Sajak-sajak Tri Astoto Kodarie 

Serayu 

Suara lirih dari arah jauh 
mengabutkan jalanan berwajah pagi 
melintasi tepian sungai Serayu 
mencahaya berhulu di gunung Slamet 
mengaruskan ke puluhan anakan sungai 
mengulurkan jalinan ke dataran
di sini, di sudut desa Prigi membentuk rahim 
kesuburan pada tubuh purba
langit membayangkan esok 
mengasah ketajaman mata dari silsilah hari
memantul cahaya mendasyatkan doa Sai Bumi Ser 
tubuh yang menghidupi setiap gerak di ladang-ladang raya

Bukan tak mungkin pohon jati yang rebah
di antara ilalang berjemari desau angin 
hanya kesementaraan menjaga bantaran sungai
merawat sebagai kehendak alam raya
menata batu-batu berakar purba
seperti ingin menjahit bumi dari kerapuhan
 
Begitulah saat suara deras air melirih
telah terkikis peradaban yang disembunyikan
takdir pun menggusah mata cangkul di sela tanah

tersembur air kehidupan meriap di setiap rongga
yang bakal tumbuh umbi-umbi berwarna cinta

Di seluasan tegalan tak sepenuhnya ditanami kecemasan
seperti pagi menjelma menjadi peta yang lengkap dari ruh bumi
mengikatkan rajutan dataran, rawa, sungai dan lautan melimpahkan kehidupan
sebab setiap tanah yang dicangkul melebihi harapan di lahan yang digarap
lalu berbisikan kisah di atas getek menuju ke desa-desa

Sebenarnya tak ada di dadamu yang tandus 
serupa sejengkal tanah berhumus 
menanti tangan kehidupan pada tiap tarikan napas 
tak sulit membedakan antara umbi dan padi 
menjadi kisah abadi di lumbung-lumbung
saling bertemu di titian akar 
sungai berlumut mengarus di tubuhmu
bersemah tumbuh dalam tarikh waktu 

Sayup alir Serayu menawarkan rumah
dalam tubuh tersusup cahaya
seperti mengalirkan sejarah 
takdir dari hulu hingga hilir
bebatuan di lereng ladang menyimpan rapat 
sisa-sisa sejarah yang melekat
sesungguhnya getar jiwa terus belajar pada semesta
di luruh subuh, Serayu terasa hangat serupa secangkir kopi
tersedu antara pahit atau manis 
sekedar menggenapi rasa. 

Banyumas-Parepare, 2021 

 

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

Baca juga: Tentang Remy Sylado, D'Anthes, dan Pushkin


 

Kesaksian Dari Meulaboh 
: kepada Teuku Umar 

Biarkan aku benar-benar masuk ke pedalaman Meulaboh
menjadi si kecil Umar yang suka berkejar-kejaran lalu sembunyi
di rerimbun bambu. Tangan matahari melegamkan setiap langkah
menemukan kawan-kawan sebaya dan tertawa bersama    
tapi tercatat diingatanku bila kemenangan
selalu berpihak menyentak hati
hanya sejemari sayatan ilalang di tanah Johan Pahlawan

Seperti masa kecil yang dibelai doa-doa  
dingin dinding surau memeluk jiwa
kini waktu menumbuhkan usiaku 
menjadi dewasa bermata awas
di ladang-ladang bergigir hutan, terasa tak ada yang hilang
serupa kesetiaan pergantian senja menuju malam. 
Aku masih mendengar suara adzan dan bersujud 
seperti yang diajarkan ayah di surau juga ibu dengan shalawat lirihnya 
di tepi tempat tidurku

Tak ada yang bisa diam di dadaku 
laut jantungku pasang menggemuruh
ketika langkah-langkah asing mulai menjejak di tanah leluhur
mondar-mandir memutari hutan berbukit daerah Daya Meulaboh
tapi sebenarnya aku tak bisa 
merubuhkan pohon-pohon itu sendiri
tanpa bergenggaman tangan dengan kawan-kawan. Juga rakyat
yang memilih angkat senjata 
aku harus bersikap membangun jiwa

Rintih jiwa di dada mempertahankan tanah leluhur
menguatkan rasa sehalus lugut untuk kawan-kawan bak serdadu 
mulai Meulaboh sampai Ke Ulee Lheu
juga Kuta Raja sampai ke Pidie
terus bergerak bahkan sampai yang tercatat 
pada peta Negeri Pasir Karam menjelajahi keluasan 
perjuangan dengan tetap merawat ingatan
di luhur kata kaum ulama 
sambil tanpa henti membangun kesetiaan

Bagi orang-orang asing 
bukan saja merambah tapi berhasrat jadi penakluk
menguasai bumi Aceh dengan melumuri darah 
tanpa rasa bersalah dan aku tak ingin berkhianat, tapi hanya bersiasat
agar aroma lada tetap menjadi milik leluhurku
harus mampu menaklukan dengan getar jiwa
mengasah strategi untuk berbagi 
dalam perjamuan cinta dan air mata

Begitulah sesungguhnya aku ingin bersaksi dari Meulaboh
menyerahkan seluruh hidup sampai ke pelosok jiwa
meski belum apa-apa di antara garis awan 
memanjang di langit, juga jejak-jejak rasa saat bergerak 
antara Lhok Bubon menuju Meulaboh; 

“Besok kita akan minum kopi di Keude Meulaboh  
atau saya akan mati di Perang Suci.” 

Kalau kini ragaku terbaring di Gunong Glee Rayeuk Tameeh
sesungguhnya sedang kutanam cita 
dan belajar cinta negeri Aceh. 

Parepare, 2021


 

Labirin di Makassar 

Di antara beberapa jalan yang tak jelas namanya
bayangku telah menyamar menjadi pengembara
berdiri mematung di simpang jalan, senja luruh
seperti sedang mengukur imannya dari rumbai embun
aku telah berlalu berselisih jalan dengan bayangku

Entah di mana bisa kutemui kembali bayangku
di mulut-mulut jalan berongga remang menjadi cermin

lewat ujung Mappanyukki atau selatan Pettarani
seperti sejarah kota ini yang lama tenggelam
ke dasar laut hingga hanyut ke pulau Samalona

Sungguh aku seperti tak mengenal bayangku
di mana kini persisnya hanya banyak kelokan
menjauh mendekat terburu dengan ceroboh
mengabur di mata dan mungkin telah jadi buron
masih terasa Makassar masih menyimpan ragu. 

Parepare, 2021 


 

Me¹ 

Me, sudah berpuluh tahun aku setia menemani
termasuk pada musim yang berbeda, timur dan barat
bila pekikmu memanggilku selalu menyatu 
bersama gemuruh ombak yang telah membangun rumah cuaca
dengan pilar-pilar tubuh angin. Dunia telah kita temukan, Me
meski hanya perempuan nelayan selalu berlari di pesisir
memunguti lokan meniti buih ombak 
hidup menggenggam ketakpastian serupa jalan takdir 

Me, telah kutinggalkan bersama kenangan 
perempuan berkulit legam beraroma laut
cinta yang terlabuhkan dari pulau seberang 
hanya membawa kata-kata
terbungkus cahaya matahari
sambil merangkul keruh buih ombak
tak ada kekalahan yang harus disesali
sebagai kabar perlu dirawat 
agar tetap memiliki riwayat
Me, siapa pun tahu bahwa jarak sering dipermainkan waktu
menjadi nyeri yang dirabakan ke dada
aku menjadi air laut yang disiramkan hingga perih

Sebagaimana terpikirkan untuk beranjak dari bibir muara
tempat biasa melabuhkan gaduh cuaca di dada 
mengemas bentangan jaring, menaiki tangga rumah kayu yang miring
karena tak ada lainnya untuk sebuah perjalanan panjang
doa hanyalah sebatas kemampuan untuk memohon
mungkin dapat mencegah ketakmampuan yang tak terucap 
Me, hidup memang tak selamanya selalu lurus
tapi tak boleh pasrah, bahkan harus diikuti tetirah
sebab takdir tak pernah berdusta pada pasang surut gelombang
yang sering berdusta mungkin hanya pikiranmu

Apalagi yang dicemaskan, Me
kesetiaan demi kesetiaan yang pernah dirajut serumit jala
sunyi pantai dijadikan tempat belajar membaca nasib 
bahkan rambutmu yang basah tak pernah berdusta pada musim
bersandar seperti perahu dari seberang hendak berlabuh
dan dermaga hanya berpenghuni anak-anak kita
berkejar-kejaran di halaman mimpi tidur malam yang nelangsa

Berpuluh tahun sudah kita nikmati badai 
semakin menyepuhkan warna bola matamu 
suaramu tak terasa berubah sekeras debur ombak
kekerasan hidup telah mengajari untuk bersyukur
tak membiarkan waktu meretakan seluruh tubuh
hingga merapuh. Sebab selalu setia merangkai
bagian-bagian untuk menyambung kehidupan
bertautan merajut sehari selembar benang
sebulan sehelai kain menjadi bentuk tawakal 

Masih saja kau pasang bubu malam ini di dekat rerimbun bakau
memintas ombak-ombak kecil
bayangmu nampak rapuh
dimainkan cahaya lampu perahu nelayan
keluhnya tertahan asin air memainkan rasa perih di telapak kaki
gerimis malam telah memadam bara di dada
untuk sementara 

Me, bila kau kini telah pergi jauh. Bahkan jauh sekali
melintasi entah berapa samudera menuju gugusan pulau abadi
di pekuburan berpasir ini aroma wangi tubuhmu masih terasa
untukku dan anak-anakmu yang setia merawat cinta
bukankah cinta dan kematian masih bersaudara?
bahkan sangat akrab serupa cahaya jatuh di laut
hanyut dalam pelukan gelombang

Aku masih setia di sini memunguti daun-daun kering
yang mulai melumut di gundukan tanah dekat nisanmu
mencari keheningan mewarnai langit bergaris awan 
sambil terus melafalkan ayat-ayat
untuk selimut tidur panjangmu 

Bukan tak mungkin, hari-hariku yang tersandera gelisah
adalah khusyuk mempertemukan denganmu esok
sebuah penyerahan untuk segera pulang, Me
dan hanya kau yang tahu bahasa cinta
meski tak sesederhana menafsir syair kematian.

Parepare, 2021

¹Me: panggilan seorang perempuan bernama Mesaroch 

 

Baca juga: Sajak-sajak Putri Sekar Ningrum

Baca juga: Sajak-sajak Dessy Itaar


 

Bertanya Kepada Cornelis Speelman 

Sore menjadi begitu akrab dengan cahaya
menerobos di tingkap atas jendela 
kutuangkan segelas wine¹, mari tuan
biarkan raga ini hanyut di kehangatan
hingga sampai kota tuan, Rotterdam, esok pagi
lalu menyantap rijsttafel² pada lapar yang ranggas

Aku masih duduk mencangkung menghadap dinding
terasa auramu, tuan Speelman, menguar di ruangan
bahkan menulis di dinding lembab tentang bunga pala
wangi cengkih, bahkan lada beratus karung membayangi
darah tumpah dengan mudah sebab sejengkal tanah
lalu kau tuliskan tanyaku: 

“Mana sahabatmu Arung Palakka dan Kapiten Jonker?”
Jawabmu hanya menuliskan satu kata: Tidore
aku seperti mencium aroma cengkih di tanganmu
dan sisa anyir darah dari palka kapal pribumi
yang kau bakar dengan desis peluru berudara mesiu

Minumlah segera, tuan, sore akan menghabisi cahaya
merampas jalur-jalur di laut yang telah kau susuri
mengamati sisa kesenyapan tanpa rasa aroma rempah
tuan, Tidore lelah tertidur berseprai kusut 
aku telentang di pantai Tugulufa dan tuan
masih ingin melepaskan peluru ke dadaku. 

Makassar, 2021 

¹Wine: anggur 
²Rijsttafel: meja nasi 


 

Di Desa Kenangan 

Semenjak engkau bercerita tentang desa yang jauh
di gigir bukit dengan embun mengusap getar angin
dari arah selatan lewat jalan setapak, lereng terjal 
selalu kurindu membaca ingatan 
menelusuri jejak yang tak tercatat
rerimbun pohon-pohon tua menyapa akrab
lembabnya menyusup di mata
bau tanah menjadi penjaga di petak jantung
yang terus menjejak mengurai musim
nafas tak henti merajut udara semesta 

Ada peradaban yang tak hilang di desa ini 
bahkan dilahirkan dari garis-garis aksara
membentangkan simbol-simbol kearifan
di selembar kain yang bergambar tanduk rusa

Burung-burung masih setia bermain cuaca
membaca tanda-tanda setiap yang asing
entah berapa hasrat ingin merawat
meski nasib memiliki batasnya

Bahasa ibu selalu dirindu dari pawon rumah
bijak tuturnya seharum bau rempah dari kuali
mengusik setiap cinta yang mengetuk pintu
seperti doa sebelum memukul bedug di surau

Engkau menceritakan tentang bahasa kerinduan
aku diam menangis mengaharu di seluruh dada

merambat di udara lengang seluasan desa 
sedang tanah selalu bergetar menyambut kisah
mencium bau daun bambu tempat dulu berseru
memukul kentongan atau kaleng biskuit 
berulangkali membisingkan sunyi pelataran
dengan balai-balai yang basah berembun

Setidaknya ingin kembali sebelum kenangan luruh
padahal telah tersimpan di ingatan
petuah ibu sebelum tidur; cuci kaki di air gentong
jangan duduki bantal atau potong kuku malam hari
semuanya menjadi diri sendiri yang tak pernah cemas

Inilah jagat sederhana yang diciptakan
sebelum masuk lebih dalam mengenal diri
tak perlu menghela napas panjang, apalagi keluh
sebab waktu telah memberikan arti penuh isyarat
lalu menjadi hikayat merindu kisah

Di desa kenangan telah mengurai resah di dada
seperti cinta merayakan pertemuan.

Purbalingga-Parepare, 2021


 

Perbukitan Karst 

Ada yang membisikan suara nyeri 
di antara cadas-cadas bebatuan kapur. Membentang
di pinggang gunung Bulusaraung 
tangan air dengan jari-jemari lentik gemerecik 
menelusuri dasar gua dari proses 
pengendapan laut purba
menetes air kehidupan dari ujung keruncingan stalaktit
seperti ingin mengabarkan pada dunia tentang senja

Pada siapa suara itu harus tersampaikan, bukan sunyi
atau seekor anoa tua yang melesat di jalan ingatan
padahal tangan-tangan sudah meraba 
bukit Bulu Matojeng juga sebagian angslup 
ke dasar gua Leang-Leang
mengulurkan bayangan di dinding-dinding gua
puluhan telapak tangan melambai 
berpuluh ribu tahun lalu
di lantai berundak-undak 

terkabarkan peradaban manusia
serupa jalan takdir membuka lembaran prasejarah

Angin yang mengarus seperti mendekat
pada kepunahan yang dillit di kaki cadas bumi
masih terdengar lirih nyeri memahami ketiadaan
padahal kehidupan tak sekadar menghancurkan
atau berlindung di balik rahasia semesta
tanah akan menjadi kubur yang sama
selalu patuh pada kehendak waktu 

Suara itu seperti mengantar siapa saja untuk menemui
terjal perbukitan karst dalam bayang-bayang luka
ancaman silih berganti 
berkelindan dari deru mesin
mengulurkan tangan besi 
mengikis sisi perbukitan
mencemaskan rumbai-rumbai kabut di pagi hari
terkubur di lubang-lubang tambang
sejumlah artefak sisa peradaban membisu
di dalam gua paling sunyi. 

Maros-Parepare, 2021 

 

Baca juga: Kabar Burung Mengendap di Meja Makan Kita

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

Baca juga: Kopi dan Covid-19

 

 

 


Tri Astoto Kodarie, penyair dan guru, lahir di Jakarta, 29 Maret 1961. Menerima anugerah seni bidang sastra dari Dewan Kesenian Sulawesi Selatan pada 2000. Buku puisinya yang telah terbit: Nyanyian Ibunda (Artist, 1992) Sukma Yang Berlayar (KSA, 1995), Hujan Meminang Badai (Akar Indonesia Yogyakarta, 2007), Merajut Waktu Menuai Harapan (Frame Publishing Yogyakarta, 2008), Sekumpulan Pantun: Aku, Kau, dan Rembulan (De La Macca, Makassar 2015), Merangkai Kata Menjadi Api (Akar Indonesia Yogyakarta, 2017), Kitab Laut (YBUM Publishing Parepare, 2018), Tarian Pembawa Angin (YBUM Publishing Parepare, 2020) Tembang Nelayan Dini Hari (Satria Publisher Banyumas, 2021), Tak Ada Kabar Dari Kotamu (Satria Publisher Banyumas, 2021) serta puluhan antologi puisi bersama di berbagai kota di Tanah Air. Kini, tinggal dan bekerja di Parepare, Sulawesi Selatan. Ilustrasi Pingkan Patricia