Sajak-sajak Ibnu Wahyudi 

Hujan Menjelang Petang

hujan menjelang petang
turunkan niat buat berperang
sebab dahaga seperti tiada
lapar lenyap begitu saja
puasa seperti tanpa rasa

itu kecongkakan, saudara
syukur harusnya yang utama
atau memahami maha-Nya
bukan kejemawaan dipelihara
sebab sombong itu durjana 

April 2022 


Sihir Sahur 

sihir sahur melipir cakrawala
terus menegur hati cadas 
malam bagai telaga peraduan 
dan mimpi tak lain bidadari 
gegas melintasi sadar diri 

maka dengkur pun terjaga
bercahaya atas nikmat maya
sebab yang kekal itu akibat
sehingga renik dunia dibebat
bagi nanti seperti misteri

April 2022 


Kuasa Puasa

kuasa puasa
menyiksa siapa saja
yang menjalaninya terpaksa

kuasa puasa
menyakiti dukana
yang biasa diumbar saja

kuasa puasa
menjeda laku nista
pun bagi yang biasa durjana

karenanya berpuasa itu bukan sekadar merasakan dahaga dan lapar

puasa juga
cara ukur dan tengok diri
bagi langkah lebih terpelihara

April 2022 

Baca juga: Sajak-sajak Remy Sylado


Masihkah Belum?

masihkah belum
ajakan merasakan itu menyapa
kelaparan dan kehausanmu?

bukan derita itu muaranya
tapi adalah busung dan pilu
yang menyergap mereka
berhari-hari tanpa menu
perih-perih mengadang cuaca
tanpa tetes air pun air mata

jadi sudahkah
tidak cuma jadi kerutinan
tapi ikut rasakan lolong duka?

April 2022 


Bersama Puasa

bersama puasa
kami mengunjungi warung
memintanya tetap buka
sebab alangkah rendahnya
menyerah oleh yang makan
atau yang minum

bersama puasa
kami tak layak manja
hanya rebahan diam saja
tanpa gerak yang bermartabat
yang tersisa adalah kesia-siaan
maka tiada guna suatu ibadat

memaksa liyan hormati kita
kerdil jiwa dan amat lata
nista sungguh pikiran demikian
pertanda kedegilan menyesatkan
yang mencuat dari sikap bedebah
isyaratkan sebagai umat setengah

April 2022 


Buka Puisi

buka puisi
ajak diksi yang manis-manis
biar perut kata tak nyeri
nyaman tanpa rasa ironis
karena masih ada puisi lagi
tak puasa seperti biasanya
tinggalkan sia-sia

puasa puisi
jangan dibiasakan lagi
hari perlu sekejap senyap
agar semua tak seperti lenyap
makna fana pun menyurut
maka ikat dia dengan nuansa
sebelum semua jelma kabut

April 2022 


Kolak Akhlak

kolak akhlak
mewujud berupa campuran
riuh tapi cuma melompong 
maka ruang harus diolah lagi
supaya hening jadi penting
yang ramai ciptakan permai
namun tetap sebagai kolak
mengisi lembar kekosongan
dengan komposisi akhlak
yang mustahak

April 2022 

Baca juga: Puisi Tak Pernah Selesai Ditulis 


Aku Ingin Menyahurkanmu

aku ingin menyahurkanmu
lantaran selalu ada alasan
untuk tidak menghayati laku
suka akan serba belakangan
dan tetap merasa paling benar

terus-menerus sebagai habitus
sejuta alasan bagaikan ritus

kusahurkan dirimu
demi kepahaman nomor satu
meski aku bisa saja tak acuh
kubiarkan kau terus luruh
maka terimalah ajakanku 
meski suaraku kini lebih sendu

April 2022 


Azan Terdengar

azan terdengar
minuman disambar
makanan terus disantap

sewaktu sahur
semua melebur ke perut
di tengah kantuk

lantas di mana niat
dan doa yang khusyuk?

April 2022 


Meja Telah Penuh

meja telah penuh
aneka rasa terhidang
tetap ada yang dianggap kurang
sebab sekian nuansa telah jenuh
dan ketika waktu buka usai
hidangan masih tepermanai

ternyata nafsu berkuasa
lupa bahwa ada batas nyata
yang maya memang menggoda
dan kita senang pelihara syahwat
pun atas kuliner yang lezat
menjauhkan dari hakikat

April 2022 

 

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

Baca juga: Mengingat Penyair Intojo di Hari Puisi Sedunia

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

 

 

 

 

Ibnu Wahyudi, penyair, dosen, dan kritikus sastra, kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 24 Juni 1958. Baru saja menerbitkan buku kumpulan puisinya ke-18 berjudul "Hujan Titik Titik", Penerbit Diomedia, Sukohardjo, April, 2022. Pendidikan sarjana dan pascasarjananya ditempuh di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (Sarjana dan doktor) serta di Center for Comparative Literature and Cultural Studies, Monash University, Melbourne, Australia (magister). Beberapa karya sastra sudah ia publikasikan, antara lain adalah Masih Bersama Musim (puisi, 2005), Haikuku (puisi, 2009), Ketika Cinta (puisi, 2009), Nama yang Mendera (prosa, 2010), Perjalanan Tubuh (puisi, 2013), Haikuya (puisi, 2013), Sihir Syair (puisi, 2013), Gumam Gurindam (puisi, 2013), Pantun Ramadan (puisi, 2013), Kesetiaan yang Ia Titipkan (prosa, 2013), 100 Hari Puisi (puisi, 2016), Setengah Perjalanan (puisi, 2016), Dari Negeri Ironi (puisi, 2016), Jejak Jarak (puisi, 2017), Kata Mata (puisi, 2017), Gurindam Kekinian (puisi, 2017), Dalam Pesona Sijo (puisi, 2017), Aku Haiku Kau (puisi, bersama Fryda Lucyana, 2017), Pada Suatu Haru (puisi, 2020), Membeningkan Cipta (puisi, 2020), dan Tentang Rindu (puisi, 2021). Selain itu, buku-buku sastra, kajian sastra, dan buku umum yang pernah disusun atau disuntingnya antara lain adalah Lembar-lembar Sajak Lama (1982), Pahlawan dan Kucing (1984), Konstelasi Sastra (1990), Erotisme dalam Sastra (1994), Menyoal Sastra Marginal (2004), Toilet Lantai 13 (2008), dan Ode Kebangkitan (2008), Mengendarai Pandemi dengan Empati (2021), dan Canda Ria ala Asrama (2022). Sehari-hari beraktivitas sebagai pengajar tetap di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, dan sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai diskusi, seminar dan simposium. Ilustrasi: Yopi Cahyono