Sajak-sajak Ahmad Ilham Danial 

Kazan 

Perlahan, 
angin senja berarak 
menuju malam maha kelam 
awan menghalangi pendar langit, 
cahaya lampu redup, kabut selimuti kota, 
beku sekujur tubuh di penghujung musim dingin. 

“Bersenanglah! 
Hidup laksana perayaan! 
Jangan kau sisakan makanan, 
bekal berlimpah di rumah,” teriak Paman Lyev. 
 
Sementara, si pendek, Vladimir 
mengerang. Sorot matanya tajam bagai elang, 
setiap kali seakan ingin menguliti rekan bicara. 
“Hai, jangan takut! Lawan terus,” teriaknya. 

Deruangin, 3 Maret 2021 


Moskwa 

Pagi bermekar 
di Stasiun Kazansky. 
Wajah-wajah asing tiba 
dari tujuh penjuru negeri, 
berturut-turut keluar gerbong.  

Salju tipis pelan merinai, 
mengendapi peron, melayang 
kesasar, bertengger di rambut Maria 
tanpa mantilla. 

Polisi mendekati, 
melirik, mencurigai seorang pemuda 
lesu, pucat, lunglai, ia menenteng kardus 
“Dari mana? Untuk apa ke sini?” tanya polisi.  
Bibir pemuda serong; mental menciut, kempis.   

Di sepanjang Tverskaya, 
tua, muda, berpacu nyaris bak berlari. 
Bagi mereka; waktu adalah uang, kawan! 
Ya, setuju aku, harta tak dapat membeli waktu. 
 
Deruangin, 15 September 2020 


Jakarta 

Seorang ibu 
mengendarai motor,
membonceng bocah tak berhelem.  

Penjual ketupat 
menjajakan dagangan lezat, 
di pinggir got, sebelah pasar onderdil, 

Tukang catut 
berdiri sepanjang pagi, 
menunggu siapa dan apa 
yang bisa dipapah pulang. 
 
Sepi, 
jika tak keluar rumah, 
tak ada beras untuk ditanak 
bagaimana membeli air tuk mandi? 

Sialnya, 
bedebah kerah putih 
tak juga berhenti meracau. 

Deruangin, 7 Februari 2021 


Kecemasan 

Sejak semalam hingga sepagi ini, 
orang-orang tak sabar antrean, 
menutupi separoh wajah. 
 
Tabib-perawat bertumbangan, 
lebih banyak lagi yang tewas, 
fungsi mata dan hatinya, 
meski ada itu kuasa, 
siapa yang sakit, 
sebenarnya? 
 
Warta tiba, 
tirta pegunungan, 
keruh campur lumpur, 
di utara cemas menunggu, 
jangan sekaligus, ya Tuhan. 

Deruangin, 22 September 2020 


Di Rumah Sakit 

Temaram lampu rumah sakit, 
wajah-wajah cemas tunggu kabar, 
air mata tumpah; ada isak dan teriak, 
lubang-lubang digali, ditambah sejak pagi  
menunggu pengantar terakhir tanpa pelayat. 
 
Pemuja-pemuja 
bebal bersorak-sorai,
tak ada lagi malu-malu, 
si tolol selalu mengamini. 
Kita hanya angka-angka, 
diatur sesuka hatinya. 
 
Mulut-mulut dikunci  
kaki, tangan dirantai lagi 
mata, telinga di mana-mana,
tak ada guna tutup pintu, jendela 
tembok-tembok bisa berbicara jua, 
kehangatan hilang, pelita tertiup angin. 

Esok apalagi? 
Pasti masih tuli. 

Deruangin, 9 Agustus 2020 

 

 

 

 

Ahmad Ilham Danial, sejarawan dan peneliti. Kelahiran Jakarta, pada 11 November. Suka menulis esai dan mengunjungi museum. Dia menamatkan pendidikan S1 Sastra Rusia di Universitas Padjadjaran, pada 2012 dan S2 Ilmu Sejarah dan Arkeologi di Universitas Federal Kazan, Rusia, pada 2016. Kini, tercatat sebagai mahasiswa program Doktoral Ilmu Sejarah dan Arkeologi pada universitas yang sama di Kazan. Tulisannya berupa esai dan artikel tersebar di berbagai media dan jurnal. Sajak-sajak di sini menjadi bagian dalam buku antologi puisi Doa Tanah Air: suara pelajar dari negeri Pushkin yang akan segera diterbitkan di Jakarta.