Sajak-sajak Fahira Rayhani 

Kerudung Mbak Mirah 

"Sabar itu ujian." 
Selalu Mbak Mirah lontarkan 
tak pernah pasrah di bawah godam 
langkah terus menapak, menantang alam. 

Luka mengucur nanah 
tak dihiraukan. Butir-butir kopi 
lebih berkelas dibanding edam¹ 
Tak apa, tak apa, dia paham harga mahalnya 
sebuah perjalanan panjang. 

Kerudung Mbak Mirah terkoyak 
meski hatinya tak turut rusak 
menatap bulir-bulir ranum bertandan 
hatinya riang berdendang. 

Tangannya lincah menari 
di antara merahnya bertandan ceri 
Mbak Mirah tetap berseri, 
mendayukan doa seluas hati. 

Mbak Mirah paham, 
sejiwa raganya pun demikian 
jerih dari ujung kerudung hingga 
sandal jepitnya takkan pernah sepadan 
dibanding butir-butirnya yang seharga kemewahan. 

"Apa saja kerjamu, Mbak Mirah?" 
Dia hanya tertawa bahagia 
sambil berjalan di pagi buta 
menyemai benih sepenuh perih 
menanti bibit tinggi hingga melejit 
menahan sakit tanpa menjerit 
merawat sesungguh bertaruh jerih 
memetik bulir melawan pedih. 

Harus ia berlari mengejar matahari 
menjaring terik keringkan butirnya 
mengusap sepenuh asanya 
menggiling dan mendoakannya 

semoga kau jadi yang terbaik 
diusap peluh dengan kerudungnya, 
juga pengharapannya. 

Setelah berpindah tangan ke barista 
kopi-kopi itu sungguhan primadona, 
sedang Mbak Mirah hanya 
mampu membeli kacamata 
demi membaca kitab sebelum subuh tiba. 

Entah siapa paling berharga 
tak apa, tak mengapa sebab Mbak Mirah 
tak mencari kelas. Dia hanya menyemai ikhlas 
demi kepul asap dari gelas 
mahasiswa sampai penarik becak 
bahkan seduhan secangkir kopi Sang Bapak. 

Dermakanlah sedikit hatimu
saat reguk, tak berbau langu
menemani cakap saling beradu
pamer kesuksesan unjuk kebolehan
bertukar pengalaman kisah masa kelam
rasamu berpadu di antara ucap semanis madu
bersatu musik jazz dan harum beledu. 

Mengingkari indahnya 
tinggal di pusar nagari 
padahal surganya
reguk kau habisi. 

Kopi di sini kopi surgawi
nikmatnya selaksa bius duniawi 
berpeluh lusuh berhak bermimpi
jangan tandas, biar ampas sepi sendiri. 

2022 

¹ Edam adalah keju yang berasal dari Belanda. Berbentuk bulat dan berwarna kuning terang. Dibungkus dengan parafin dan malam berwarna merah. 

 

Baca juga: Sajak-sajak Englandiva Akyla

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

Menghidu Aroma dan Kisahmu 


Belantara masih terbuka 
tak sesuram cerita tanpa cahaya 
jikalau pandai bertutur kata, 
pastilah aku takkan hanya merekah cita.  

Dahulu kau bagian dari tanam paksa 
syahwat kolonial terbius aroma surga 
para pendahulu hanya menatap warna merona 
dan sedikit menghidu aroma penapak jiwa. 

Pesona lanang di antaramu kerap tercipta 
masih malu-malu di usia kanak manusia 
layaknya bayi, usai lima tahun kau melesat meraja. 

Aku tak paham banyak kisah, hanya rindu menghidumu 
kutahu saat warna selayak gincu, pertanda datang saat ranummu
tapi gincu gadis pemalu, bukan warna menua jambu. 

Panen lelesan menjadi hiburan masa kecilku 
memungut butir-butirmu sepenuh rindu
saat berikutnya penentu pamormu 
perjalanan panjang menuju kelas stratamu. 

II 
Sudahlah! Tak perlu lagi melempar terka 
arabika, robusta, liberika, ekselsa 
semua membuat mereka terhuyung gila 
membayangkan dan menghirupmu 
sungguh selayak candu. 

Memberi terik mentari selama 60 hari
menjadikanmu sekelas anggur pangeran Henry 
negeriku rebutan para penjarah 
karena parasnya yang cantik nan ramah. 

Di sini terhampar surga beralas tanah 
tanah Gayo, Kintamani, Lampung, 
Mandailing, Temanggung, Flores, dan Toraja. 

Menyambut bahagia sejak kau belum berupa 
tanah ini memang ranah surga. 
Sepenuh cinta tangan-tangannya 
menjadikanmu primadona. 
Sewajarnya, sebab tawananmu tak sekedar canda
dan hatiku tak gampang mendua. 

Mencandumu bukanlah dosa 
menghidumu takkan dipenjara 
menyeruputmu puaskan dahaga 
meski sungguh terkesima kisahnya. 

Cerita tangan lincah petani-petani lugu 
selaksa sutra dewangga sehalus beledu 
mereka menjaga saat kau benih 
dengan sepenuh doa dan jerih 
terjaga kala terdengar rintih 
butir-butirmu di saat ringkih. 

III 
Cinta berikutnya siap menerimamu bahagia 
meski kau tawarkan masa depan bercahaya 
menjadikanmu halus selembut sutra 
hingga angkat derajatmu di mata dunia. 

Kau berharga bukan hanya di hatiku 
di setiap imaji dalam torehan tanganku 
di setiap koloni di antara mulut manis tengkulak nista 
dalam rengkuhan kartel pemeras air mata. 

Kisahmu terus bergulir di antara jentera 
di tengah pesta para penguasa 
di meja-meja para sosialita dan pengusaha 
di warung-warung bahagia jelata
di trotoar pengais penambal luka
di gawai-gawai para remaja
di kios renceng dan kafe mentereng
di dalam gelas pengamen berdebu
dalam sulitnya masa akil balikku
dan di antara cintanya dan cintaku. 
 
2022 

 

Baca juga: Tak Ada Sesuatu yang Baru di Bawah Matahari

 

 

Di Sudut Dangau 

Angin berarak sepi 
kaki mengayuh, terbang. 
Sekadar nikmati rindang hijau  
pepohonan berbiji merah di lengkung. 

Wanasari 
sungguh asri 
nan permai nian 
terkenal kopi. Aromanya 
kencang menembus sukma. 

Seorang petani tua 
tertunduk di sudut dangau 
dengan sepasang kaki menekuk. 
Berteman sebatang lisong tua yang buruk. 
Terlihat nestapa menatap kebun yang tak lagi miliknya. 

Ingin rasanya aku 
hampiri dan bertanya. 
Melayangkan pernyataan klise 
entah dijawab atau dibisukannya. 
"Buat apa?" empatiku tak mampu 
mencukupi hatinya. Tutupi sedih saja. 

Seandainya aku 
mampu membantu dan 
mengabarkan kepedihan itu, 

tapi membeli sekilo beras pun 
aku harus memikul dan memecah batu. 

Bibir mengalirkan doa 
menetes serupa rintik hujan. 
Bukti iman, kerja keras, dan usaha 
Berharap kelak aku dan dirinya tampak 
di sudut mata para teladan dan pengelana. 

2022


 

Sepotong cinta di Jogomulyan 


Semburat itu masih tersirat 
di cekung hati yang berurat 
merindu sendu terasa sangat 
beban menggayuti begitu sarat 

Kenangan padamu 
kala pagi di Jogomulyan 
bertalu ritme lesung dan alu 
menjaga sinarmu selaksa intan 

Butir-butir redam terhantam 
seketika jejak kenikmatan terhamburkan 
harum aroma menguar angan-angan 
antara senyum dan tawaran kehangatan 

Adakah yang lebih menjanjikan 
dibandingkan harum bulir-bulir ciptaan Tuhan 
disertai beribu senyum ketulusan? 

II 
Perlahan biji-biji sangraimu
menguarkan aroma menyelusup kalbu
hijau lebur menjadi hitam
wajan tungku bersaksi diam. 

Butir-butir yang kini halus 
sepatutnya hancur tergerus 
demi mengurai berjuta rasa haus 
mengiringinya dengan segenggam angan tulus. 

Perlahan biji-biji sangraimu menguarkan lagi aroma 
menyelusup kalbu menggugah rasa
hijau lebur menjadi hitam warna
wajan tungku masih bersaksi tanpa kata. 

III 
Wahai sisa pagi yang mempesona
tunjukkan padaku seuntai surga ranah Dewangga
yang terwakili butir-butirmu penegak raga 
diseduh lembut dengan penuh rasa cinta. 

Sumber hidupku itu kupanggil bunda 
senantiasa menawarkan cinta di tiap aroma
yang menyemburkan semangat di rasa pahitnya. 

Menanti tumbuh di sekian purnama
menyambut tiap butirnya sepenuh asa
berdua belahan jiwa menggerus sepenuh doa 
menyangrai bulir-bulir selaksa cinta. 

Dibesarkan penuh kasih, diiringi lantunan sabda 
bersama butir-butir penerus cita
beraroma kaya rasa. 

IV 
Jogomulyan sehangat pagi 
tanpa pernah sepi berteman kopi 
biji-biji penawar hati, mendatangkan pundi. 

Tiap hirupnya tak sadar menghidupi 
bersama rasa yang tak akan terbeli 
cinta sejati dan harum yang tak terperi. 

2022 

 

Baca juga: Waras

 

Bisikan Kopi pada Lamtoro 

Ketika bumi bermandikan kilau
ada pancaran plasma cahaya api raksasa
seiring putaran kehidupan di bumi nan galau 
aku serupa pohon, kerap berlindung di bawah matra. 

Liukmu lebih dari sekedar makna 
hujaman hingga kedalaman yang tak terkira 

hidup bersama kasih akarmu laksana peri 
merindu kelak harumku, menguar di penjuru bumi. 

Kala terik menyengat raga 
menjulang tinggi digdaya 
seolah diriku tiada daya, 
namun dirimu tak lebih penerus cahaya 
hingga sinarmu menjadikanku istimewa. 

Demi harum ranumnya biji-bijiku semarak 
merona merahnya semburat bulir-bulirku kelak 
layaknya kasih bunda yang lembut lunak 
seolah kau tempatkan diriku begitu layak. 

Angin terasa menyentak 
membentak sekejap tersentak
namun kau tak hendak ciut 
naunganmu selaksa selimut 
"Mengapa dirimu sudi menjadi tamengku hingga kini?" tanyaku. 
"Sebab kau masih terlalu ringkih untuk meninju langit," jawabmu.  

Dahulu tak mengerti apa-apa 
hanya mengangguk saja 
namun sungguh hati percaya 
kelak tegak di bawah mayapada. 
 
Setelah kudengar sekelebat konversasi 
dunia bergema, Indonesia milikku seutuhnya 
arabika Gayo, Kintamani, Toraja, dan Liberika 
aku mengerti betapa berharga arti bersama. 

2022 

 

 

Negeri Jerebu 

Teringat jelas harum yang menyengat nikmat. Gurauan yang kerap kali dilontarkan sekadar untuk melepas penat. Di antara petala malam yang gemerlap. Bersama hirupan aroma sedap. Di Negeri yang berjerebu sarat. 

Kenangan hanyalah harap kebahagiaan, kini telah berbuah pahit. Dulu sangit sekarang pahit. Dulu hanya cerita terbukanya tameng si walang sangit. Perompak harta negara pailit. Kini semakin legit. Mumpung migrasi wabah virus penyakit. 

Bagaimana bisa hal yang tak terlihat, dapat menghancurkan peluang yang tiada memiliki arti bagi para petinggi. Manusia kecil sepertiku yang dahulu membungkus bubuk-bubuk beraroma menyenangkan. Yang hitam pahitnya menenangkan. Kembali memijakkan kaki di tanah yang telah memberikan nyawa selama ini. 

Tempat yang memiliki banyak gedung dan harapan tinggi. Tak lagi dapat kutinggali. Berharap setidaknya di sini, aku menjadi manusia berbakti, walau sekedar membungkusi kopi atau menyeduh serenceng mimpi. 

2022 

 

Baca juga: Sajak-sajak Tegar Ryadi
Baca juga: Sajak-sajak Maharani Ningrum

 

 

 

Fahira Salima Rayhani, lahir di Kota Bandung, Jawa Barat, 11 Desember 2001. Suka menulis dan membaca puisi. Peraih Juara I Lomba Cipta Puisi Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2021 yang digelar Inspektorat Jawa Barat. Kini, tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran. Ilustrasi Yopi Cahyono