Mati Demi Negara 

SEORANG penyair ternama Rusia, Vadim Terekhin, mengucapkan “selamat tinggal” bagi teman-temannya di dunia pertemanan Facebook secara mendadak. Ia adalah salah satu sosok ternama di Rusia. 

Lelaki kelahiran 27 Januari 1963 itu sangat toleransi. Ia selalu mendukung perdamaian di berbagai forum pertemuan penyair dunia. Sayang, kondisi perang Rusia-Ukraina membuat sedikit kerenggangan di antara sesama pesastra. 

Terekhin bijak dalam mengambil langkah. Ia menghindari ketidaksepahaman pemikiran di dunia maya. Salah satu cara, yaitu tidak menggunakan media sosial untuk sementara waktu. “Sampai jumpa teman-teman di platform media sosial lainnya,” tulisnya. 

Di lain sisi, seorang penyair asal Kiev, Ukraina, Tamara Bengesser, sedang sedu sedan pilu. Ia tetap menggunakan media sosial untuk mengabarkan katastrofe di negerinya. Ia merasakan langsung dampak buruknya perang. Begitu mencekam hari-hari ini. 

"Apakah kamu tahu hal yang paling terburuk? Sekarang kami akan memiliki generasi baru, anak-anak yang menulis puisi tentang perang. Mereka mengenalnya bukan dari buku teks pelajaran sekolah," ungkap Bengesser, lemas. 

Terekhin dan Bengesser merupakan dua sosok bersahaja. Saya mengenal mereka sejak pertemuan pertama kami di Yalta, Republik Krimea, tiga tahun silam. Pertemanan kami pun berlangsung erat sampai ini hari. 

Perang Rusia-Ukraina menjadi konflik geopolitik.

Apalagi, campur tangan Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) begitu jelas. Mereka berambisi untuk mendapatkan pengaruh di Ukraina. Kubu Barat telah beramai-ramai memberi sanksi terhadap Rusia atas invasi ke Ukraina. 

Sanksi, antara lain berupa penutupan jalur langit bagi penerbangan dari Moskwa ke sejumlah negara Barat. Penutupan The Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) dalam dunia perbankan. Pembatasan akses media sosial Facebook. Lalu, penutupan restoran siap saji asal Amerika di seluruh Rusia. 

Kendati demikian, hal itu tidak membuat panik sebagian besar rakyat Rusia. Malahan, mereka tetap bangga dengan menggunakan produk setempat. Sebut saja, mesin pencari mutakhir Yandex dan jejaring media sosial populer Vkontakte. Manfaat dan kegunaannya sama. Ya, aplikasi untuk mencari data dan bersosialisasi di dunia maya.

Untuk restoran makanan siap saji, sebenarnya Rusia juga memiliki restoran serupa. Mulai dari ponchik (donat), ayam goreng, sampai minuman soda lokal. Rusia bukanlah negara mungil seperti Singapura atau Belgia. Rusia adalah negara raksasa dengan perjalanan sejarah panjang dan kekuatan militer. Alasan invasi Rusia, cukup beralasan. Mereka ingin menyelamatkan penduduk di wilayah Donbas yang mayoritas berbahasa Rusia. 

Republik Rakyat Donetsk-Republik Rakyat Luhansk (RRD-RRL) yang pertama memohon dan meminta bantuan kepada Rusia untuk memerdekakan mereka dari Ukraina. Pihak RRD-RRL mengklaim telah terjadi genoside sejak 1992 di Donbas. Untuk itulah, Rusia pun menggelar Operasi Perang Khusus (simbol: Z). Invasi Rusia kian mendapatkan dukungan dari negara-negara pecahan Yugoslavia, seperti Serbia. 

Baca juga: Menanam Sel Kanker di Kievan Rus

Di kubu Ukraina, mantan Presiden Ukraina Petro Poroshenko menjadi berang. Ia ikut turun gunung membantu negaranya. Poroshenko bersama para tentara setianya menjaga sebuah kawasan di luar Kiev. Lokasinya sangat dirahasiakan seperti dilansir lewat sebuah wawancara khusus koresponden perang Alex Crawford dengan Poroshenko via Sky News, (7/3). 

“Rakyat Ukraina harus bersatu. Ini bukan perang Ukraina saja, namun perang terhadap nilai-nilai hidup kami. Juga terhadap seluruh Eropa, Amerika Serikat, dan Inggris Raya,” ucap Poroshenko yang masih berharap pada bantuan Barat. 

Walau menginvasi, Rusia juga turut memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Donbas. Bantuan itu berupa makanan, minuman, selimut, dan obat-obatan yang diantar dari Rostov-on-Don melewati perbatasan Ukraina-Rusia. 

Bagi Indonesia sendiri, patut kita berkaca pada sejarah hubungan Indonesia - Uni Soviet. Pada era 1960-an, para utusan Indonesia sempat bertolak ke Amerika Serikat untuk menggalang bantuan alat utama sistem senjata tentara (alutsista), namun tidak mendapatkan dukung ‘Paman Sam’. Akhirnya, para utusan pindah haluan ke Soviet Rusia atas perintah Presiden Sukarno. 

Bung Karno meminta bantuan ke Uni Soviet untuk merebut Irian Barat (Papua) dari genggaman Belanda. 

Tentu saja, Soviet Rusia mendukung Operasi pembebasan Irian Barat atau Operasi Trikora pada 19 Desember 1961 - 15 Agustus 1962. Tujuannya menggabungkan wilayah Irian Barat ke pangkuan Indonesia. 

Uni Soviet mendatangkan 3.000 tentara, 6 kapal selam, dan 3 Pesawat pembom strategis Tupolev Tu-95. Para tentara Indonesia juga mendapatkan pelatihan perang di Soviet Rusia. Ya, untuk mendukung tentara nasional yang profesional, kala itu. 

Puisi perang 

Rakyat, wilayah, dan pengakuan internasional menjadi modal. Itu sebagai awal bagi berdirinya sebuah republik. Dalam setiap perang selalu ada korban. Perang seakan menjadi jalan terakhir untuk mencapai tujuan. 

Saya coba melihat dan memaknai secara logis lewat sajak. Berikut ini sepenggal puisi latin karya penyair Romawi Quintus Horatius Flaccus atau yang lebih dikenal Horace (65 – 27 Sebelum Masehi). Puisi itu berjudul Aku

Dulce et decorum est pro patria mori: 
mors et fugacem persequitur virum
     nec parcit inbellis iuventae
     poplitibus timidove tergo.              

Virtus, repulsae nescia sordidae,
intaminatis fulget honoribus
     nec sumit aut ponit securis
     arbitrio popularis aurae.  
            

Terjemahan bebasnya; 

Sungguh indah, mati terhormat demi negara: 
kematian mengejar seorang buronan 
     dan tak membiarkan sang pengecut
     bertekuk lutut di hadapan pemuda yang penakut. 

Kebajikan, mengajarkan dan menolak yang kotor
bersinarlah kehormatan tak bercacat
     jangan mengambil atau menaruh kapak
     agar keinginan terbang bersama angin sepoi-sepoi. 

Saya pikir dua kuplet puisi Horace di atas sangat menarik. Menggambarkan tentang patriotisme. Seseorang rela berkorban bagi negaranya. Tidak penting urusan pribadi, melainkan urusan negara yang harus diutamakan terlebih dahulu. 

Dalam situasi peperangan, pantang mengatakan keburukan atau kejelekan negara sendiri. 

Presiden Vladimir Putin baru saja melakukan pertemuan dengan serikat pekerja perempuan perusahaan penerbangan Aeroflot di Moskwa Oblast. Itu dilakukan dalam rangka Hari Perempuan Sedunia 8 Maret. Putin menyatakan bahwa dalam situasi apapun harus tetap tenang. 

“Sekarang, orang-orang turun ke jalan dan protes. Ada orang-orang yang mengatakan sesuatu tentang Rusia. Ada yang suka dan ada yang tidak suka tentang tindakan kita di Ukraina. Kita berada di jalur yang sudah tepat untuk membantu (Donbas),” tutur Putin seperti dilansir Russia-24, awal pekan ini. 

Pada pertemuan itu, Putin lebih santai duduk dikelilingi para perempuan. Mereka berbincang-bincang sembari meminum teh di awal musim semi ini. Putin tidak hanya sangat menghargai pekerja perempuan, namun juga kesehteraan para sastrawan dan seniman di negerinya. 

Dalam kehidupan, puisi-puisi yang terlahir dari medan perang biasanya abadi. Kaum penyair-nasionalis selalu menulis puisi untuk menghormati para pahlawan bangsa di medan peperangan. Dalam sejarahnya, penyair Soviet Rusia Bulat Okudzhava (1924-1997) banyak menulis puisi perang, namun ia sangat menantang perang itu sendiri. 

Di Indonesia sendiri, kita mengetahui penyair Chairil Anwar. Ia pernah menulis sebuah puisi lawas berjudul Aku. Ada jiwa patriotisme yang disajikannya pada 1943 silam. Kiprahnya sebagai pesastra membawa Chairil sebagai tokoh ternama Angkatan 45. Berikut puisi Aku yang juga versi lainya berjudul Semangat. 

Kalau sampai waktuku 
'Ku mau tak seorang 'kan merayu 
Tidak juga kau 

Tak perlu sedu sedan itu 

Aku ini binatang jalang 
Dari kumpulannya terbuang 

Biar peluru menembus kulitku 
Aku tetap meradang menerjang 

Luka dan bisa kubawa berlari 
Berlari 

Hingga hilang pedih peri 

Dan aku akan lebih tidak peduli 
Aku mau hidup seribu tahun lagi! 

Setiap negara memiliki masing-masing penyair terhormat. Seorang penyair wajib menulis kebenaran dan kenyataan di zamannya. Puisi adalah bagian perjalanan sebuah bangsa besar. Puisi itu kehidupan.

Kata-kata yang ditulis menjadi bagian sejarah. 

Terekhin dan Bengesser menjadi dua tokoh teladan bagi saya. Negara mereka sedang berkonflik, namun tetap bijak. Mereka menulis puisi bagi negaranya masing-masing secara benar dan jujur. Keduanya menjadi saksi perjalanan perpuisian abad ke-21 ini. Puisi-puisi tetap ditulis walau air mata dan darah bercucuran deras. 

Sebagaimana Horace telah menulis puisi indah dan penuh makna berabad-abad silam. Itu terjadi dalam suasana perang. Melalui kata-kata Horace nan magis; Apabila seseorang mati untuk negaranya, maka itu adalah sesuatu hal yang manis dan indah. (SK-1) 

 

Baca juga: Jam Makan

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

Iwan Jaconiah, penyair, esais, wartawan Media Indonesia dan Metro TV. Peraih Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2015) dan Beasiswa Penuh Pemerintah Rusia (2015). Ia adalah pesastra Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya kumpulan puisi Hoi! (Terbit Press, 2020). Ilustrasi Kevin Bolliet.