Sajak-sajak Ayu Thalia 

Goresan Pena 

Secarik kertas tak berdaya
meraung meminta aksara
menyapa pena tanpa jeda
hanya kebisuan menerpa

Hati meraung meminta asa
tangan menari menuangkan rasa
dalam ribuan aksara sastra 
menjadi sebuah karya

Sajakku mengembara
menjelajahi pelosok negara
jauh melanglang buana
memberi manfaat bagi semesta 

Pena mengungkap rasa 
yang tak terucap dalam kata 
melalui goresan pena 
kuukirkan asa bersama aksara 

2022 

 

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

Baca juga: Sajak-sajak Tiara Asyfia Sidik

 

Kenangan Tahun Kelam 

Ketika takdir dimainkan indah sang pencipta 
tirai-tirai langit patuh bersama rintik keluh
waktu mengikuti alur takdir sang khalik 
diguyur gemercik air di jiwa 

Kala mentari menunjukkan sinarnya
cahaya jingga menggeliat merayu gelisah
mewarnai langit pagi di tahun kelam penuh resah. 

Meski akan datang malam temaram
langit telah siaga bersama lentera purnama
bintang mengintip suasana kerlip penuh makna 
di antara mentari dan purnama, tangisan terhenti 
mengurangi beban kehidupan 

Takdir bagai pelajaran, menjadi pelengkap kehidupan

tak bisa diacuhkan walau sekedip mata memandang
namun ia juga bagai tirai pembuka kesabaran 
melihat cakrawala dan memecahkan persoalan

Kini, takdir kesedihan mewarnai awal tahun 
yang telah berlalu bagai kenangan 
tersimpan rapi di sudut waktu 

2022 


Lingkaran Kenangan 

Dalam rintik hujan aku memandang 
bolehkah menengok ke belakang? 
melihat sejuta kenangan 
mengalung dalam kehidupan 

Hidup memang tak seperti pelangi 
yang selalu indah berwarna-warni 
menghadirkan cerita tersendiri 
sebagai pelengkap kehidupan ini 

Sebuah aksara terselip dalam hati 
ada rasa yang tak bisa kuungkap sendiri 
maha membayangi dan semakin menghantui 
kala aku sendiri di balik sunyi 

Aku tahu, itulah arti merindui 
rasa datang saat temaram 
sampai-sampai baru aku sadari  
kedatangannya tanpa salam 

2022

 

Baca juga: Sajak-sajak Andrik Purwasito

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

Amarah Kala Petang 

Ketika nada-nada perintah menggema dalam ruangan
semburat merah muncul menghapus ketidaktahuan
memunculkan amarah yang sulit untuk disembunyikan
dengan segala emosi yang sulit tuk diredam

Kala hati sesak menahan rasa 
letupan terus menggumpal di dada 
memoles wajah petang jingga yang membara 

Kemuning waktu terus bergulir 
menghapus petang jingga dengan lentera purnama 
menggantikan rasa yang menggumpal di dada 
dengan mimpi-mimpi penuh asa 

Amarah bagai motivasi yang tersirat di antara bait-bait puisi
mampu melahirkan mimpi yang terselip dalam angan-angan imajinasi 

berselimut dendam yang terasa sesak di hati

Kala petang mengarsir 
atmosfer dengan jingganya
memotret bait-bait asa yang tersisa
mengabadikan amarah kala petang 
ada sesak dan asma menggumpal di dada 

2022 


Cahaya Illahi 

Kala Tuhan melukiskan takdir kehidupan
ketika aku mendapatkan duri dalam perjalanan
saat tak ada tempat untuk menerjemahkan rasa
hanya keputusasaan yang bisa tergambarkan 

Sebesit cahaya menerangi hutan asri 
melepaskan bayang yang terkunci kerinduan 
menghapus beban yang bersarang dalam jiwa
memberi kesejukan kala raga dipenuhi peluh-peluh kehidupan 

Cahaya maha pasti
meski tak terlihat secara hosti
namun memberi kesejukan pada hati
itulah sebesit sinar putih Illahi

2022 

 

Baca juga: Berani

Baca juga: Sajak-sajak Maria Regine

Baca juga: Tak Ada Sesuatu yang Baru di Bawah Matahari

 


 

 

Ayu Thalia, mahasiswi asal Jakarta. Ia suka menulis puisi dan membaca karya sastra. Kini, sedang menempuh pendidikan S-1 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya. Ilustrasi MI/Bayu Wicaksono