31 October 2020, 00:40 WIB

Tanah Sunda yang Selalu Terkepung Bencana


Benny Bastiandy | Nusantara

MOCHAMMAD Irfan Sofyan tidak pernah bermaksud melebih-lebihkan kondisi tragis daerahnya, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Karakteristik dan geografis wilayah menjadi penyebab banyaknya kejadian bencana.

“Ada 10 jenis bencana yang berpotensi terjadi di Cianjur, mulai tsunami, gunung meletus, tanah longsor, perge rakan tanah, banjir bandang, kekeringan, angin putih beliung, gempa bumi, hingga kebakaran hutan dan lahan,” papar Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah itu.

Karakteristik kewilayahan Cianjur menjadikan wilayah ini berpotensi tinggi terhadap risiko kerawanan bencana.

Semua jenis bencana nyaris ada sehingga Cianjur sering disebut sebagai ‘etalasenya’ bencana di Indonesia.

Luas wilayah Kabupaten Cianjur sekitar 3.614 kilometer persegi. Secara administratif terbagi menjadi 354 desa dan 6 kelurahan tersebar di 32 kecamatan.

Wilayahnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Cianjur bagian tengah, selatan, dan utara. Di selatan, karakteristik geografis wilayahnya merupakan daerah perbukitan dengan kontur tanah cukup labil.

Pun di wilayah utara, rata-rata merupakan kawasan perbukitan dan pergunungan yang notabene karakteris tik kontur tanahnya cenderung labil. Sementara di tengah, daerah berdataran rendah.

Hasil pemetaan indeks risiko bencana, di wilayah selatan, potensinya terdiri atas tsunami karena terdapat bentangan garis pantai sepanjang 75 kilometer di Kecamatan Agrabinta, Sindangbarang, dan Cidaun.

Potensi lainnya ialah tanah longsor atau pergerakan tanah yang dipicu kontur tanah yang cukup labil karena merupakan wilayah perbukitan. Sementara itu, banjir atau banjir bandang berpotensi terjadi karena banyak aliran sungai besar yang melintas.


Tanah longsor

Di wilayah utara, karakteristik pegunungan dan perbukitan membuka peluang ancaman gunung meletus. Ada dua gunung yang masih aktif, yakni Gunung Gede dan Pangrango. Potensi bencana lainnya ialah tanah longsor, banjir, dan gempa bumi.

Sementara di tengah, kondisi dataran rendah membuat rawan banjir genangan, pergerakan tanah, dan tanah longsor. “Potensi kerawanan kebencanaannya cukup tinggi,” beber Irfan.

Jenis potensi ancaman risiko bencana cukup tinggi di Kabupaten Cianjur berdasarkan kajian risiko bencana (KRB) yang dirilis BNPB pada 2017 ialah tanah longsor dan banjir masih mendominasi. Tanah longsor sebarannya berada di 227 desa dan 360 desa dan kelurahan.

“Potensi banjir ada di 90 desa di 32 ke camatan,” tambah Irfan.

Indeks risiko bencana (IRB) yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menempatkan Cianjur pada peringkat  pertama daerah rawan bencana di Indonesia. Kondisi itu tidak terlepas dari pernah terjadinya beberapa kali bencana berskala besar hingga menelan korban jiwa cukup banyak.

“Namun, indeksnya sekarang berangsur turun. Artinya, berbagai upaya antisipasi, pencegahan, dan penanggulangan yang dilakukan sejak berdirinya BPBD di Kabupaten Cianjur pada 2009 lalu dinilai cukup berhasil. Indeks risiko bencana di Kabupaten Cianjur sekarang berada pada peringkat 20 se-Indonesia,” ungkap Irfan.

Turunnya indeks risiko bencana di Kabupaten Cianjur juga, tutur Irfan, tidak terlepas dari sudah terbentuknya Relawan Tangguh Bencana (Retana) hingga ke setiap desa. Jumlahnya mencapai 1.800 orang yang tersebar di 354 desa dan 6 kelurahan di 32 kecamatan.
Per desa dan kelurahan, rata-rata ada 5 Retana.

Upaya antisipasi dan pencegahan kebencanaan, kata Irfan, terangkum dalam rencana kontijensi yang sudah disusun BPBD. Saat terjadi bencana, BPBD sudah tidak gagap melakukan berbagai upaya penanggulangannya.


Dana desa

Tahun ini, Cianjur kembali sangat akrab dengan bencana. Sejak Januari hingga akhir Oktober sudah terjadi 115 kali bencana, yakni terdiri atasi banjir atau banjir bandang sebanyak 23 kali, tanah longsor sebanyak 83 kali, angin puting beliung sebanyak 8 kali, dan 1 kali kekeringan.

Jumlah korban meninggal 4 orang dan 1 luka ringan. Kerugian materiel berupa 26 rumah rusak berat, 34 rumah rusak sedang, 338 rumah rusak ringan, 612 rumah terancam, serta 97 terendam.

Sebanyak 62 kepala keluarga atau 222 jiwa mengungsi, Pemkab Cianjur juga melibatkan aparatur desa untuk penanganan bencana. “Selain kami minta me ningkatkan kewaspadaan, aparatur desa juga didorong menggunakan dana desa untuk biaya penanggulangan bencana,” ujar Kepala Dinas Pembangunan Masyarakat Desa Ahmad Danial.

Berapa besarnya? “Tergantung pada tingkat kerawanan desa masing-masing,” tambahnya.

Ketua Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Cianjur, Beni Irawan, juga mengaku telah meminta 354 desa untuk memasukkan program prioritas penanggulangan kebencanaan dalam pemanfaatan dana desa. “Kementerian Desa sudah meminta kami menganggarkan dana untuk program kebencanaan sehingga anggaran bencana tidak memangkas program prioritas lainnya.” (Ant/N-3)


 

BERITA TERKAIT