Memaknai Lebaran Melalui Puisi

PERAYAAN hari-hari besar keagamaan di Indonesia sangatlah penting. Hari ini umat Muslim sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri. Dalam perjalanan perpuisian nasional, sejumlah penyair memiliki cara tersendiri untuk memaknai hari kemenangan tersebut. 

Penyair Sitor Situmorang (1923-2014), misalnya, pernah menulis sebuah karya berjudul Malam Lebaran. Ia seorang Batak tulen yang piawai menuangkan ide cemerlang sebagai upaya menjaga toleransi di zamannya. Ia berkarya sampai akhirnya berpulang di Belanda. 

Puisi tersebut terdapat dalam buku Dalam Sajak (Pustaka Jaya, 1955). Sitor menulis puisi terpendek itu beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri pada 1954. Berikut petikan sajak Malam Lebaran. 

Bulan di atas kuburan 

Selain itu, pernyair KH A Mustofa Bisri atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Mus juga pernah menulis puisi berjudul Selamat Idul Fitri. Puisinya bertemakan kehidupan manusia dan alam semesta. Sangat populer di setiap perayaan Lebaran. 

Gus Mus sangat apik dan lihai menuangkan ide cemerlangnya secara padat. Pada setiap bait-bait puisi mengandung pesan akan obyek yang ia alamatkan. Berikut petikan puisi Selamat Idul Fitri yang sering dibacakan dalam berbagai pertemuan, baik di desa maupun di kota. 

selamat idul fitri, bumi
maafkan kami
selama ini
tidak semena-mena
kami memerkosamu
 
selamat idul fitri, langit
maafkan kami
selama ini
tidak henti-hentinya
kami mengelabukanmu

selamat idul fitri, mentari 
maafkan kami
selama ini
tidak bosan-bosan
kami mengaburkanmu

selamat idul fitri, laut 
maafkan kami
selama ini
tidak segan-segan 
kami mengeruhkanmu

selamat idul fitri, burung-burung
maafkan kami
selama ini
tidak putus-putus
kami membrangusmu

selamat idul fitri, tetumbuhan
maafkan kami
selama ini
tidak puas-puas 
kami menebasmu

selamat idul fitri, para pemimpin
maafkan kami
selama ini
tidak habis-habis
kami membiarkanmu

selamat idul fitri, rakyat
maafkan kami
selama ini
tidak sudah-sudah 
kami mempergunakanmu. 

Mencermati dua puisi di atas ada pesan berbeda. Kita mempertimbangkan situasi pikiran manusia di alam, yang terbatas plastisitas dan beberapa saluran komunikasi dengan dunia luar. Setiap manusia memiliki ingatan, kekuatan sintesis, abstraksi, reproduksi, dan penemuan tertentu.

Singkatnya, setiap penyair memiliki pemahaman, namun kemampuan pemahaman akan berbeda-beda. Terutama, dalam membingkai gagasan tentang realitas ketika disilangkan oleh imajinasi. 

Pengalaman menentukan rasa dalam puisi yang diciptakan. 

Filsuf Spanyol George Santayana (1863-1952), lewat bukunya Interpretasi Sajak dan Religi mengatakan persepsi tidak selamanya tetap dalam pikiran. Ini seperti perumpamaan tentang lilin yang disegel dan lilin tanpa segel. Artinya, lilin yang disegel perlu dibuka dulu agar dapat dibakar atau dinyalakan, sedangkan lilin tanpa segel dapat langsung dinyalakan. 

Lewat dua puisi Malam Lebaran karya Sitor dan Selamat Idul Fitri karya Gus Mus, ada pesan dan makna religius berbeda dalam memaknai Lebaran. Kedua penyair tersebut berhasil menuangkan ide secara padat dan kuat. Menjadikan puisi sebagai senjata kata-kata dalam memaknai kehidupan. (SK-1) 

 

Baca juga: Sajak-sajak Ibnu Wahyudi

Baca juga: Kepingan Kebahagiaan oleh Abdul Kohar

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

Iwan Jaconiah, penyair, esais, wartawan Media Indonesia dan Metro TV. Peraih Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2015) dan Beasiswa Penuh Pemerintah Rusia (2015). Ia adalah pesastra Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya kumpulan puisi Hoi! (Terbit Press, 2020). Ilustrasi header: Syahnagra Ismaill