Sajak-sajak Renggi Putrima 

Sembunyikan Senja 

Kekasih, 
kutuliskan ini surat penuh bahagia 
pada diam aku ingin bercumbu mesra. 

Sayang, 
apa kau ingat; 
saat berlari tak jua sampai, 
merebah tubuh singgah ke pantai, kau malah berlalu. 

Cinta, 
Jika kau baca ini surat, 
bungkam, berdiam, lebih baik 
kau tahu di mana menemukanku 
pada tempat; langit tudungnya, tanah sajadahnya. 
 
Kekasih, 
aku sudahi dulu 
tak usah kau balas 
sebab senja telah kusembunyikan. 

Jakarta, 2021 


Penghibur 

Gairah di ujung pena, 
mengungkap tawa jiwa menguap. 
Mengais kata meski debu endap di pikiran. 

Kekelaman jadi tema 
melupakan bahagia bagi pencari 
cinta dan senja sebagai pahlawan. 

Puisi-puisiku bercabang mata air 
liar tak mengapa, biar bak bualan, 
kadang menggombal saat asmara tiba. 

Serupa peneduh hati; kocar-kacir 
sekilas memandang, kembali mengulang 
 
Tangerang, September 2021 


Subuh 

(1) 
Malam beri ruang, 
jeda sejenak pada hati yang lelah 
mencari rasa bersusah payah seharian. 
 
(2) 
Sesosok roh 
gentayangan di bibir jalan 
tak singgah, berlalu begitu saja. 

(3) 
Pikiran mumet 
melumat malam mencumbu jenuh 
ah, sial aku! 

Jakarta, 2021 


Romansa Hujan 

Aku ingin berkhayal 
tentang dedaunan basah oleh embun 
yang ujung gentengnya berirama sauh 
lalu gerimis luruh menghapus jejak di tepian jalan 

Kadang semesta berkuasa lain 
menempatkan jiwa dalam tanda tanya 
aku kuyup bukan oleh hujan 
oh, air mata! 
 
Jakarta, 2021 


Bisik Tu(h)an dan Budak

Hidup Tu(h)an bagi budak 
serupa rantai terali-terali kelam. 
Merapal doa lalu memungut dosa
semua ini Tu(h)an tuntun penuh harap 
menyembah, merangkak, meracau pahala. 

Wahai Tu(h)an, 
kami budak, tonggak nafsu tak adab 
selangkah dekat, berlari jauh, penuh peluh. 
 
Oh, Tu(h)an,
mengapa diam? 
Bukankah kita selalu berbincang di malam pekat? 

Tentang Tu(h)an 
Engkau sungguh penyayang
aku budak sungguh tak tahu malu. 

Jakarta, 2021 


Jelmaan Puisi 

Sedihku menjadi puisi 
kata per kata menyayat hati 
bagi yang peduli biasanya singgah, lalu pergi 

Dosa dan doa tidak bercampur 
aku menatap gulma kental berlafaz syair sajak, 
sejak dalam rahim ibu tampak bahagia sempurna. 

Aku, kamu, puisi 
menjelma penyelamat 
di jalan menemukan Tuhan 
sebab ada ruh yang tak kelam 
serta Tuhan yang tidak pernah kejam. 

Jakarta, 6 April 2020 


Senja di Sydney 

Matahari mencumbu tubuhku 
burung paruh panjang mondar mandir, 
aku ingin beri roti tapi tak sampai hati

Jiwa dan pikiran seakan tinggal abadi 
menyusuri jalan bising, pesing, pusing 
menghitung koin tersisa pemuas dahaga. 
 
Senja tiba, ada mimpi belum tuntas 
aku berjalan terus, selip seonggok kenangan 
kelak bersua kembali, susuri jalan panjang Harbour Bridge. 

Kudung malam tiba, langit berpendar 
aku biarkan puisi-puisi kering di bangku taman. 

Sydney, Maret 2018 

 

Cinta Ibu 

Ibu memberi cintanya 
dalam cobek cabai belacan 
menciptakan sabar saat memisahkan 
kentang kecil di antara lezatnya rendang. 

Ibu menyambut pagi 
menumis tahu, aku kenyang kasih sayang
rumah sebagai tempat berpulang para perantau
cinta Ibu tidak mengenal kata habis

Ibu, aku lapar. 

Palembang, September 2020 


Di Rumah Ibu 

Di rumah ibu, 
beban menunggu sabar 
di pagar enggan masuk, meski aku mengajaknya. 
 
Di rumah ibu, 
aku menjelma bayi 
tak ingin tahu apa pun, 
piring berisi cinta, dahaga bercawan sejuk. 

Di rumah ibu, 
malam tak mengganggu 
Lelapku sempurna, letihku tiada. 
 
Saat melangkah ke pintu 
beban menyapa, merengek manja
minta gendong ke mana-mana
 
Sempurna di rumah ibu, 
sebab pintu adalah doa. 

Jambi, Mei 2020 

 

 

 

 

Renggi Putrima, penikmat seni dan sastra, kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, Riau, pada 9 Oktober 1990. Ia adalah lulusan Universitas Sumatera Utara pada 2011. Selepas tamat, mengawali karir profesional dalam dunia jurnalistik bersama Metro TV sejak 2012. Berawal sebagai reporter dan kini menduduki posisi produser. Aktif berkegiatan sebagai co-curator di Sajak Kofe sebagai bagian dalam mengaktualkan seni dan sastra yang digemarinya.