Sajak-sajak Shabrina Adliah 

Lagu yang Berbeda 

Sambil menyisir Neva 
ini benak memutar rekaman 
tentang senyummu kemarin sore 
dan cita-cita kita menjadi komposer abadi. 

Memang benar, wahai Merpatiku 
rasa hidup di kota asing ini 
seperti harmoni mengalun datar 
jika kau tak menggubah melodinya. 

Aku lengkap denganmu 
kamu sempurna bersamaku 
namun, atas dasar sepucuk surat 
maafkan aku harus memutus ini lagu. 

Seekor merpati harus pergi 
tuk kepakkan sayap ke negeri sana 
bergabung sama-sama para garuda 
menyanyikan lagu berbeda. 

Namun bila ada waktu, wahai Merpatiku 
rasa hidup di kota kelahiran adalah 
keselarasan. Kuingin kau rasakan, 
berkenan menggubah melodimu. 

Sambil menyusuri Barito 
ini benak memutar rekaman 
tentang senyummu kemarin sore 
dan cita-cita kita menjadi komposer abadi. 

2021 


Nanti 

Duduk di bibir sungai beku 
padahal kemarin terasa hangat. 
Sebelumnya, dingin mencucuk tulang 
udara berkabung musim sudah berganti. 

Kapal pesiar melintas perlahan 
rasa-rasanya aku ingin menumpang pulang 
teringat padamu, terngiang kisah sedang bertunas. 

Ah, aku tak pandai 
mengungkapkan, menjelaskan diriku. 
Apalagi, kamu dan aku sungguh berjauhan. 
Sengaja kuabaikan derita, kuingin cerita bermekar. 

Ketahuilah, 
barangkali aku bukan orang setia 
sempurna seperti kau pikir selama ini. 

Maka bila kau berdoa tuk kebaikanku, 
itu mengiris ini hati. Sungguh tak masuk akal, 
aku khawatir doa itu sia-sia. Maka lebih baik 
tujukanlah untukmu dahulu. 

Sebab aku malu 
tak tahu betapa sering 
hanya bermimpi menjadi kesatria sejati 
aku ingin menumpang kapal, menghampirimu 
walau belum berpedang. 

Masih berjuang sendiri, 
sering termenung di pelabuhan tua 
sambil menerka takdir, tak hanya diam jua. 
Pastikan langkah kita bertemu kembali, di saat aku 
tak lagi malu padamu, Tanah Airku. 

2021 


Dari yang Tak Iri 

Di bangku taman bersarung tangan. 
Angin rasa-rasanya kian bertambah dingin; 
pepohon menari-nari mempersembahkan dedaunan 
yang rontok bagi pejalan senja. 

Melangkah terus, 
aku mengingat kisah sederhana, 
pernah disampaikan kakek dahulu; 

“Daun tak segan menggugurkan diri 
bila sudah jenuh dan letih. Dikata hanya bisa 
menumpang ranting hidup. Cemburu pada kehidupan 
rumput yang empunya kaki sendiri. Gelisah membandingkan 
diri dengan bunga mekar di tengah semak. 

Padahal, 
yang berada di pucuk 
adalah cita-cita semuanya. 
Demi rasa bangga tak dimiliki sang daun. 
Menebar kalimat palsu. Betapa keberadaan daun 
di langit adalah beban bagi bumi yang menopangnya. 

Ada haru 
sebab rumput dan bunga bebas berpijak 
di daratan manapun yang disukai atau tak dicintai  
Padahal, mereka saling iri. Bahkan pada diri sendiri.” 

Kisah selesai, 
aku putuskan pulang  
makna sudah kuingat kembali seutuhnya 
tak pernah sesal menjelma sebagai pucuk birch

Aku bisa melihat hal-hal secara jelas. 
Rahasia ini negeri, juga jalan pulang ke kampung. 
Menyusun rencana, menceritakan kisah lembayung 
ke teman-temanku suatu hari nanti di saat senja sama warna. 

2021 


Pensil 

Pensil sependek kelingking kumainkan di ujung jemari. Tiba-tiba, jatuh, patah. Mau kuraut, runcing, jadinya tumpul. Biarlah kusimpan saja. Sayang dibuang, pemberian mamak dari kampung. 

“Jangan sembarang goreskan ini pensil,” pesan terakhirnya. “Kenapa?” kutanya. Sia-sia, ia tak menjawab, hanya senyum kecil menggantung di pipinya. 

Menghabiskan waktu di Arbat. Kulihat para pelukis sibuk mengais rejeki di jalanan lama. Aku berlagak ikutan jadi seniman walau amatiran. 

Meniru cara jemari-jemari para pelukis menari lincah. Ada yang menggores sketsa wajah nan jelita dan ada yang mencoret garis-garis ala Malevich. 

Ah, gambar sketsa milikku sendiri hancur, semrawut. Pasrah, aku melangkah pergi. Di ujung jalan, terdengar suara hiruk pikuk. Para pendemo berorasi sambil menyontek catatan. Suara riuh tepuk tangan membahana ke angkasa. 

Aku mendekat, melirik. Tak berapa lama massa pun bubar. Wajah-wajah bercampur, geram, simpati. Orang-orang melangkah, sedang yang asing menebar kertas, tanpa ekspresi. 

Perlahan kupungut, kubaca. Kata-kata sederhana, rupanya buat merinding, seakan-akan bertengger sihir sebab ditulis menggunakan pensil, bukan yang lain. 

Sekarang, kupahami pesan mamak. Pensil bisa dilihat, didengar. Dapat mendamaikan, memprovokasi. Mampu mendatangkan kerinduan, menghadirkan nostalgia. 

2021 


Bagi yang Terlupakan 

Bila tamak memakan jiwa 
satu detik, begitu mahal sebuah tawa. 
Palsu sembunyikan jemawa, terkubur rawa 
serupa pemuda yang tak lagi empunya wibawa. 
 
Kita seharusnya merana 
meski sudah mengikat fortuna 
tak segan menolak rencana-rencana. 
Jangan biarkan musafir berhenti berkelana 
singgahlah menengok Merah Putih di nirwana. 

Akhirnya, sekawanan anak kecil dan para pengampu 
dapat tertawa ria walau berlagak mampu. 
Lemah, tertatih sodorkan lampu 
mengutuk tak perlu, 
jadi tumpu. 

2021 


Pulang 

Tangan menjerat kelat erat 
bermaksud merampok angin 
agar tak belok ke pelabuhan lain 
arah sekoci sekecil kelinci, titik jauh 
sasaran sauh menuju tanah bertahta cinta. 

Ya, walau badanku tak teramat kuat 
sudah kusodok masuk semua gelodok 
yang kukunci khusus selama di Rusia berisi ilmu 
ampuh pembasuh keruh sebagai hasil olah citaku 
sang pencari pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi. 

2021 

 

 

 

 

Shabrina Izzati Adliah, kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur, pada 26 November 1997. Ia menyukai dunia puisi dan menekuni kegiatan tulis-menulis. Adalah lulusan spesialis program studi Telecommunications Systems and Railway Transport Network di Russian University of Transport, Moskwa. Puisi-puisi ini termaktub dalam antologi puisi Doa Tanah Air: suara pelajar dari Negeri Pushkin yang akan segera diterbitkan.