Berani 

BAGI Soesilo Toer, adik kandung sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Februari selalu memiliki makna tersendiri. Kenapa? Sebab ada sukacita. Ini bulan penuh bahagia. Ia dan kakaknya lahir ke dunia. 

Soes, sapaan dekat Soesilo, akan merayakan hari jadinya ke-85 pada 17 Februari mendatang. Sementara Pram, panggilan akrab Pramoedya, hari jadinya baru saja dirayakan, kemarin. Pram sudah lebih dahulu pergi ke pangkuan Sang Khalik pada 30 April 2006. Pram lahir pada 6 Februari 1925. 

Toer bersaudara memiliki jiwa berani dan gigih belajar. Soes dikenal sebagai alumnus doktoral dari Moskwa, Uni Soviet (Rusia). Gaya hidupnya sederhana dan bersahaja. Kini, ia mengurusi Perpustakaan Pataba, di rumah masa kecil mereka, yang berada di Blora, Jawa Tengah. 

Membicarakan Soes, memang penuh dengan lika-liku kehidupan. Ia dicap sebagai 'orang kiri'. 

 

Baca juga: Tak Ada Sesuatu yang Baru di Bawah Matahari

Baca juga: Kabar Burung Mengendap di Meja Makan Kita

 

Hal tersebut terjadi di zaman Orde Baru, namun sesunggunya ia adalah sosok seperti manusia biasa, umumnya. Bahkan, saya pikir Soes adalah tokoh yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Rusia, kini. 

Selama 11 tahun, dari 1962 sampai 1973, Soes bertempat tinggal dan bersekolah di Moskwa. Penguasaan bahasa Rusia tak diragukan lagi sebab ia juga melewati satu tahun belajar bahasa di fakultas persiapan (podgotovitel'nyy fakul'tet). Sistem belajar ini masih diterapkan hingga hari ini. 

Soes adalah sosok yang berani memutuskan untuk pulang seusai menamatkan pendidikan tingginya. Keberanian itulah, akhirnya ia dianggap "orang kiri". Ia tak seperti mahasiswa-mahasiswa oportunis lainnya yang tak pulang lantaran terperangkap oleh nikmatnya madu dan gadis-gadis manis di Tanah Tsar. 

Kini, di masa senjanya, Soes mengolah perpustakaan pribadi. dan memungut sampah sebagai filosofi hidupnya. Itu sebagai sebuah panggilan mulia mengabdi bagi Republik. Ia adalah pemikir yang mencintai buku dan alam di kampung halamannya. 

Saat di Moskwa, tempo dulu, Soes menyelesaikan program pascasarjananya di Fakultas Ekonomi dan Politik, Universitas Patrice Lumumba (kini: The Peoples' Friendship University of Russia). Lalu, menyabet gelaran doktor bidang Ekonomi dan Politik dari Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov. 

Semasa di negeri rantau, Soes belajar dan bekerja sebagaimana mahasiswa umumnya. Ia bekerja apa saja, terpenting bisa menghasilkan uang untuk biaya tambahan sehari-harinya. Setelah meraih doktornya, ia sempat bekerja di Moskwa sebagai penulis, penerjemah, dan peneliti. 

Sejumlah mahasiswa era 1960-an yang kini sudah berambut perak di Moskwa, masih mengenal sosok Soes yang hangat. Hubungan sesama mereka pun masih terjalin erat, walau sudah terpisah jauh antara Moskwa dan Blora. Bagi para tetua-tetua, persahabatan selamanya kekal. 

Dengan latar belakang pendidikan tingginya, Soes berpendapatan bagus saat masih bekerja di Moskwa. Tak jarang, ia pun selalu menghabiskan waktu luangnya di kafe-kafe bergengsi di Jalan Tverskaya dengan teman-temannya, khususnya sesama para perantau. 

Dalam sebuah pertemuan daring antara Soes dan rekan seorang alumni S-1 Rusia, Arnold Sauw, Soes masih tampak sehat. Ia bahkan memberikan wejangan bagi para mahasiswa yang masih studi di Rusia. Soes berpesan; 

Belajarlah sampai batas cakrawala ilmu pengetahuan. Mengais ilmulah sebanyak-banyaknya selagi di Rusia. 

Ia sedikit merujuk kepada pemikiran Max Planck, seorang ahli fisika asal Jerman. Bagi Soes, pengalaman adalah basis pengetahuan bagi para mahasiswa yang ada di negeri kelahiran penyair Alexander Pushkin, itu. Maklum, kehidupan mahasiswa di luar negeri adalah bagian penting untuk kelak ikut membangun Republik. 

Tentang Pram dan Mandelstam 

Hari jadi Pram ke-97 baru saja terlewati. Sejumlah komunitas sastra merayakannya dalam kesederhanaan. Ada rencana ke depan untuk memperingati 100 tahun Pram secara meriah. Artinya, tiga tahun lagi. 

Satu abad usia Pram telah mencuat dan masih dalam sebatas obrolan ala warung kopi. Ya, tentu saja, oleh sejumlah pembaca dan komunitas sastra yang mencintai karya-karya Pram. 

Nama Pram pernah digaungkan sebagai kandidat kuat untuk mewakili Indonesia menerima Nobel. Sayang, walau sudah berkali-kali diusulkan, namun belum juga kesampaian. Sejumlah kalangan menilai bahwa Pram adalah tokoh yang laik mewakili Indonesia. Karya-karyanya mengupas tentang realitas sosial yang ada di zamannya. 

Sebelumnya, pada 2014, bahkan jauh sebelumnya, nama Pram sudah pernah diusulkan secara resmi sebagai kandidat penerima Nobel. Itu atas pertimbangan pada novel-novel yang ditulisnya semasa diasingkan di Pulau Buru. Itu tak lain ialah tetralogi Bumi Manusia: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca

Keempat novel tersebut berlatar belakang cerita tentang pergerakan nasional. Tokoh-tokoh dalam fiksi, seperti Minke dan Annelies Mellema. Semua cerita tersebut dituturkan dan ditulis saat Pram diasingkan di Pulau Buru, pada 1965-1979. 

Setelah bebas, Pram menerbitkan novel-novelnya secara bertahap pada 1980-1988. Kejaksaan Agung sempat melarang peredarannya tak lama setelah diterbitkan. Karya-karya itu dituding mengandung pesan Marxisme-Leninisme. 

Kisah-kisah Pram memang penuh dengan perjuangan. Mengingatkan saya pada kisah Osip Mandelstam, seorang penyair Rusia. Ia lahir pada 15 Januari 1891. Aktivitas sastra Mandelstam dewasa sangat menanjak tinggi. Beberapa tulisan-tulisannya bernada kritik sosial sampai jua menembus tembok Kremlin, saat itu. 

Pada musim gugur 1933, Mandelstam menulis epigram melawan penguasa komunis Joseph Stalin (1878-1953). Isinya berbunyi 'kita hidup tanpa merasakan kehadiran negara....' Epigram itu sontak membuat gempar. Aparat militer memata-matai pergerakannya. 

Akhirnya, Mandelstam ditangkap di rumahnya di Leningrad, pada Mei 1934. Sang penyair diciduk bak seorang tahanan subversi dan dikirim ke Cherdyn, sebuah daerah di Ural Utara. 

Kisah Pram dan Mandelstam serupa tapi tak sama.

Pram lebih terkenal karena karya prosa panjangnya, sedangkan Mandelstam lebih kepada sajaknya. Terlepas dari itu, ada kesamaan mereka, yaitu dituduh sebagai kaum subversif oleh penguasa di negara mereka masing-masing. Satu di Uni Soviet dan satunya lagi di Republik ini. 

Nama Pram sering digadang-gadang untuk menerima Nobel, namun belum jua diterima hingga hari ini. Hal tersebut menarik dikaji sebab sama persis seperti sastrawan Rusia lainnya, Leo Tolstoy. 

Nama Tolstoy pernah diusulkan berkali-kali untuk meraih Nobel, namun ditolak. Hal-hal mendasar seperti kebijakan politik nasional dan internasional sangat memengaruhi seseorang atau lembaga untuk bisa menerima penghargaan bergengsi dunia itu. 

Soes, Pram, dan Mandelstam adalah mereka yang terlahir sebagai pemikir dan pesastra. Bagi Soes tidak ada yang perlu untuk ditangisi atau disesali sebab hidup itu indah. Hidup, menurutnya, harus terus diisi dengan optimistis, semangat, dan keberanian. 

"Cuma orang yang berani yang bisa menaklukkan dunia. Mir i druzh'ba mezhdunarodnymi (artinya: perdamaian dan persahabatan internasional). Perdamaian bagi sesama manusia," jelas Soes dalam Bahasa Indonesia bercampur bahasa Rusia, sedikit berfilosofi. 

Petuah Soes walau dikhususkan bagi para pelajar Indonesia di Rusia, namun inti pesannya untuk kemanusiaan yang universal. Persahabatan berguna untuk menjaga damai di ranah hubungan antarbangsa. 

Melalui wejangan dan buah pikiran yang bijak, ada harapan bagi generasi muda untuk sukses meraih pendidikan tinggi di mana pun mereka belajar. Kuncinya ialah berani. Selamat ulang tahun, para pesastra pemberani. (SK-1) 

 

Baca juga: Menapaki Jejak Karya Pram

Baca juga: Osip Mandelstam dan Kita

Baca juga: Partisipasi Tipu-Tipu

 

 

 

 

Iwan Jaconiah, penyair, esais, dan wartawan Media Indonesia dan Metro TV. Peraih Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2015) dan Beasiswa Penuh Pemerintah Rusia (2015). Ia adalah pesastra Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya kumpulan puisi Hoi! (Terbit Press, 2020). Ilustrasi Samba