Sajak-sajak Vito Prasetyo 

Ilustrasi: Moch Samba

Membaca Degradasi Hutan 

Menabuh rama pancarkan irama 
saat ruang menyatukan mimpi kita 
senandungkan garis-garis dedaunan 
seperti gerabah menghidupkan tanah 
menjelma badai yang semburkan luka 
di pesisir cakrawala, gunung pun cemas 

Waktu seakan merajut serpihan rindu 
serat angin searah di reruntuhan cahaya 
anak-anak masih menengadah ke langit biru 
mulutnya komat-kamit; entah, mungkin saja 
mengucapkan adonan semburan doa-doa 
matanya hitam tajam, menikam ufuk senja 
sementara kita berbaring di seluk sajak 

Tangan begitu kerdil ‘tuk menulis 
di musim paceklik, kududuk terlena 
bukankah mata kita terlalu sempurna; 
melukis keindahan langit dan matahari, 
menjadi sumbang, tak pernah ingkar hati 
menulis perjalanan siang, agar kita mawas  
mengimpikan malam dan merindukan rembulan 

Mari bakar mimpi-mimpi saat kebenaran serupa cahaya 

merintih perih di pelepah gelap-gulita 
membasuh reranting agar tak menguning 
sudut-sudut jalan berubah diri menjadi bingkai 

Anak-anak bercekit, coba 
mengerti arti setitik kebenaran 
di antara akronim yang menumpuk 
lalu-lalang aksara rasanya kian menjepit 
lahir dari rahim-rahim klasik menghimpit pikiran, 
terbuai arca digital bikin mereka bertanya-tanya; 
“Pada 2060, masih jauhkah kematian menghampiri?” 

Puisi bagai pusaran sihir 
takwilkan sitir empas teknologi 
napas-napas berbingkai emisi gas kaca 
seharusnya tanah-tanah kita juga bermimpi 
menghampar hutan di bebait kata dan koma 

Malang, 2021 

 

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia 

 

Prabu Brawijaya


Kemarin gundah, 
jauh membekap dirimu 
saat kemarau mengering 
singkat, jatuh basah di matamu 
catatanku bergentayangan sendiri 
memeluk genangan alur jejak cahaya 


Hari ini, jauh 
kusimpan gelisah 
tumbuh di kening ilalang 
rinai hujan berbisik keras 
tanah kering merindukannya  

Sepasang belalang terkejut 
belum sempat memagut embun 
saat musim kembali mengendap, 
bergegas dihempas seutas sinar, 
seorang petani meminjam puisiku: 
kapan padi-padi akan menguning? 

/
Esok, jauh 
dari telatah tidur 
perempuan berkebaya 
mengais di dapur, sulut api 
pandemi mengebat aura liar 
terlunta-lunta memaknai musim 
parodi sumbang duduk di trotoar 

Semua mendekap: ketidak-pastian 
titah seorang wali tak lagi terdengar 
hanya gesekan rebab, terngiang lembut 
menanti datangnya Sang Prabu Brawijaya, 
begitu lama ia berkelana di negeri seberang 


Biarkan zaman menulis 
lelara ini, isyarat tak tertulis 
buku menjadi kumpulan morfem 
terbungkus sebagai sampul lusuh 

Malang, 2021 


Museum Galaksi 

1/
Serumpun abjad mengayak langit 
terbaca frasa, mendekam di ingatan 
pikiran kita, tak pernah tuntaskan kalimat 

2/ 
Pagar membumbung langit 
jalan berarak, bercengkerama 
setubuhi halilintar di pucuk sinar 
yang kelak sempurnakan cemas 

3/ 
Langit serupa paragraf 
merekatkan tangis ilalang 
merepang dibuai gersang 
menggantung di atap buram 
tertatih menjajakan mimpi-mimpi 

Berbusana malam, 
tersulam benang lusuh 
dan abjad menyuguhkan 
morfem di piring-piring sajak 
serupa telatah diksi para kolonial 

4/ 
Kicau burung terkesima 
tinggalkan rindu di cawan zaman 
berderet, berbaris di irama neoklasik 
membatu di pengkolan surgawi dan 
tumpukan bebatuan mengukir arca 
menjelma gubuk rindu, tertuang aroma 
bulgaridi; musim panas dan kerak tanah 
mengucapkan salam, berbaring abadi 

aksara cinta pun tertulis di nisan 

5/ 
Mari kita bersulang 
penghentian masa samar 
saat rintihan hujan melesap; 
adalah kalimat-kalimat, memang 
tidak pernah tertuntaskan pengelana 

Kita biarkan riuh 
puisi membeku sunyi 
berkelana memenuhi jagat 
menyempurnakan doa-doa 
di museum galaksi 

Malang, 2021 

 

Baca juga: Iwan Jaconiah Berdonasi Lewat Karya
 

Di Sampul Digital 

Kebat kain lenan 
di tubuh perempuan 
serupa ikatan nan sakral 
menjamah tradisi zaman 
apa bedanya orang bertopeng 

memanggul bulan, dijadikan doa 
bersujud, meneteskan bulir di mata 

Mereka tak salah 
hanya mata selalu jalang 
seperti lentera terangi gelap 
serupa kepak kunang-kunang 
setitik cahaya merapal gelisah 
di atas terompah berjalan terseok
komat-kamit seperti seorang nabi 

hidup kesiangan di era serba digital 

angin menabuh rindang dedaunan 
memanjakan sekawanan burung; 
cengkerama dalam bahasanya 
lama tertulis di sehelai zaman, 
walau sebagian tak tercatat 

Meringkas makna, 
pupus terserat musnah 
morfem-morfem terbungkus 
sampul lusuh, tersisa berabad silam 
catatan babad tanah leluhur tak lagi dibaca

Bumi menyungsangkan panas 
arca dan stupa memimpikan hari
tak mampu menempuh perjalanan: 
era digital, berkelana atau bercabang 

Sebuah prasasti tegap berdiri
kaki-kakinya berjalan susuri waktu
tenggelam dalam peradaban baru 
sementara bocah bertelanjang dada
ingin menjemput impian peradaban lama 
mendung mengaburkan makna saat 
cemas satukan paras dua manusia 
tuk mengartikan khusuknya doa 
di antara barisan alas kaki; 
bakiak, terompa galuak, 
bangkiak, kasut kayu, 
dan gamparan 

Sesunyi ini, jiwa kita letih; 
bagai sepenggal morfem, terjaga dari mimpi 

Malang, 2021 


Di Jejak Doa 

Ragaku bagai selembar kain 
warna-warni melingkari mata 
mungkin esok kita beri bingkai 

Engkau menebar jaring 
di sudut senyum cahaya 
seakan menembus putihnya sinar 

Di jalan kita lalui 
pintu masih terkunci 
di sini tersimpan jejak 
tertinggal hanyalah bayangan 

Kita menyulam waktu, 
membangkitkan kenangan 
jubah yang pernah kau gunakan 
tak lagi menyisakan bayangan dirimu 
ingatan pun merapuh tergerus rinai hujan 

Aku menelisik kenangan 
puisi terbalutkan kain di tubuhmu 
selembar mimpi menggurat benakku 
warna gelap mengaburkan pandangan 
kau menjerit pelan di lubang kunci patah 
satu tubuh; memaku pena, mengukir rindu 

Hujan membasahi aksara 
yang tak lagi tersimpan rapi 
bayangan pun pupus dan sirna, 
mengaliri jalanan yang pernah dilalui 
malam membisikkan aroma kegelisahan 

Adalah labirin langit 
berjanji melumat tubuh 
menyisakan jiwa untukmu 
‘kau jadikan sayap pusara 
bila sajak kau kirim, bagiku itu doa 

Malang, 2021 

 

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

Baca juga: Sajak-sajak Dody Kristianto

Baca juga: Terawan dan Galileo

 

 

 


Vito Prasetyo, penyair, esais, dan cerpenis, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 24 Februari 1964. Karya-karyanya, baik puisi, cerpen, esai, maupun resensi, tersebar di sejumlah media massa lokal dan nasional. Pernah kuliah di IKIP Makassar dan menekuni dunia kepenulisan sastra sejak 1983. Peraih sejumlah penghargaan sastra, baik tingkat regional maupun nasional. Kini, berkegiatan dan beraktivitas di Malang, Jawa Timur.