29 October 2020, 23:20 WIB

Pengabdian Generasi Milenial


MI | Humaniora

KONGRES Sumpah Pemuda yang terjadi 92 tahun lalu menjadi titik awal pergerakan perjuangan anak-anak muda Indonesia pada masa itu tentang persatuan bangsa.

Kini setelah puluhan, tahun konteks Sumpah Pemuda telah melebar, bukan lagi soal bagaimana melakukan gerakan kemerdekaan, tetapi lebih cenderung melihat peran anak muda milenial untuk turut serta membangun daerahnya.

Ana Rachmawati, 24, gadis asal Desa Tejasari, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, Jawa Tengah, mencoba mengaplikasikan arti Sumpah Pemuda dengan cara berkontribusi untuk daerah kelahirannya. “Di desa saya itu kebanyakan masyarakatnya bekerja sebagai penambang pasir, penghasilannya tidak seberapa. Jangankan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, buat makan saja sudah susah,” ujarnya.

Ana beruntung menjadi satu dari sedikit warga kampung yang bisa menempuh pendidikan tinggi. Program beasiswa dari pemerintah mengantarkannya menjadi seorang sarjana pendidikan. “Anak-anak di sini kalau ditanya mau jadi apa, pasti jawabnya jadi sopir truk, penambang pasir. Inilah yang mendasari saya mendirikan Rumah Belajar Inspirasi di kampung halaman,” ujar Ana.

Rumah Belajar Inspirasi menjadi salah satu langkah Ana untuk mengenalkan dunia luar kepada anak-anak di kampungnya dan memotivasi mereka agar mampu sekolah hingga jenjang tertinggi.

Pilihan Ana untuk tetap mengabdi di tempat tinggalnya menjadi cerminan bahwa peran pemuda masih sangat dibutuhkan di tempat asalnya. Selain kisah Ana dengan Rumah Inspirasinya, ada juga kisah anak-anak muda lainnya yang menjadi calon penggerak kemajuan daerah.

Cerita-cerita itu terangkum dalam film dokumenter Pemuda Harapan yang akan tayang di program Melihat Indonesia pada Minggu, 1 November 2020 Pukul 10.30 WIB.(RO/H-1)
 

BERITA TERKAIT