30 October 2020, 16:00 WIB

Legenda Danau Koliheret Bikin Warga Sikka Patuhi Adat


Gabriel Langga | Nusantara

DANAU Koliheret terletak di Dusun Klahit, Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Danau ini dianggap angker oleh warga setempat, terletak di pinggir jalan dan dekat dengan pemukiman warga Dusun Klahit yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Egon Ilinmedo.

Bagi masyarakat Dusun Klahit, ada legenda yang saat ini masih diceritakan secara turun menurun kepada generasi penerus, mengenai asal muasal Danau Koliheret.

Menurut Petrus Hugo Pulung, pemilik lahan areal Danau Koliheret bahwa dahulu kala, nenek moyang pernah membuka sebuah kebun di daerah yang namanya Duking. Di lumbung tempat menyimpan padi di sana, dijaga oleh dua orang kakak-beradik (perempuan dan laki-laki), tepatnya di Wua Bahang Bale Kloang.

Selama menjaga lumbung padi, kata Petrus, keduanya hidup sendirian dan hidup layaknya pasangan suami istri. Karena menurut adat setempat, keduanya melanggar hukum adat setempat.

Saat usai panen, kakak-beradik ini lalu kembali ke kampung Koliheret. Selanjutnya, masyarakat setempat menggelar upacara adat Togo Pare dan tarian Tandak sebagai ucap syukur usai panen padi.

"Pada saat tarian Tandak ditarikan, kakak-beradik ini pun juga hadir dan ikut bersama warga setempat untuk menari memeriahkan acara syukuran panen tersebut," papar Petrus.

Pada saat asyik menari, ungkap Petrus, tiba-tiba terjadi hujan lebat dan terjadi banjir hingga menenggelamkan seisi kampung yang waktu itu ada sekitar 50 rumah. Musibah itu akibat dari kakak-beradik yang menyembunyikan perbuatan haramnya sehingga terjadilah bencana alam dan leluhur marah atas kelakuan mereka yang hidup selayak suami isteri.

"Bencana itu, Kampung Koliheret tenggelam dan sekarang menjadi danau Koliheret. Sebagian warga dan harta benda ikut tenggelam termasuk beberapa ternak ayam peliharaan warga kampung," ungkap dia.

Dalam peristiwa itu, jelas Petrus, ada seorang perempuan tua yang selamat. Pada saat itu, ia berlari dengan membawa seekor ayam untuk menyelamatkan diri. Saat berlari, si nenek tua itu menoleh ke belakang dan tiba-tiba si nenek tua itu langsung berubah menjadi batu. Sementara ayam si nenek tua itu bahasa setempat sebut Manu Rano atau Ayam Rano.

Petrus mengisahkan kisah mistik yang ada di Danau Koliheret. Dimana, ayam Rano itu bisa dipanggil di Danau Koliheret. "Untuk panggil ayam-ayam itu, kita harus memukul kayu atau bambu yang ada disekitar Danau koliheret, bisa juga
dengan tepuk tangan. Biasanya ayam-ayam itu muncul pada pagi atau sore hari," ujar Petrus.

Karena penasaran, mediaindonesia.com pun diajak oleh Petrus menuju Danau Koliheret yang letaknya kurang lebih 100 meter dari rumahnya. Setibanya di areal danau, Petrus pun mulai memukul salah satu pohon bambu yang ada dekat areal danau. Tak lama berselang, seekor ayam benar-benar muncul di tengah danau.

Mediaindonesia.com pun terkejut dan berusaha mengabdikan ayam tersebut. Sayangnya, karena jarak cukup jauh, handphone kamera tidak bisa mengabadikan momen yang cukup aneh itu.

Terkadang, ungkap Petrus, ayam rano yang muncul dari dalam danau jumlahnya bisa puluhan ekor. Bukan hanya Manu Rano atau Ayam Rano, menurut Petrus, sewaktu-waktu, ada juga pohon lontar dan tiang-tiang bekas rumah warga yang
tenggelam muncul ke permukaan danau.

Dia menceritakan pada 2017, Danau Koliheret menjadi sumber penyebaran nyamuk malaria di Desa Watudiran. Kasus malaria yang tertinggi di kabupaten Sikka yang terjadi di Dusun Klahit, Desa Watudiran ini.

Dinas Kesehatan Sikka pun  telah menyebarkan ikan kepala timah pemakan jentik nyamuk di dalam Danau Koliheret . Dengan adanya pelepasan ikan ini kasus malaria menurun drastis.

Danau Koliheret ini dikelilingi oleh pepohonan besar dan aneka pohon bambu yang dibiarkan tumbuh subur. Tidak ada warga yang berani menebangnya, karena mereka takut bakal ada bencana datang menimpa kampungnya. (OL-13)

Baca Juga: La Nina di Samudra Pasifik, Waspadai Dampaknya di Indonesia

BERITA TERKAIT