30 October 2020, 03:47 WIB

Sebuah Pesan untuk Generasi Penerus


Advisor Otoritas Jasa Keuangan Agus Sugiarto | Opini

SETIAP 28 Oktober selalu dikenang sebagai suatu peristiwa yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Itu karena 92 tahun yang lalu para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia telah berikrar untuk memiliki rumah sendiri yang disebut dengan negara Indonesia. Cita-cita tersebut terwujud 17 tahun kemudian ketika Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Dengan pernyataan kemerdekaan tersebut, tujuan dari para pemuda untuk memiliki negara dan bangsa Indonesia sudah selesai dan bersifat final. Namun, cita-cita selanjutnya untuk memerdekakan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan sejahtera, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, belum sepenuhnya tercapai.

Untuk itulah, estafet kelanjutan bangsa Indonesia, dari satu generasi ke generasi berikutnya, perlu terus dipertahankan dan dijaga momentumnya agar tujuan mulia tersebut dapat dicapai.

Setelah 75 tahun kita merdeka, sudah banyak bukti keberhasilan ataupun prestasi pemerintah dalam membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih makmur. Salah satu tolok ukur keberhasilannya ialah saat ini kita sudah menjadi bagian dari kelompok negara-negara yang berpendapatan menengah atas, yaitu dengan pendapatan per kapita sebesar US$4.050 atau sekitar Rp59 juta (dengan kurs Rp14.500).

Selangkah lagi kita akan memasuki kelompok negara berpendapatan tinggi atau biasa disebut dengan negara maju. Dengan menjadi negara maju, rata-rata pendapatan per kapita penduduk Indone- sia akan menyentuh minimal US$12.536 atau sekitar Rp182 juta rupiah.

Oleh karena itu, generasi muda saat ini harus tetap melanjutkan semangat sumpah pemuda untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju. Menjadi negara maju tidak hanya dilihat dari sisi pendapatan, tetapi juga menjadi negara maju dalam segala bidang dan persoalan yang bisa membanggakan bangsa Indonesia di mata dunia internasional.

Memperkuat daya saing global

Generasi muda perlu menyadari bahwa salah satu kebanggaan sebagai bangsa Indonesia ialah menjadikan Indonesia sebagai negara yang makmur. Ukuran sebagai negara makmur salah satunya dapat dilihat dari indeks daya saing global (the global competitiveness index) yang dikeluarkan World Economic Forum.

Indeks ini mengukur bagaimana kemampuan daya saing suatu negara dalam menyediakan kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi warga negaranya. Menurut indeks terakhir pada 2019, posisi Indonesia berada pada urutan ke-50 dari 141 negara, masih di bawah Singapura (1), Malaysia (27), dan Thailand (40).

Generasi muda sebagai penerus bangsa harus mengatasi ketertinggalan posisi Indonesia tersebut. Setidaknya harus lebih bagus dari posisi Malaysia dan Thailand.

Sukses atau tidaknya suatu negara dalam menghadapi persaingan ke depan, akan sangat bergantung pada kemampuan negara tersebut dalam melakukan inovasi di berbagai bidang. Indeks inovasi global (the global innovation index) pada 2020 menempatkan Indonesia pada ururan ke-85 dari 131 negara.

Posisi ini masih di bawah Singapura (8), Malaysia (33), dan Thailand (44). Sekali lagi, Indonesia tidak boleh ketinggalan dengan negara-negara tetangga tersebut. Dengan segala kemampuan dan sumber daya yang dimiliki, kita pasti mampu menjadi innovative society.

Meningkatkan kualitas SDM

Untuk menjamin regenerasi bangsa Indonesia menuju bangsa yang lebih berkualitas, aspek pendidikan dan kesehatan mempunyai kontribusi yang penting. Aspek pendidikan akan meningkatkan kemampuaan dan kompetensi para pemuda. Sementara itu, aspek kesehatan akan menjamin bahwa usia generasi muda menjadi lebih panjang dan semakin sehat.

Indeks pembangunan manusia (human development index) yang dikeluarkan United Nations Development Programme (UNDP) merupakan suatu indikator yang memberikan gambaran mengenai tingkat kualitas sumber daya manusia dari suatu negara.

Indeks tersebut menempatkan Indonesia pada posisi ke-111 dari 189 negara (2019). Sekali lagi, posisi kita masih dibawah Singapura (9), Malaysia (61), dan Thailand (77). Untuk itulah, generasi muda harus memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan harapan hidup yang lebih panjang agar kita mampu menjadi bangsa yang berkualitas.

Citra bangsa Indonesia yang bersifat negatif harus kita buang jauh-jauh sehingga bangsa-bangsa lain akan memberikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada kita. Salah satu ganjalan yang kita hadapi saat ini ialah masih maraknya kasus korupsi di mana-mana sehingga
memberikan citra yang kurang baik bagi bangsa kita.

Kondisi ini dipertegas lagi dengan hasil survei dari lembaga Transparency International yang memberikan skor 40/100 untuk indeks persepsi korupsi (corruption perceptions index) Indonesia pada 2019. Dengan skor ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-85 dari 180 negara yang disurvei. Sementara itu, peringkat Singapura (4), Malaysia (51), dan Thailand (101).

Semakin tinggi peringkatnya, menunjukkan tingkat korupsi yang semakin besar di negara tersebut. Oleh sebab itu, generasi muda harus mulai membiasakan diri dengan budaya antikorupsi agar kita mampu menjadi bangsa yang disegani dan dihormati negara lain.

Menjaga integrasi bangsa

Perjuangan susah payah yang dilakukan para pendiri bangsa Indonesia untuk mendirikan NKRI harus bisa kita jaga dengan baik. NKRI merupakan harga mati yang sudah tidak bisa ditawar lagi, khususnya bagi para generasi penerus bangsa ini, yang memang tidak mengalami langsung perjuangan tersebut.

Dalam era digital seperti sekarang ini, perputaran informasi ataupun berita menjadi sangat cepat dan sering dipakai untuk tujuan memecah belah bangsa kita. Banyak sekali beredar informasi yang bersifat hoaks dan post-truth yang merugikan kita sehingga generasi muda harus mampu menyaring mana informasi yang benar dan yang menyesatkan.

Sekali lagi, generasi muda sebagai penerus bangsa Indonesia wajib meneruskan amanah dari pendiri bangsa ini untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam bingkai NKRI.

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

BERITA TERKAIT