31 October 2020, 00:20 WIB

Sulit Pindah meski Bahaya Terus Datang


MI | Nusantara

SABTU (3/10) dini hari petaka datang ke Desa Sukamanah, Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak Jumat (2/10) siang mengakibatkan air di aliran Sungai Cisokan meluap.

Awal Oktober belum banyak daerah yang didatangi hujan. Beberapa daerah baru memasuki masa peralihan. Banyak daerah lain masih bergelut dengan dampak kemarau.

Hujan deras di Cianjur membuat air sungai meluap ke permukiman. Ketinggian air di sejumlah lokasi mencapai 160 sentimeter.

Banjir luapan Sungai Cisokan itu membuat ratusan rumah yang tersebar di enam kampung terendam. Warga hanya bisa pasrah.

Beberapa permukiman penduduk di Desa Sukamanah berdekatan dengan aliran Sungai Cisokan. Ketika banjir surut, warga masih dihantui bencana susulan.

Di Sukamanah, warga hidup berdampingan dengan bahaya. Mereka selalu terancam luapan air jika musim penghujan datang. Di sisi lain, warga sudah lama tinggal di sana dan mengandalkan pendapatan di lokasi itu juga.

“Ada beberapa kampung yang lokasinya memang cukup berdekatan dengan aliran Sungai Cisokan,” aku Kepala Desa Sukamanah, Awaludin.

Pada banjir luapan Sungai Cisokan awal bulan ini, terdapat enam kampong yang terendam. Lokasinya berada di Kampung Munjul RT 01/07, Kampung Cikadu RT 02/07, Kampung Pasirturi RT 03/07, Kampung Hegarwaas RT 01/02, Kampung Hegarwangi RT 02/02, dan Kampung Babancong RT 03/02.

Ada 418 unit dengan jumlah penghuni 887 jiwa yang terdampak banjir kala itu. Sementara itu, jumlah rumah terendam banjir sebanyak 83 unit yang dihuni 255 jiwa.

Desa Sukamanah menjadi contoh banyak lingkungan di Tanah Air yang selalu terancam bencana. Meski bahaya, warga tetap bertahan karena tidak memiliki pilihan.

Pilihan yang paling sulit untuk membuat warga tidak selalu berada di tubir bahaya ialah relokasi.

“Namun, bukan perkara mudah melakukannya. Sangat rumit untuk mencari lahan yang cocok, mata pencarian mereka di tempat yang baru juga harus dipikirkan,” aku Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Mochammad Irfan Sofyan.

Cara lain yang sudah dipikirkan BPBD ialah melakukan normalisasi Sungai Cisokan. Sang kepala desa, Awaludin, menginginkan pembangunan tanggul.

“Dari 12 kilometer wilayah yang berada di aliran Sungai Cisokan, kami butuh tanggul sepanjang 2 kilometer. Tinggi tanggul setidaknya 2 meter,” tandasnya.

Saat menunggu dan bertahan, Irfan meminta warga bisa hidup berdampingan harmonis dengan alam untuk meredam bencana. (Benny Bastiandy/N-2)


 

BERITA TERKAIT