Sajak-sajak Amalia Raras 

Stasiun Kazansky 

Mataku sayu mengantarmu 
saat gerimis pupuh di kereta 
kau pergi sementara waktu 
bagiku pusaka kini petaka. 

Kau genggam kelingking  
mendekap erat, merinding kulit, 
kian bertambah membuncah kencang 
melepas sauh, aku enggan meniup peluit. 

Hari berganti jubah, langit bertopi kelabu 
melewati musim baru tanpamu 
serpihan pasir putih di kalbu 
melekat debu menatap haru. 

2021 


Bauman 

Di bibir Volga, 
kita bermandi butiran salju 
bibir pucat masai, sukma berderu-deru 
membelai ragu-ragu, memeluk malu-malu. 

Menawarkan harum petal bunga; 
menengok semburat senja perlahan lenyap, 
kau tarik tanganku lembutnya; kisah cinta, janji setia. 
Bergegaslah ke Bauman, sayang. Bintang redup segera senyap. 

Daun-daun berbisik, 
seakan abadi susuri taman 
hikayat kisah cinta seorang permaisuri 
aku rasakan jua akar-akar bertunas di dada. 

Orang-orang beradu langkah 
sedang kau genggam jemari penuh kasih, 
sorot mata jernih, buat jantung bergelombang   
pada Bauman biarlah bibirmu bertengger atas bibirku. 

2021 


Elegi Api 

Bantal sebagai saksi 
bingkai foto siapa aku tangisi 
ruang hampa serupa belati sayati hati. 

Senja sendu 
diempas keinginan. 
Hampa jarak beradu dadu 
ada pekik tupai di malam purba. 

Angin genit bertamu, kopi aku seduh 
berharap kesepian terkikis merdu. 
orang-orang mendistraksi rindu; 
sedang aku dicandu elegi subuh 
mengingat kau yang jauh. 

2021 


Percintaan Taman Gorky 

Musim dingin tiba lebih awal 
bunga mengerut sungai membeku, 
gemuruh badai salju buat gigil. 

Kau mengecup keningku 
menghangatkan hati beku 
satu senyum, cukuplah sudah. 

Bulan menggantung di ujung gedung 
ada malaikat menjelma manusia 
diam berbalut syal di pundak. 

Kisah percintaan serupa musim 
mendekap erat, ragu memuncak. 
mencintaimu adalah doa-doaku. 

2021 


Tak Nada Tak Jiwa 

Dinding asrama penuh kenangan 
merapal kekang saat rinduku sepertiga waras 
menguap bak renjana, tak bernada, tak berjiwa. 

Segelas kopi dan semangkuk mi, 
cukup sebagai penghapus rinai gerimis 
aku tersesat badai seonggok kebahagiaan. 

Ibu, nestapa kawanku, air mata penghangatku 
pada telapak kakimu aku bersimpuh, 
bayang matamu aku berteduh. 

2021 


Negeri Jauh 

Beban tugas kian mengejar 
percikan api membakar 
gembira ria terlempar
badan kaku terkapar. 

Musim kian pengar 
bagai pipit di sangkar 
disuguhi roti ala kadar  
sial, hidup ternyata kelakar. 

2021 

 

 

 

 


Amalia Raras Putri Cahyadi, mahasiswa kelahiran Bandung, Jawa Barat, pada 22 September 1999. Pada 2017-2018, ia mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar kerja sama Pemerintah Federasi Rusia - Republik Indonesia dan menamatkan sekolah di Kota Vladimir. Kini, dia tercatat sebagai mahasiswi S1 Zoology di Russian State Agrarian University - Moscow Timiryazev Agricultural Academy. Sajak-sajak Amalia Raras ini menjadi bagian dalam buku antologi puisi Doa Tanah Air: suara pelajar dari negeri Pushkin yang segera diterbitkan.