Sajak-sajak Ahmad Masyhur 

Irama Petani 

Berjalan di antara 
pematang tipis nan berkelok 
tumpukan gabah menindih raga 
kaki tanpa alas setapak demi setapak 

Berirama sayu, lelah 
merangkul letih menguliti 
kadang terseok acapkali terjatuh 
tak ada beda, terik membakar 
ataukah dingin mendekap 

Yogyakarta, 2021 

 

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

Baca juga: Sajak-sajak Luis Mahuze

 

Desa Darek Yang Sendu 

Jalanan bermetamorfosa menjelma sawah
tiada peduli, yang duduk di kursi 
masih sibuk menumpuk ilusi
teriakan-teriakan kosong hanya menjadi gaduh 

Tetua menjadi kekanak-kanakan 
bocah-bocah pergi tanpa kaki pijakan 

para Tuan Guru sejenak lupa diri 
megah dunia terlalu indah tuk dimungkiri

Saudara menjadi musuh
tetangga, tak ada lagi bersahabat 
semua telah mabuk, entah dengan apa 

Yogyakarta, 2021 


Gunung Pupuh Gunung Mareje

Elang liar menatap mangsa 
mata tajam memanah, menghunus 
pepohonan hijau nan kokoh 
jadi arang jadi abu di jangkis inaq-inaq jeleng

Dulu lebat kini gundul 
tak ada yang berpikir mudarat
datang hujan, dendang longsor
menangis bukan sesal

Yogyakarta, 2021 


Bendungan Pengga

Sekawanan ikan bermain 
pada deru ombak yang malu 
nila, mujair, mas, dan tawes, 
semua saling beradu 
dulu, dalam menghunus 
kini, dangkal mengambang 

Eceng gondok dan kangkung ungu 
tumbuh liar merayu-rayu 
gerombolan kerbau sigap berbaris 
ditemani bapak tua sambil ngawis 

Burung bangau berdansa ria 
ditemani pipit menyulam singgasana 
hujan lebat, rintik menghujam 
matahari sembunyi sebelum datang malam 

Yogyakarta, 2021 

 

Baca juga: Tak Ada Sesuatu yang Baru di Bawah Matahari

Baca juga:  Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia


Ibu-Ibu Pedagang 

Jauh sebelum fajar menyapa temaram
suara mesin mobil carry  
mengerang-ngerang 
di atas punggung gang 

Bale Luah, Bale Bowo, dan Tanggong 
buah-buahan, sayur-mayur, ikan pindang, ikan peje 
sumber rizki papuq inaq kake 

Yogyakarta, 2021


Pedagang Lontong Tahu

Teng…teng…teng…
alunan nada mangkuk dan sendok 
berkolaborasi menyajikan bunyi
saling bersahut-sahutan

Dengan gerobak tua 
dia ayunkan kaki bergerak 
meratap ke kiri ke kanan

Tak henti menatap sembari berharap 
istri dan anak-anak, ia tinggalkan sejenak 
menyambut hari yang lebih cerah 

Yogyakarta, 2021


Perempuan Buruh Tani

Ia membungkuk bukan karena malu
raganya sudah terlalu letih untuk dipaksa
miskin bukan berarti tak giat
buruh tak lantas ia orang tak berilmu

Ia mengajari huruf alif sampai ya 
bila azan asar berkumandang 

diajarinya kitab-kitab
dari matan ajrūmiyah hingga gāyatu al-taqrīb

darinya aku dapat bahwa 
mengajari tak selamanya tentang materi 

Yogyakarta, 2021 

 

Baca juga:  Sajak-sajak Fanny Poyk

Baca juga: Haruna dan Masalahnya

 

 

 


Ahmad Masyhur, kelahiran Derek, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, 14 Juni 1992. Peminat kajian Sastra Puisi, isu seputar Timur Tengah, dan Kajian Keislaman. Alumnus program S-1 Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Darul Ulum as-Syar'iyyah Hudaydah, Yemen (2011-2015) dan program S-2 jurusan Interdiciplinary Islamic Studies (IIS) di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2018-2021). Buku antologi puisi terbarunya Di Kelopak Mata Altar (Guepedia, 2020). Beberapa tulisannya telah terbit di sejumlah media massa. Kini, aktif mengajar di Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta. Ilustrasi Bayu Wicaksono