05 May 2021, 05:35 WIB

Memaknai Kebebasan (Al-Hurriyah)


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal | Renungan Ramadan

DALAM dunia spiritu­al tasawuf, arti kebebasan (al-hurriyah) amat berbeda dengan arti kebebasan yang sedang berkembang luas di dalam masyarakat. Kebebasan sering diartikan sebagai bebasnya seseorang atau kelompok melakukan apa saja atas nama hak asasi manusia.

Bahkan ada di antara kelompok masyarakat yang memilih menghalalkan segala cara dalam mewujudkan kebebasan tersebut, alias mereka kebablasan.

Kebebasan dalam perspektif tasawuf ialah merdeka atau keluar dari belenggu sesama makhluk.

Mereka tidak lagi mau didikte atau diperbudak oleh sesama makhluk, tidak terke­cuali harta dan kemewahan.

Mereka sudah menghilang­kan semua ketergantungan terhadap dunia materi, sebagaimana dikatakan Ibrahim bin Adham, “Orang yang merdeka adalah orang yang keluar dari dunia sebelum ia dikeluarkan darinya (meninggal dunia).”

Mereka betul-betul memutuskan ketergantungan terhadap dunia materi. Sebagai seorang manusia yang masih hidup, tentu saja masih membutuhkan kepentingan materi demi melangsungkan hidup dan anggota keluarga, seperti makan, minum, berpakaian, dan juga uang sebagai alat tukar untuk kepentingan kehidupan sehari-hari.

Namun, kebutuhan tersebut tidak sampai membuat dirinya tergantung terhadapnya. Mereka betul-betul sudah merdeka dari pengaruh jeratan dunia.

Ciri-ciri orang seperti ini ialah sudah merasa kehilangan daya tarik terhadap gemerlapnya dunia dan bebas melakukan pengembaraan spiritual tanpa terikat dengan janji relasi bisnis dan kelompok kepentingan duniawi lainnya.

MEREKA sudah merasa tidak ada lagi jarak antara urusan dunia dan urusan akhirat di benaknya sehingga semua gejala duniawi sama saja baginya, yaitu harus dijadikan sebagai kendaraan menuju akhirat yang lebih baik.

Meskipun mereka penuh kesungguhan menggarap dunianya, tetapi yang ada dalam benaknya ialah menuntut rida Allah SWT.

Nabi SAW pernah bersabda, “Hatiku sudah bosan terhadap dunia sehingga batu dan emasnya sama saja bagiku.”

Orang yang merdeka akan mengutamakan etika terhadap sesama makhluk. Maqam bagi orang-orang yang merdeka ialah mulia dan tempat kemuliaannya ialah pada pelayanannya terhadap orang miskin. Disebutkan bahwa Allah mewahyukan kepada Nabi Daud AS, “Jika engkau menyaksikan orang yang meminta kepadaku, jadilah ia baginya seorang pelayan.”

Nabi SAW juga pernah bersabda, “Pemimpin suatu bangsa adalah pelayan mereka.”

Allah SWT berfirman, “Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang muhajirin) dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu) (QS Al-Hasyr/59:9).”

Mereka lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya. Nabi SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya yang membuat merasa memadai seseorang adalah apa yang cukup untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya hanya akan berakhir pada empat hasta dan sejengkal tanah pekuburan dan segalanya akan kembali kepada akhirnya (tempat kembalinya).”

Kesempurnaan kebebasan merupakan hasil dari sempurnanya ubudiah seseorang. Barang siapa ubudiahnya benar-benar karena Allah, hasilnya ialah rasa bebas dari segala belenggu sesama makhluk.

Boleh jadi mereka hidupnya sederhana, tetapi itu merupakan pilihannya sebagai bagian dari kebebasan itu sendiri.

Mereka memilih pola hidup seperti itu karena betul-betul tidak lagi memandang dunia sebagai satu-satunya jalan menuju kebahagiaan dan ketenangan hidup. Untuk apa bergelimang harta kalau jiwa dan pikiran tidak merdeka. Allahu a’lam.

BERITA TERKAIT