Sajak-sajak Agus Triyana 

Kopi Hitam Kupu-kupu 

Pagiku risau 
sebelum mengenal dia 
tak bergairah jalani pucuk hari 
terasa hambar dan tak bewarna 
seperti cinta pertama yang tak berbunga. 

Menuju senja berselimut pekat 
kuteguk secangkir kopi, perlahan 
mulai merasakan getaran imajinasi 

Semerbak hutan pinus, 
tenang terlukis dalam buaian 
menggali rasa maha terpendam 
kupilih kau menjadi kopi hitam kupu-kupu. 

Tangsel, 28 Desember 2021 

 

Baca juga: Sajak-sajak Tegar Ryadi

 

Secangkir Kopi di Kamarku 

Mimpi telah membuka wawasan 
saat berdiri menatap gemercik hujan 
alunan rintik, perlahan membasuh peluh 
secangkir kopi tersaji, menemaniku di sini. 

Udara segar mengaliri tubuh 
menderas searah seperti air terjun 
membentuk butir molekul dalam darah 
menghujami jantung, menembusi syaraf 
menyejukan hati dan pikiran di alam menghijau. 

Awan hitam berarak di hati 
yang sendu dari kerapuhan hari 

menyaksikan dedaunan silih berganti 
bernyanyi lembut tertiup angin, berjatuhan 
menimbun rasa sepenuh makna mendalam. 

Tangsel, 22 Desember 2021 

 

Petani Dan Padi 

Pagi masih buta 
saat aku melangkah 
menyusuri jalan setapak 
meraih harapan, tersimpan 
dari benih yang sudah tertanam
berharap tumbuh, tak termakan hama. 

Mencari aliran air 
yang tersendat bebatuan
melewati rantai makanan penuh duri, 
merangkak dari dataran tinggi ke dataran tinggi 
demi terciptanya tetesan air yang mengalir tenang. 

Wahai petani, 
sungguh besar jasamu 

engkau rela berpanas-panasan 
dan berhujan-hujanan demi menjaga 
butiran padi yang kau tanam bagi kami 
sekadar menikmati bulir-bulir padi kelak. 

Tangsel, 22 Desember 2021 

 

Baca juga: Sajak-sajak Fahira Rayhani


Reboisasi 

Penebangan pohon membabi buta. Tanpa rasa empati akan dampak yang diperbuatnya di lengkung langit ini. Tak memiliki iba pada hutan rindang yang ia gunduli. Hanya memikirkan perut semata tanpa berpikir panjang. 

Wajah polos yang dia hadirkan buat angin seakan enggan kuhirup. Membuat sakit mata saat memandang hutan yang kini tanpa kicauan gagak. Pura-pura lugu tak tahu apa yang terjadi. Ironis sekali semua ini. 

Entah menyalahkan siapa. Duh, harus berlari ke mana. Pada siapa mengadu yang telah dia lakukan. Menebang semena-mena bermodalkan selembar kertas. Kini aku dia tebang! 

Tangsel, 24 Desember 2021 


Alam 

Kulepaskan pandangan 
jauh hijau membentang luas 
menembus cakrawala kesunyian 
bergetar menusuk nadi mengaliri darah. 

Sungguh pesona alamku 
penuh makna di setiap sudut 
tak ada kata indah bisa kuucapkan 
menikmati yang tersaji secara cuma-cuma. 

Biru lautku melepas kehausan
memandangi luas samudra 
menikmati senja hampir senyap   
lamunan alam maha sempurna. 

Tangsel, 27 Desember 2021 

 

Baca juga: Ami Intoyo, Senyum Itu Tiada Kini

Baca juga: Tak Ada Sesuatu yang Baru di Bawah Matahari

Baca juga: Menelaah Tatib DPR di Balik Pengusiran

 

 

 

 

Agus Triyana, lahir di Kuningan, Jawa Barat, 4 Mei 1994. Menekuni dunia membaca dan tulis-menulis. Puisi-puisi di sini merupakan karya yang termaktub dalam 50 peserta pilihan pada Lomba Cipta Puisi dalam rangka Festival PeSoNa Kopi Agroforestry 2022. Lomba ini diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI bekerjasama dengan Media Indonesia. Kini, tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Pamulang. Ilustrasi Ma Soulful.