30 April 2021, 08:35 WIB

Iqra dan Pembacaan Terhadap Covid-19


Mediaindonesia | Renungan Ramadan

SAAT malaikat Jibril dikisahkan merengkuh Nabi Muhammad sedemikian erat pada satu malam ribuan tahun lalu di Gua Hira pada 17 Ramadhan, yang mengalir darinya adalah:

"Iqra bismi rabbikal ladzii khalaq, Khalaqal insaana min alaq, Iqra wa rabbukal akram, Al ladzii allama bil qalam, Al lamal insaana ma lam yalam."

Ayat tersebut merupakan wahyu yang mengandung perintah kepada Nabi Muhammad untuk membaca (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu). Peristiwa ini menandai awal mula turunnya Alquran (Nuzulul Quran) serta sebagai Ke-Rasul-an Muhammad. Setelah itu Al Quran diturunkan secara bertahap, sebagai jawaban demi jawaban atas masalah yang dihadapi Nabi Muhammad saw dan umat
Islam.

Allah SWT melalui Malaikat Jibril tak secara gamblang menyebut satu objek yang mesti dibaca Nabi Muhammad, tetapi menyinggung motivasi dan tujuan membaca yakni semata-mata demi Tuhanmu. Secara semantik, membaca memiliki dua sisi yakni teks dan kontekstual. Teks di sini berarti membaca tulisan/ayat, sementara kontekstual membaca bisa diartikan memahami, mempelajari, merenungi, dan menelaah setiap kejadian objek yang ada di semesta alam.

Membaca adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan jiwanya ingin menyatakan bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu.
 
Pembacaan atas Covid-19

Sejak ditemukan pertama kali di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019 dan menyebar amat cepat ke berbagai negara. Virus ini begitu mematikan. Sejumlah video-video yang beredar di media sosial memperlihatkan betapa mematikannya virus tersebut. Banyak spekulasi tentang penularan virus, tetapi sejumlah penelitian menduga penyakit itu tumbuh dari pasar hewan hidup di Wuhan yang tidak higienis.
 
Publik lantas panik dan gelisah dengan virus korona jenis baru itu karena saat informasi tersebut mulai bocor. Puluhan ribu orang telah tertular dan korban tewas telah mencapai ribuan jiwa. Pada Kamis (29/4/2021), WHO melaporkan 148.999.876 orang tertular virus tersebut dan 3.140.115 jiwa meninggal dunia di seluruh dunia. Penularan virus yang berujung pada wabah hingga pandemi memang bukanlah barang baru dalam kehidupan manusia. Wabah yang berasal dari patogen memang telah menjadi ancaman nyata bagi kehidupan manusia.

Virus yang tercipta dari patogen dan berukuran sangat kecil hanya bisa hidup berparasit pada inangnya, baik itu tumbuhan, hewan, maupun manusia. Lantas bagaimana hubungannya antara Iqra dan Covid-19?

Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Mahbub Maafi menyatakan bahwa pandemi covid-19 mesti dibaca betapa ada yang salah dalam sistem kehidupan kita sehingga virus itu mampu memporak-porandakan setiap sendi kehidupan di seluruh dunia.

"Ini juga perintah Allah agar kita juga melakukan pembacaan terhadap mahluk-Nya. Bahwa di bumi ini ada tanda-tanda bagi orang yang bertakwa. Termasuk covid-19 merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, mahluk yang tidak kasat mata tapi mampu menggoncang tatanan dunia," kata Mahbub.

baca juga: Renungan Ramadan

Lewat surah Al-Alaq, masyarakat diminta untuk membaca dan merenungkan atas segala peristiwa yang terjadi. "Kita dapat menjalankan perintah ini sesuai dengan peran yang kita miliki. Jika hari ini tenaga medis sedang berjuang untuk menyelamatkan korban, para peneliti berusaha meneliti dan memproduksi vaksin, dan pemerintah berusaha mencari solusi terbaik. Maka, tugas masyarakat adalah membantu untuk memutus rantai penyebaran virus dengan membatasi kegiatan di luar rumah dan tidak pulang ke kampung halaman," ujarnya.

Termasuk pembacaan ini berarti semakin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk semakin bersolidaritas dalam membantu sesama. Pandemi ini memberikan dampak dalam berbagai aspek, termasuk dalam masalah perekonomian. Maka, sebagai manusia mesti berusaha untuk membantu saudara yang membutuhkan.
 
"Pentingnya kita membaca Nuzulul Quran di dalam konteks ini, ketika Allah memerintahkan melalui ayat Alquran untuk melakukan pembacaan dengan nama Allah. Artinya merenungi diri kita sebagai mahluk itu, kita sedang diperintahkan membaca ayat-ayat Allah yang lain," kata Mahbub.
 
Pun demikian mengapa pemerintah bawel agar masyarakat tidak memaksa mudik saat Lebaran tahun ini. Agar masyarakat membaca dan menelaah peristiwa yang terjadi di India akan abainya penerapan protokol kesehatan. Pemerintah tak ingin kasus di India terjadi di Tanah Air. (Antara/OL-3)
 

BERITA TERKAIT