01 November 2020, 05:18 WIB

Pascaserangan Nice, Tunisia dan Prancis Bahas Soal Migrasi


mediaindonesia.com | Internasional

PRESIDEN Tunisia Kais Saied berbicara dengan mitranya dari Prancis Emmanuel Macron, kemarin, membahas tentang migrasi dan "terorisme", setelah terjadi serangan pisau mematikan di Nice yang diduga dilakukan oleh seorang Tunisia.

Presiden Tunisia menyesalkan semua bentuk kekerasan dan terorisme, termasuk banyak orang yang menggunakan Islam untuk merekrut orang lain dengan tujuan tidak hanya menyinggung Islam, tetapi juga menghancurkan hubungan antar masyarakat.

Disebutkan pula, penyeberangan laut secara ilegal ke Eropa dari Tunisia telah meningkat, sebagian besar didorong oleh kesengsaraan ekonomi setelah revolusi rakyat pada 2011 yang diharapkan banyak orang akan membawa perubahan yang lebih signifikan.

Baca juga : Jokowi Dinilai Bisa Bujuk Macron Minta Maaf ke Umat Islam

Warga Tunisia Brahim Issaoui, 21, diduga secara brutal membunuh tiga orang dalam serangan Kamis di Basilika Notre-Dame di Nice di Prancis selatan.

Issaoui dilaporkan telah meninggalkan Tunisia secara ilegal pada 14 September 2020 menuju pulau Lampedusa di Italia - jalur utama bagi para migran ilegal yang ingin menjalani kehidupan baru di Eropa.

Sebelumnya pada hari Sabtu, Perdana Menteri Tunisia Hichem Mechichi menginstruksikan menteri dalam negeri dan kehakiman untuk bekerja sama dengan otoritas Prancis atas penyelidikan serangan Nice.

Otoritas Tunisia mengatakan mereka menangkap dua orang pada hari Jumat setelah video yang diposting di jejaring sosial menyatakan bertanggung jawab atas serangan Nice oleh kelompok tak dikenal. (AFP/OL-2)

 

BERITA TERKAIT