31 October 2020, 20:46 WIB

Armenia-Azerbaijan Sepakat Redakan Konflik Nagorno-Karabakh


Nur Aivanni | Internasional

ARMENIA dan Azerbaijan gagal mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata baru dalam konflik Nagorno-Karabakh selama pembicaraan di Jenewa pada Jumat. Namun, keduanya sepakat untuk meredakan ketegangan, termasuk berjanji untuk tidak menargetkan warga sipil.

Kesepakatan tersebut dicapai selama pembicaraan di Jenewa antara menteri luar negeri kedua negara dan utusan dari Prancis, Rusia dan Amerika Serikat, yang merupakan ketua bersama dari kelompok yang dibentuk untuk menengahi konflik.

Dalam sebuah pernyataan, ketua bersama OSCE Minsk Group mengatakan, Armenia dan Azerbaijan juga telah setuju untuk bertukar jenazah para pejuang dan memberikan daftar tahanan perang yang ditahan dalam waktu seminggu.

Sebelumnya, kelompok hak asasi manusia menyerukan penghentian segera penggunaan senjata terlarang oleh kedua belah pihak setelah mengonfirmasi penggunaan munisi tandan baik yang ditembakkan atau dipasok oleh pasukan Armenia dalam serangan minggu ini di kota Barda, Azerbaijan.

Baca juga : Umat Muslim di Berbagai Negara Gelar Aksi Protes Anti-Prancis

Nagorno-Karabakh secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, tetapi dihuni dan dikendalikan oleh etnis Armenia. Sekitar 30.000 orang tewas dalam perang tahun 1991-1994 di wilayah tersebut.

Di Twitter, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengatakan bahwa pasukan negara telah mengambil alih sembilan pemukiman lagi di bawah kendali mereka.

Dalam komentar yang dipublikasikan di situs web perdana menteri, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, menanggapi pertanyaan dari media asing, mengatakan bahwa dia yakin prinsip pemisahan diri perbaikan harus diterapkan di Nagorno-Karabakh.

Pertempuran sporadis berlanjut pada Jumat. Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan posisi militer dan permukiman di wilayah Aghdere, Khojavend dan Gubadli telah diserang. (AFP/Nikkei Asia/OL-7)

BERITA TERKAIT