Sajak-sajak Antonius Tanan 

Nostalgia Saint Petersburg 

Pyotr Yang Agung menjeratku akan kisah 300 tahun silam 
sang raja bersama Jean-Baptiste Alexandre Le Blond, 
bersekutu teguh meramu visi melintasi waktu. 

Petersburg serupa kanvas maha besar di tangan pencinta imajinasi 
kanal, jalan, dan gedung digariskan mengabdi pada keindahan 
memaksa jutaan orang jatuh cinta sebelum bertemu, 
hanya maha karya sanggup memanggil manusia bertualang. 

Melintasi gugusan awan, akhirnya aku menapaki Petersburg 
musim semi menyambut dan mendekap erat  
sinar matahari lembut menyapa pagi 
tatkala debur air di kanal bernyanyi bersama angin 
aku memeluk erat maha karya Pyotr Yang Agung 
Petersburg bagai seni sejati tak tersisih oleh alih generasi, 
monumen dunia tak susut dihantam waktu. 

Petersburg, kujelajahi bersama belahan jiwa, 
teman hidup tiga dasawarsa, 
dalam pesona; kurayakan dua jadi satu, 
kugenggam dia melintas kanal dan jalan 
kucium dia di bawah pesona arsitektur kota 
Petersburg membakar ulang aroma cinta, 
menabuh kembali lagu rindu dulu kala. 

Petersburg, aku kan kembali 
bersama belahan jiwa tiga dasawarsa 
mengulang janji suci kami di altar dulu 
tuk membakar hasrat, mencipta maha karya 
kisah kehidupan kami tak menyerah karena waktu 
pupuh perkamen cinta, tak kan pudar oleh musim 
kepada keabadian, kami ingin berpaling. 

24 Februari 2021 


Keesaan di Negeri Pushkin 

Pada negeri Tuhan tak terdaftar 
tak punya perkamen kelahiran 
tak tercantum di lembar altar 
tak ikut pemilu, apalagi partai Dia dirikan. 

Sungguh, Tuhan tak disapa 
menihilkan-Nya di merahnya tembok 
huma-huma penuh semerbak dupa; 
tak digugat, dilabrak, atau digembok. 

Ah! Baru aku sadari akan Isa 
Dia memang tak empunya alamat, 
tak perlu paspor dan visa 
      aku mengembara ke Barat 
bersama hati selalu mencari, Esa. 

23 Februari 2021 


Perjuangan Kehidupan 

Kalau manusia pernah meniadakanmu 
adalah hak tuk tetap ada; perkasa, tegar 
kalau cinta pernah mengoyak perih hatimu 
adalah hak tuk merenda ulang agar lebih segar  
kalau jarak pernah merampas bahagia keluargamu 
adalah hak tuk merajut kisah yang hilang dan hambar.  

Jangan jatuh mikul perintah,  
lawanlah dengan tetesan peluhmu 
jangan ciut gertak dan geram masalah 
lawanlah dengan upaya, asa daya ciptamu 
jangan nyerah pada godam zaman; merapalah,  
ke bentara surga; walau bulir darah, rinai air matamu. 

Pejuang kehidupan milik bangsa 
para pemberani pelintas awan, lautan 
cahayakanlah pijar-pijar di wuwungan paling asa 
gelorakan semangat sedahsyat amuk samudera di tepian 
sebab engkaulah suluh zaman bagi insan muda di suatu masa. 

2021 


Memanusiakan Manusia 


Menjelang malam tiba 
pastikan pelitamu sedia 
menjulang lazuardi bergema 
pastikan masa depanmu ada.  

II 
Di balik sekawanan awan 
ada rahasia menawan 
tentang surya, selalu tepati janji 
seperti mata hati, abadi mencari arti. 

III 
Kami bukan lagi seperti apa 
berontak kepada siapa 
lama di seberang, itu jua kehendakmu    
pasti kami bukan maumu.                                                                        

IV 
Diamku, hempas  
sudah mengelupas
desahan hasrat biarlah lepas 

Rinduku, punah 
sudah kian meluruh
jadi peluh sepenuh

Amarahku, 
sudah membatu
jadi harga mati, satu padu. 

Yang lama, sudah hancur mendebu 
sedang yang anyar, kini tumbuh menggebu
aku; manusia baru. 

2021 


Kepada Esok 

Aku tidak mau menari 
di bawah matahari yang sama 
aku tidak mau bermimpi 
di bawah bintang gemintang yang serupa 

Aku mau menjelajah semesta baru, walau berjejak 
terbang tinggi melampaui batas cakrawala, sendiri 
bersama Pemilik Kehidupan. Kan kuterjang sajak 
misteri. Maukah engkau terbang bersama kini? 

23 Februari 2021 


 

 

Antonius Tanan, penulis puisi dan novel. Dia pernah mengunjungi Moskwa dan St. Petersburg dalam sebuah lawatan untuk menikmati sejarah dan kultural. Lahir di Kuningan, Jawa Barat, pada 9 April 1960. Di dunia akademisi, dia meraih gelar Dr. Ir. Antonius Tanan MBA, MSc, MA. Bekerja di Grup Ciputra sejak tahun 1987-2018 dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Senior. Saat ini menjadi Komisaris Independen PT Ciputra Development Tbk dan PT Metrodata Electronics Tbk. Dalam dunia sastra, dia telah melahirkan tiga novel: Empat Sekawan dan Cinta, Tantangan Satu Miliar Ciputra, dan The Gifted Club. Sedangkan dalam dunia perpuisian, dia adalah tokoh dan inisiator gerakan “puisi-entrepreneurial” lewat antologi puisi Buruh Migran Indonesia: senyum itu (kini) milikmu (2013) yang diterbitkan secara terbatas oleh Ciputra Artpreneur, Sajak-sajak Antonius ini menjadi bagian dalam buku antologi puisi Doa Tanah Air: suara pelajar dari negeri Pushkin yang akan segera diterbitkan.