Menanam Sel Kanker di Kievan Rus 

PENYAIR Semyon Gudzenko, kelahiran Kiev, 3 Mei 1922 dan meninggal di Moskwa, 2 Desember 1953, pernah menulis sebuah puisi berjudul Balada Persahabatan. Puisi itu ditulis dan dijiwainya dengan penetrasi liris dan kehangatan. 

Pesan kemanusiaan di balik puisi menunjukkan, Gudzenko memaknai persahabatan adalah yang terkuat dalam hidup. Paling dapat diandalkan, kokoh bagai pohon oak, dan tak tergoyahkan. 

Berikut petilan sebait lirik puisi penyair ternama Uni Soviet itu; Bukan tanpa alasan kami menjaga persahabatan/Bagaimana penjaga infanteri/Semeter tanah berdarah/Ketika mereka mengambilnya dalam pertempuran//. 

Babak baru hubungan antara Rusia-Ukraina telah dimulai sejak Dewan Keamanan Rusia menyetujui pengakuan kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk-Republik Rakyat Luhansk pada Senin (21/2). 

Keputusan itu mengingatkan kita akan jejak perjalanan Krimea lewat jalur referendum pada 2014 silam. Mayoritas rakyat Krimea memilih reunifikasi dengan Federasi Rusia sebagai sebuah republik berotonomi khusus. 

Sebagaimana diketahui secara internasional, Donetsk dan Luhansk secara de jure adalah wilayah Ukraina, namun secara de facto sebagai negara merdeka yang telah diakui oleh internasional. 

 

Baca juga: Siapa Nama Penyair Itu?

 

Posisi Indonesia, yang berjarak jauh, memang tidak berdampak secara langsung. Pada 2014, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa pernah menyatakan mendukung Krimea sebagai wilayah kedaulatan Ukraina. 

Dampaknya, saat Krimea resmi bergabung dengan Rusia, tidak satu pun diplomat Indonesia sampai saat ini diperbolehkan pelesir ke Krimea. Terkecuali, mahasiswa dan wisatawan bebas mengunjungi “Balinya Rusia” itu. Saya sudah sekali berkunjung ke Krimea untuk sebuah acara sastra. 

Sehari pascapersetujuan Dewan Keamanan Rusia terhadap kemerdekaan Donetsk dan Luhansk, sejumlah negara pun langsung ikut mendukung pengakuan Rusia tersebut. Mereka adalah Suriah, Kuba, Nikaragua, Venezuela, dan Belarusia. 

Melihat dukungan negara-negara tersebut, maka secara de facto telah lahir negara baru, Republik Rakyat Donetsk-Republik Rakyat Luhansk. Indonesia sejatinya berada dalam politik bebas dan aktif dalam kancah dunia sehingga barangkali tak ada kepentingan di sana. 

Hari ini, Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyatakan perang kepada Ukraina. Donetsk dan Luhansk didukung Rusia untuk dapat menentukan nasib sendiri-sendiri. Namun, sebaliknya Ukraina tak akan membiarkan kedaulatan mereka diambil dan diinjak-injak. 

Melihat persoalan ini, memang harus teliti dan jeli. Saya mencoba untuk tarik ke belakang. Secara politik kultural, Rusia dan Ukraina memiliki sejarah panjang yang saling mengikat erat. Itu terjadi pada zaman Kievan Rus, Imperial Rusia, dan Uni Soviet. 

Dalam ilmu sejarah, Kievan Rus adalah negara kuno yang ada di tanah Slavik Timur.

Berdiri dari akhir abad ke-9 hingga pertengahan abad ke-12. Negara tersebut menyatukan sebagian besar tanah Slavia Timur (pada akhir abad ke-10 sampai awal abad ke-11). Ibu kotanya adalah Kiev. 

Hubungan pun terjalin hingga Uni Soviet (1922-1991) berkuasa. Musuh bersama mereka di era Soviet adalah NAZI Jerman. Melihat kondisi geopolitik, saya pikir ada tiga hal serius dalam menanggapi persoalan di Donbas, kawasan Ukraina, itu. 

Pertama, populasi masyarakat terbesar di Donbas adalah ras Rusia. Mereka menginginkan reunifikasi dengan Rusia. Kedua, mayoritas penduduk Donbas berbahasa Rusia. Mereka mendominasi sektor perindustrian, perekonomian, dan perniagaan di wilayah tersebut sehingga menjadi kekuatan tersendiri. 

Dan, ketiga, Republik Rakyat Donetsk-Republik Rakyat Luhansk menginginkan status kemerdekaan penuh. Mereka keras menolak reintegrasi dengan Ukraina karena tidak merasakan kehadiran negara. 

Ketiga hal tersebut patut dilihat secara jernih dan terbuka, apalagi Rusia-Ukraina pernah diikat secara mesra oleh kekuatan geopolitik yang sama dari zaman ke zaman. Apalagi di saat Imperial Rusia yang kekuasaannya hingga ke Alaska. 

 

Baca juga: Tak Ada Sesuatu yang Baru di Bawah Matahari

 

Titik Panas Donbas 

Sejak awal Maret 2014, demonstrasi oleh kelompok pro-Rusia dan anti-pemerintah Ukraina berlangsung di Donbas. Itu sebagai bagian dari pascarevolusi Ukraina dan Euromaidan, gerakan integrasi yang lebih erat dengan Uni Eropa. 

Para demonstran meminta Presiden Ukraina Viktor Yanukovych dan pemerintahannya mengundurkan diri, saat itu. Demonstrasi itu, mengikuti reunifikasi Krimea ke Rusia. 

Para pendemo merupakan bagian dari kelompok yang lebih luas dari protes pro-Rusia di seluruh Ukraina selatan dan timur. Keadaan pun meningkat pada April 2014 sehingga terjadi perang antara Ukraina dan pasukan separatis, Republik Rakyat Donetsk-Republik Rakyat Luhansk. 

Donetsk dan Luhansk pernah mendeklarasikan kemerdekaan menyusul status referendum tidak resmi pada 2014.

Tak lama kemudian, kedua negara memproklamasikan diri bergabung. Mereka sempat membentuk konfederasi Novorossiya, namun berumur pendek dan ditangguhkan setahun kemudian. 

Ukraina dan PBB menganggap referendum tersebut ilegal. Tidak demokratis oleh masyarakat internasional. Sekitar 90 persen memilih kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk-Republik Rakyat Luhansk. 

Meskipun kata Rusia yang digunakan dalam referendum itu, yaitu samostoyatel'nost, secara harfiah berarti "berdiri sendiri". Itu dapat diterjemahkan sebagai kemerdekaan penuh atau otonomi luas. 

Pertempuran pun berlanjut hingga 2014 dan 2015, meskipun ada beberapa upaya untuk menerapkan gencatan senjata. Ukraina mengatakan Rusia memberikan dukungan material dan militer kepada para separatis, meskipun Rusia membantahnya. Separatis sebagian besar dipimpin oleh warga Rusia hingga Agustus 2014. 

Pada 11 Januari 2017, Kabinet Menteri Ukraina menyetujui rencana reintegrasi wilayah dan populasi Donbas. Walau demikian, mayoritas penduduk mendambakan wilayah tersebut merdeka penuh. 

Kini, Kremlin telah menyatakan perang untuk mendukung kemerdekaan Donetsk dan Luhansk. Putin menyetujuinya setelah adanya permintaan dukungan dari pemimpin Republik Rakyat Donetsk Denis Pushilin dan pemimpin Republik Rakyat Luhansk Leonid Pasechnik. 

Sejak sepekan terakhir, puluhan ribu pengungsi Donbas telah meninggalkan Ukraina. Mereka menggunakan jalur kereta dan bus memasuki perbatasan Rusia. Mereka tiba di beberapa kota, bahkan ke Moskwa. Tujuannya mencari hak suaka politik (right of asylum). 

Kesamaan bahasa dan adat menjadikan para pengungsi lebih memilih Rusia daripada ke bagian lain Ukraina. Pasokan gas yang dialirkan selama ini dari Rusia ke rumah-rumah mereka di Donbas secara gratis pun telah disetop. 

Jalan menuju “titik panas” sudah jelas. Moskwa dan Kiev telah menyusun rencana masing-masing. Rusia membantu Donbas karena merasa masih saudara sedarah. Tak lain untuk menjaga populasi sesama etnik Donbas yang dinilai telah terjadi genosida sejak 1992. 

Sebaliknya, Kiev tetap bersikukuh menjaga kedaulatan negara agar tidak bernasib nahas seperti Krimea. Bagi Kiev, wilayah Donbas adalah masa depan sehingga jangan sampai kehilangannya. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pidato dengan menggunakan bahasa Rusia, bukan Ukraina, hari ini, mengingatkan kepada rakyatnya akan ikatan sejarah dapat menghindari konflik berdarah. Meski begitu, keinginan kuat rakyat Donetsk dan Luhansk begitu mendambakan kemerdekaan. 

Politik adalah jalan damai, sedangkan puisi adalah jalur sunyi.

Gudzenko, jauh-jauh hari telah mengingatkan lewat puisinya Balada Persahabatan. Ia menulisnya di buku harian semasa ikut ambil bagian di medan perang. Puisi itu ditujukan untuk saudara sedarah Rusia-Ukraina. Sel kanker pun telah tertanam di Ukraina. (SK-1) 

 

Baca juga: Ami Intoyo, Senyum Itu Tiada Kini

Baca juga: Dari Stanislavski sampai Riantiarno

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

 

 

 

 

Iwan Jaconiah, penyair, esais, wartawan Media Indonesia dan Metro TV. Peraih Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2015) dan Beasiswa Penuh Pemerintah Rusia (2015). Ia adalah pesastra Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya kumpulan puisi Hoi! (Terbit Press, 2020). Ilustrasi MI/Bayu Wicaksono