Zhukovsky, Pushkin, dan Lermontov telah menancapi ulu hati para pembaca sampai hari ini. Puisi mampu melampaui zamannya, termasuk kisah hidup para tokoh yang berakhir secara tragis dan heroik. (SK-1) 


Bacaan rujukan: 
1] M Glinka. Opera dalam Lima Babak. Moskwa: Penerbit Musik, 2004. 
2] V Zhukovsky. God Save the Tsar. Life and work, poems, ballads, poets. Moscow, 2001. 
3] M Lermontov. Masquerade: puisi klasik dan modern. Moskwa: AST Publishing Group, 2002. 


 

 

 

Iwan Jaconiah adalah penyair, editor puisi Media Indonesia, dan penulis buku Hoi!, sebuah kumpulan puisi tentang kisah diaspora Indonesia di Rusia.