01 November 2020, 03:50 WIB

Inovasi Digital untuk Benahi Museum


Suryani W Putri Pertiwi | Humaniora

SETIAP akhir pekan biasanya museum ramai dikunjungi anak-anak sekolah atau pengunjung umum dari luar daerah. Karena berlakunya social distancing dan berbagai kebijakan untuk meminimalkan penyebaran virus korona baru (covid-19), museum pun kehilangan pengunjungnya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya memperkuat keberadaan museum yang mana diharapkan juga menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Dalam acara bertajuk Tapak Tilas Virtual Pergerakan Pemuda Meraih Indonesia Merdeka yang diselenggarakan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikbud, pada Sabtu (31/10), dilakukan wisata museum secara virtual, yaitu pada Museum Sumpah Pemuda, Museum Kebangkitan Nasional, dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, Fitra Arda, mengatakan untuk menarik minat masyarakat mengunjungi museum sebagaimana memiliki peninggalan sejarah yang bernilai tinggi, pihaknya telah menganggarkan bantuan dana alokasi khusus nonfisik untuk museum di Indonesia baik milik Kemendikbud maupun pemerintah daerah.

“Alokasi itu memang sengaja diberikan bukan untuk pembenahan fisik museum sebagai bentuk mendorong pihak museum melakukan penguatan koleksi dan inovasi terhadap program sehingga keberadan museum bisa lebih disenangi masyarakat,” ujar Fitra, Sabtu
(31/10).

Digitalisasi museum

Kemendikbud pun saat ini sedang mengupayakan digitalisasi pada museum. Beberapa waktu lalu, Kemendikbud bekerja sama dengan Google memasukkan museum ke dalam platform Google Arts & Culture. Platform ini dioperasikan melalui satu teknologi baru yang dinamakan Art Camera and Google Cardboard.

Kurator sekaligus Direktur Sidharta Auctioneer serta Pendiri Yayasan Mitra Museum Jakarta Amir Sidharta mengatakan, saat pandemi seperti ini bisa menjadi kesempatan bagus bagi museum untuk meningkatkan pengelolaannya. “Walaupun sekarang pandemi banyak yang ditutup, ini jadi satu kesempatan bagus untuk meningkatkan layanan daring, mereka dapat membuat program melalui Zoom atau kanal digital lainnya, misalnya memperkenalkan kunjungan melalui internet. Itu yang paling mudah, atau bisa diusahakan,” paparnya ketika dihubungi Media Indonesia, Jumat (30/10).

Dalam pengaplikasiannya, ia menjelaskan sudah ada teknologi seperti virtual reality dan augmented reality (AR) yang telah banyak digunakan. Pengunjung dapat berinteraksi dengan menyentuh layar yang menyediakan informasi mengenai koleksi dan benda-benda di museum. Dengan memberikan sentuhan teknologi dan multimedia ke dalam museum, diharapkan dapat menarik minat masyarakat di zaman sekarang untuk berkunjung ke museum.

“Hal yang penting risetnya, harus bisa mendukung kisah-kisah yang ingin diangkat, tetap di tangan kurator semuanya,” ucapnya.

Revitalisasi museum

Ketua Komunitas Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI) Dhanu Wibowo menambahkan, perlu dilakukan revitalisasi museum dan konservasi koleksi. Lantaran saat ini museum memiliki citra sebagai tempat yang tak menarik, tak terawat, dan membosankan.

“Revitalisasi gedung museum dan konservasi koleksi harus dilakukan. Buat tata pamer semenarik mungkin dan interaktif sehingga menarik timbal balik dari pengunjung,” kata Dhanu saat dihubungi, Sabtu (31/10). (Ind/Hld/I-1)

BERITA TERKAIT