Sajak-sajak Putri Sekar Ningrum 

Membuku Beku 

Sayang, 
semalam bulan bergaris 
tersenyum tipis begitu manis
bak kau nan jauh, terasa magis 
di sini; aku sendiri menujum tangis, 
dunia kian teriris dalam pasung bengis 

Sayang, 
cepatlah pergi 
diaroma bergerigi; 
mengartikan, menganalogi, 
membiasakan hidup sebagai antalogi 

Sayang, 
sepasang bayang-bayang 
bersinar serupa kunang-kunang 
binar mata terkenang, tertutup maha tenang 

Sayang, 
aku masih rindu 
kata memburu waktu; 
haru, sendu, dan kian pilu 
merapal sumpah agar tak semu. 

Siberia, 17 Desember 2021 

 

Baca juga: Menanam Sel Kanker di Kievan Rus


Terakhir 

Memendam takut; 
genggaman berbulir-bulir 
kehidupan yang maha kuat, 
di antara jemari terukir bilur-bilur, 
pandangan tegun terbakar api unggun 

Pada akhirnya, 
jiwa raga digenggam, 
bersama garang dan geram, 
dunia menua dan membabi buta 

Bersumpah serapah 
surga gigil dan neraka gerah 
tak perlu takut; seram kini terang
imajinasi terkulai pasrah diserang. 

Siberia, 19 Desember 2021


Ode Asam Garam 
: untuk Vincent Van Gogh 

Aku temukan makna 
pada dedaunan terluka 
rasa perih menjalar di tubuh 
usai telingamu jatuh dan rubuh 

Irisan-irisan lebam mengering 
saat sekuntung matahari jua layu,
tak perlu kau sirami begitu sering 
bayangannya akan condong ke situ

Vincent, takdir pedih nian 

Pelatuk ditarik, ajal menjulur, 
kau selalu dikenang peradaban 
karya abadi membuat nama subur 

Pergi prematur saat menua; 
menghitung angka tiga puluh tujuh, 
malam berbintang, pelukis pun misuh. 

Siberia, 15 Desember 2021


Injit Injak 

Lalu, bagaimana 
menghitung kematianku, 
dan kebangkitanmu? 

terkait ikatan jerat dan terikat kaitan kerat 

Lalu, tiba angin ribut 
mimpi kita jadi susut, 
dahi kerut, semaput, 
injit-injit serupa semut 

Injak-injak seperti gajah 
selalu saja salah melangkah. 

Siberia, 15 Desember 2021

 

Baca juga: Sajak-sajak Englandiva Akyla


Konflik 

Sila duduki kursi kosong 
perliatkan hati yang tergolek gosong
peluru melaju perlahan dari selongsong

Dor! 
Degup berdetak menghentak
amuki jantung, mampus terkoyak 

"Apa kau bodoh?" 
Tergolek sumpah serapah
gentayangi sayap yang memerah
terbang melayang sebelum melanglang 

"Apa kau pikir semudah itu?" 
Langkahi bayanganku dulu! 

Siberia, 18 Desember 2021 


Menggandakan Kita 
: untuk Edvard Munch 

Kematian adalah teman,
seperti penyakit menyertai,
dan kian menghantui

Kau begitu perasa, 
pendam dalam asa,
bertahun kalut, berlangit merah

Memang bumi sedang berteriak; 
kau bagian darinya, hilang di dalamnya,
memuntahkan jerit, menanti lama setelahnya 

Seperti Anak Sakit, 
Sophie menderita, kau nelangsa, 
mecoba ikhlas walau terpaksa

Edvard, teriakan ini melengking 
mendengar orkestra warnamu 

laksana memahami cemasmu 

Pada sosok lain yang sama; 
aku menggandakan sebuah nama, 
kita berkata maka kita bercinta. 

Siberia, 19 Desember 2021


Menangkap Makna 
: untuk Diane Arbus 

Kau menangkap makna; 
tangan tak terulur, 
kamera terjulur 

Melukis ganjil dan genap; 
dituang berlainan dimensi, 
luka diri kau cari 

Meremuk redam pilu; 
temu buruk di sela kota, 
memutar balik kata dan fakta 

Menutur potret rahasia; 
maha tahu, menggali kubur demi jawaban 
tak tahu, menutup kubur demi ratapan 

Ganjil, aneh, sinting, 
kau tidur berselimut peluh, 
sepuntung mimpi bersama arwah 

Diane, rehatlah! 
Mata sayu, lensa lelah 
usia telah menghilang bilah; 
jkau pemenang, perjuangan berakhir sudah. 

Siberia, Desember 2021 

 

Baca juga: Sajak-sajak Randa Yudhistira


Qurban 

Abraham mengasah 
Tuhan mengasih 
Ismail pasrah 

Kami kini meringis 
bidadari dijemput malaikat 
ia melekat pekat 

Pada tubuh fana 
orang tua merana
aku yang terpana 
hari kau tiada, tak di mana
pada qurban yang tak dinyana 

Melepas kau, sayang, kepada-Nya 
seperti keiklasan Abraham memberi putranya. 

Siberia, 22 November 2021 


Tiara 

Empat puluh hari berlalu 
saat pagi berdering haru 

Melepas kau gemilang 
pada cahaya dan doa 

Datang aku bergeming 
menampung sungai kecil di muara. 

Siberia, 7 September 2021 

 

Rumah Baru

Sejengkal 
kubur dan kasur 
Menilik rumah kekal, 
menangis rumah baru  
Siberia, dingin mengepal 
kakiku kaku pikiran jadi kelu 

Apa kabar kau? 
Bertamulah Tuhan 
menggolek, tak tahu nasib 
bermata sembab bersobat karib 

Jangkar hilang, tinggal kerlip
Matamu kedip, telingaku kedap
bantal tanah, kapas, bulu angsa
ikhlas semua walau tiba nelangsa. 

Siberia, 11 September 2021 

 

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

Baca juga: Sajak-sajak Dessy Itaar

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

Putri Sekar Ningrum, lahir di Jambi, 19 September 1999. Menekuni musik, menari, memasak, menulis, dan menyenangi dunia fauna. Karya puisinya berjudul Nomaden masuk sebagai karya terbaik pada Sayembara Puisi Pelajar Indonesia di Rusia 2021 yang dipilih oleh penyair nasional Acep Zamzam Noor. Kini, sedang mengecap pendidikan S1 Liberal Arts and Sciences di School of Advanced Studies, Tyumen State University, Tyumen, Siberia, Rusia. Ilustrasi Yopi Cahyono