30 October 2020, 14:25 WIB

Mengatasi Stunting dan Gizi Buruk di NTT dengan Bernas


Palce Amalo | Nusantara

PAGI baru beranjak, saat perahu motor yang bertolak dari Pelabuhan Tenau, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur membuang sauh di pesisir pantai Pulau Semau, pekan lalu.

Pulau kecil di wilayah Kabupaten Kupang ini terbagi dalam dua kecamatan, Semau dan Semau Selatan, berpenduduk 8.000 jiwa. Untuk mencapai Semau, hanya butuh waktu 30 menit perjalanan laut.

Potensi pertaniannya melimpah mulai dari bawang merah, jagung, mangga, semangka, cabai, tomat, dan kacang tanah. Hasil pertanian ini rutin diangkut dengan perahu motor untuk dipasarkan ke pasar-pasar tradisional di Kota Kupang.

Tetapi, siapa sangka dua dari delapan desa di sana memiliki prevalensi balita stunting dan gizi buruk terbanyak dibandingkan desa-desa lainnya di Kabupaten Kupang, bahkan Nusa Tenggara Timur. Dua desa itu ialah Uiboa dan Uitiuthuan terletak di Kecamatan Semau Selatan.

Data Stunting dan Gizi Buruk yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang pada Februari 2020, menyebutkan dari 26.204 balita yang diukur tinggi dan berat badannya di 24 kecamatan, 7.891 balita di antaranya menderita stunting dan 4.904 balita menderita gizi buruk.

Dari jumlah itu, 161 balita stunting dan 168 balita gizi buruk terdapat di dua desa itu. Sebagai pembandingan, balita stunting di sana pada 2019 berjumlah 216 orang dan gizi buruk sebanyak 79 orang. Kondisi ini yang mendorong PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region V Jatimbalinus turut mengambil peran membantu pemerintah setempat menangani masalah ini.

Pertamina meggandeng Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat (JPM) menyalurkan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk pencegahan stunting desa di ujung selatan pulau itu.

Program bersama ini bernama Bersama Sehatkan Anak Semau (Bernas) yang fokus meningkatkan produktivitas pertanian melalui kebun gizi untuk meningkatkan diversifikasi pola makan dan nutrisi keluarga, dan meningkatkan ketahanan pangan untuk konsumsi sendiri maupun dijual ke pasar.

Apalagi saat ini, perjuangan mengatasi stunting merupakan prioritas pembangunan nasional, provinsi sampai kabupaten. Program ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG) nomer dua yakni mengakhiri kelaparan, mencapai keamanan pangan dan meningkatkan gizi dan mempromosikan pertanian berkelanjutan.

Bernas diluncurkan sejak Juni 2020 berlangsung sampai Februari 2021 meliputi sejumlah kegiatan mulai dari sosialisasi program, baseline survey, pelatihan pembuatan kebun gizi, membangun kebun gizi, dan endline survey. Selain itu, penyuluhan di posyandu terkait gizi seimbang, pola asuh, sanitasi, ASI ekslusif, seribu hari pertama kehidupan, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Program ini juga menyasar remaja putri mengenai kesehatan reproduksi.

Dengan berbagai perjuangan, Direktur Yayasan JPM Yohanes Pakereng bersama tim selesai menjalankan survei awal di Uitiuthuan yang berjarak 35 kilometer dari lokasi tambatan perahu tadi. Kondisi jalan yang buruk membuat jarak tempuh ke Uitiuthuan lebih lama atau sekitar dua jam.

"Kami menemukan anak-anak hanya diberikan nasi dan mi instan, tidak ada diversifikasi pola konsumsi pangan dan nutrisi di sana," ungkap Yoanes Pakereng. Tidak ada sayuran untuk memenuhi kebutuhan protein nabati balita dan anak-anak, kecuali asupan protein hewani, itupun dinilai masih minim.

Bagi Dia, kondisi seperti itu bisa dimaklumi lantaran minimnya pengetahuan orang tua mengenai tiga hal yaitu pola asuh, nutrisi, dan sanitasi.

Sebab lain ialah orang tua tidak mampu membeli makanan bergizi karena pendapatan yang minim. Padahal cegah stunting mestinya dimulai sejak bayi dalam kandungan sampai 1.000 hari pertama kehidupan atau berusia dua tahun.

Situasi yang serupa kerap ditemui di keluarga lainnya, tidak hanya di pedalaman seperti di Semau Selatan, tetapi juga di wilayah lainnya di NTT. Balita stunting dan gizi buruk yang selesai menjalani program pemberian makanan tambahan (PMT) dari puskemas, berat badan mereka bisa turun lagi gara-gara tidak ada asupan makanan bergizi di rumah.

Lima bulan berjalan, kini Bernas mulai membuahkan hasil. Sebanyak 21 keluarga yang memiliki anak dengan status gizi bermasalah sudah membangun bedeng untuk ditanami beragam benih sayuran. Ada 67 bedeng sistem olah jalur dan 1.929 bedeng sistem olah lubang.

"Petugas melatih masyarakat cara mengolah lahan dan membuat pupuk bokasi, setelah itu diberikan benih sayuran secara cuma-cuma," tuturnya.

Sekarang bedeng-bedeng mulai ditanami sayuran mulai dari labu, terung, bayam, sawi, tomat, kangkung, dan kacang panjang. Namun diingatkan memrioritaskan kebutuhan sayuran keluarga, jika produksi sayuran bertambah banyak, barulah dijual.

Seperti Semuel Pong Nenobesi, petani yang menanam bawang merah pada 75 bedeng. "Saya menyesal di bedeng-bedeng ini tidak satupun ada tanaman sayuran," terangnya.

Tetapi setelah ia bersama petani lainnya mengikuti pelatihan mengenai pemupukan, konservasi air dan tanah, serta manfaat mengonsumsi sayur dan buah-buahan, ia membuat bedeng khusus untuk sayuran. Komitmen Semuel dan
warga desa lainnya memang menjadi kunci jika ingin keluar dari persoalan gizi buruk dan stunting.

Edukasi Lewat Film

Beragam upaya mengubah perilaku masyararat agar bersedia menerima program pengentasan stunting maupun gizi buruk di Semau Selatan. Salah satunya edukasi lewat film layar lebar. Di sela-sela adegan film, diselipkan video anak-anak stunting di desa kemudian dilanjutkan dengan edukasi dari kepala desa setempat.

Seperti Kepala Desa Uitiuhtuan, Dominggus Liman yang tidak bosan mengajak warganya memberikan perhatian serius kepada anak-anak mereka agar tidak menderita stunting dan gizi buruk. Perhatian juga diberikan lewat pemberian asupan gizi yang cukup, rutin membawa anak ke posyandu untuk imunisasi, serta penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.

Pesan-pesan terkait kesehatan, stunting dan makanan bergizi tersebut tepat sasaran karena seluruh masyarakat datang ke tempat pemutaran film di balai desa. "Setelah film berakhir, kita juga buat kuis berhadiah, anak-anak dan orang tua yang jawab benar diberikan hadiah sabun, odol dan sikat gigi," tambah Yohanes Pakereng.

Tidak sampai di situ saja, Yohanes masih mencari sumber permasalahan, jangan sampai anak-anak yang sudah bebas dari stunting, kesehatan mereka kembali menurun. Setelah ditelusuri, ternyata banyak orang tua kembali ke pola lama yakni menyajikan makanan dengan tujuan asalkan anak kenyang. "Anak-anak dikasih makan nasi saja, kami minta dikasih juga sayur dan terung," terangnya.

Sebagai solusi atas persoalan tersebut, dibentuklah kelompok pendukung ibu (KPI), yang menjadi wadah tempat berbagi cerita ibu-ibu mulai dari cara memasak sayuran termasuk daun kelor agar gizi yang terkandung di dalamnya tidak hilang. Alhasil, seluruh ibu-ibu di desa kini memiliki pengetahuan yang sama menganai memasak sayuran yang benar.

Tak jauh dari rumah, para pria tetap dengan kesibukannya masing-masing, membuat bedeng untuk persiapan menanam sayuran. Dengan dukungan dari PT Pertamina sebagai badan usaha milik negara (BUMN) ada harapan baru di Semau Selatan. Yakni, kelak balita di sana dapat tumbuh normal dan berkualitas dengan asupan gizi seimbang.

Ditangan generasi muda yang tumbuh dengan gizi cukup, harapan kehidupan yang jauh lebih baik di pulau Nusa Bungtilu nama lain Pulau Semau bukan impian kosong. (OL-13)

Baca Juga: Kebakaran Hancurkan Ratusan Rumah di Kotabaru

BERITA TERKAIT