Ami Intoyo, Senyum Itu Tiada Kini 

"SENYUM itu berkah bagi sesama manusia." Begitulah kira-kira secuil wejangan Ami Intoyo yang mengendap di ingatan saya. Ia adalah salah satu tokoh penting senior diaspora Indonesia di Rusia yang kini telah tiada. 

Ami berpulang ke pangkuan Sang Khalik dalam usianya ke-77 di Moskwa, pada Senin (7/2) tengah malam waktu setempat atau Selasa (8/2) dini hari WIB. Ia pergi setelah menjalani perawatan intensif akibat terpapar covid-19. 

“Mbak Ami dirawat selama 10 hari di rumah sakit. Hari ini, anak-anaknya pergi melayat ke rumah duka. Terima kasih atas empati,” ujar Vidiya Intoyo, adik kandung Ami, saat saya menghubunginya dari Jakarta. 

Ami adalah anak pertama penyair terkenal asal Tulungagung, Jawa Timur, Prof Intojo (ejaan lama; 1912-1971). Prof Intojo dikenal sebagai anggota angkatan Pujangga Baru. Ia orang kepercayaan Presiden Ir Sukarno, yang hidup dalam pengasingan bersama keluarganya di era Uni Soviet. Ami sendiri lahir di Blitar, 22 Februari 1945. Mengikuti ayahnya ke Moskwa saat ia baru berusia 11 tahun. 

 

Baca juga: Sajak-sajak Ted Rusiyanto

Baca juga: Sajak-sajak Y P Sudaryanto

 

“Saya mengingat Mbak Ami. Dia cantik, periang, selalu senyum, menawan, memukau, penuh kasih, dan paling dicintai dalam keluarga. Dia hanya pergi menjenguk ayah, ibu, dan saudara laki-laki. Dia akan selalu ada dalam sanubari kita,” ungkap Vidiya dengan suara parau. 

Kepergian Ami menjadi kesedihan bersama. Terutama, bagi keluarga besar diaspora Indonesia di Rusia.

Sejumlah teman-teman almarhumah di Jerman, Ceko, Kanada, dan Belanda juga turut mengucapkan dukacita. “Belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya anggota senior grup diaspora Indonesia ibu Ami Intoyo,” tulis Prof Y P Sudaryanto, dedengkot diaspora Indonesia di Rusia dalam sebuah group WhatsApp

Mengenang kebaikan Ami adalah sebuah kewajaran walau air mata menetesi pipi-pipi mereka. Saya pribadi termasuk orang yang beruntung dapat mengenal keluarga besar Intoyo secara dekat sejak 2015. 

Pada sejumlah pertemuan semasa hidupnya, Ami selalu memberikan dorongan dan semangat. Itu ia tujukan, baik bagi para penyair, mahasiswa, maupun peneliti yang dikenalinya secara baik. Ami bersuami seorang pakar fisika plasma, berkebangsaan Rusia bernama Alexander Khomkin, 77. Mereka memiliki dua anak laki-laki dan tiga cucu. 

Ami menghabiskan sebagian besar usianya di negeri orang. Sejak sekolah, kuliah, dan menikah di Moskwa. Meski begitu, tata krama dalam pergaulan sosialnya sangatlah sopan dan santun khas adat ketimuran. 

Pada 2019, seorang teman sedang menempuh program doktoral pada sebuah universitas ternama di Kazan, Ahmad Ilham Danial, misalnya, pernah jauh-jauh datang ke Moskwa. 

Ketika itu, Danial menghubungi Ami untuk melakukan sesi wawancara pengumpulan data disertasi. Topik penelitiannya tentang diaspora Indonesia. Ami ramah menyambut Danial dan memfasilitasinya. 

Untuk urusan pendidikan, memang saya akui Ami adalah sosok pemberi semangat. Bahkan saat saya kembali ke Jakarta, ia pun masih mengingatkan untuk selalu berkarya dalam ranah perpuisian. 

“Lewat dunia tulis-menulis di manapun berada, haruslah menyuarakan kejujuran dan kebenaran,” ucap Ami semasa hidupnya. 

Sebagai alumnus Universitas Negeri Moskwa Lomonosov, Ami sangat konsen pada dunia humaniora. Ia tidak hanya seorang akademisi, namun juga terjun sebagai penerjemah dan editor. 

Bertemu Megawati 

Saat Presiden Megawati Soekarnoputri berkunjung ke Moskwa pada 2003, Ami adalah salah satu tim pakar yang didapuk untuk memberikan saran, usulan, dan rekomendasi bagi Megawati. Itu adalah tugas mulia yang ia lakukan secara baik. 

Sayangnya, Ami belum pernah pulang ke Tulungagung, tempat keluarga besarnya berasal. Usai peristiwa 1965 di Republik ini, Ami kecil bersama Vidiya dan Agong, adik laki-lakinya seorang pelukis yang lebih dahulu wafat pada 2019, tidak tahu situasi dalam negeri. 

Paspor ayah mereka ditarik di era Orde Baru via KBRI Moskwa. Mereka pun dikucilkan oleh sesama warga Indonesia di Rusia. Keluarga Intoyo hidup stateless lebih dari 65 tahun. Pada era pascareformasi, sempat ada keinginan Ami untuk pulang atau liburan ke Indonesia, namun tidak kesampaian. 

Sewaktu Ami kecil di Jakarta, ayahnya berteman dengan sejumlah sastrawan Indonesia klasik. Ami selalu dibawah untuk ikut bertemu dengan para penulis dan wartawan. Ayahnya kala itu adalah redaktur di Balai Pustaka. Pernah pula berkarir di sejumlah majalah nasional. 

“Bapak ialah sastrawan Indonesia yang pada 1930-an menulis sajaknya dalam bentuk soneta. Ia yang pertama menulis tentang Bali, bukan orang Bali. Itu ditulis di salah satu majalah sastra Indonesia,” papar Ami dalam perbincangan lain pada 24 Februari 2021. 

Puisi-puisi Prof Intojo pernah diterjemahkan dalam bahasa Prancis. Sebagai pesastra era 1930-an, ia lihai berbicara dalam bahasa Belanda, Rusia, dan Jerman. Prof Intojo resmi dikirim untuk mengajar di MGIMO (Institut Hubungan Internasional Negeri Moskow) pada 1956. Itu terjadi tiga pekan setelah kunjungan resmi Presiden Ir Sukarno pertama ke Uni Soviet. 

“Kedatangan bapak untuk mengajar. Surat resminya ditandatangani oleh kedua kepala negara, Ir Sukarno dan Nikita Khrushchev,” jelas Ami, saat itu. 

Walau sudah berada di Jakarta, hubungan baik saya dan Ami tetap terjalin. Pada saat memasuki awal Tahun Baru 2022, Ami masih mengirimkan ucapan. Kami pun saling menanyakan kabar. “Saya belum bisa keluar rumah sebab pandemi covid-19 merajalela di sini,” pesan terakhir Ami yang saya terima. 

Ami adalah ibu bagi para penyair di Moskwa. Ia selalu memberi petuah bijak untuk tetap semangat dalam mengarungi dunia perpuisian. Ia adalah teladan bagi putra dan putri diaspora Indonesia. Senyum simpul itu kini tiada sudah, namun harum nama akan selalu dikenang. Selamat jalan, Ibu Ami. (SK-1) 

 

Baca juga: Waras

Baca juga: Bayar Kopi dengan Puisi

Baca juga: Antara Munir dan Angin

 

 

 

 

Iwan Jaconiah, penyair, esais, dan wartawan Media Indonesia dan Metro TV. Peraih Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2015) dan Beasiswa Penuh Pemerintah Rusia (2015). Ia adalah pesastra Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya kumpulan puisi Hoi! (Terbit Press, 2020).