29 October 2020, 22:08 WIB

Raih Beasiswa di Luar Negeri Tak Cukup Andalkan Bahasa Inggris


mediaindonesia.com | Humaniora

SETIAP beasiswa yang diberikan institusi pendidikan, baik tingkat SMA ataupun kuliah Strata Satu (S-1), S-2, dan S-3, pada dasarnya merupakan kompetisi memperebutkan peluang. Karena itu, setiap pemburu beasiswa harus mempersiapkan diri, dari sisi akademis dan nonakademis.

Mereka yang siap dan memilih sesuai dengan bidang studi dan kriteria yang ditawarkan, pasti akan lebih mudah untuk meraihnya.

Demikian kesimpulan webinar dengan tema Tips  dan Trik Memburu Beasiswa”, yang diadakan Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, DPP Golkar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10) malam. Webinar itu diikuti sekitar 130 an peserta dari berbagai daerah di Tanah Air, dan dihadiri sejumlah anggota Dewan dan pemerhati pendidikan.

Webinar menghadirkan narasumber yaitu Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Kemendikbud,  Dr. Abdul Kahar, M.Pd, Wakil Ketua Umum DPP Bidang Kesra yang juga Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dr.Hetifah Sjaifudian.

Hadir juga sebagai narasumber praktisi pendidikan, Fitri Tandjung Bsc dan juga praktisi pendidikan yang juga jurnalis senior Suradi, M.Si bersama tiga putri dan satu putranya yang sukses meraih  beasiswa di negara Montenegro, Eropa Selatan, Madrid-Spanyol,  dan Maine,  Amerika Serikat.

Webinar yang diikuti lebih 100 peserta dari ebrbagai daerah ini  dimoderatori Sekarwati, Wakil Sekjen DPPP Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, selaku moderator.  

Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan,  DPP Partai Golkar, Dr. Agustian Budi Prasetya, MPA  mengapresiasi para narasumber webinar  yang diadakan oleh Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, .

Menurut Agustian, memburu beasiswa, dalam hal ini, dana adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk  peningkatan pendidikan, namun tak kalah penting  adalah niat, kepercayaan diri, dan keberanian untuk berkompetisi, mengubah diri mendapatkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

"Pada posisi ini pesan Sumpah Pemuda menjadi penting untuk generasi muda. Melalui kesempatan pendidikan, generasi muda mendapat kesempatan untuk mewujudkan cita cita  untuk bangsa dan negara Indonesia," jelas Agustian. 

Sementara itu, Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Kemendikbud, Dr. Abdul Kahar, M.Pd, menjelaskan strategi untuk meraih beasiswa, di antaranya cari beasiswa dengan kondisi dan kebutuhan sesuai dengan persiapan yang maksimal dan  masukan berkas beasiswa lebih awal.

“Khusus untuk S-2 dan S-3 di luar negeri, persiapan lebih lama,minimal setahun, harus detail membaca informasi prodi, dan banyakmembaca karya professor yang nanti akan menjadi mentor kita,” katanya.

Kahar mengungkap banyak informasi beasiswa baik dari dalam maupun dari luar negeri. “Intinya, beasiswa itu oertarungan berebut kursi. Mereka yang siap yang akan dapat,” tambah tokoh yang juga memimpin lembaga pembiayaan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Atasi kesenjangan

Sementara Wakil Ketua Umum DPP Bidang-Bidang Kesra, Dr.Hetifah Sjaifudian, mengatakan, beasiswa bertujuan untuk mengatasi kesenjangan kelompok masyarakat yang miskin dan kaya karena dengan pendidikan perubahan sosial akan lebih terjadi. 

“Kita wajib menyediakan akses pendidikan yang luasbagi seluruh masyarakat Indonesia, karena itu DPR RI, khusus Komisi X akan mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo yang menginginkan SDM Indonesia makin meningkat,” katanya.

Hatifah menjelaskan data tentang persentase jumlah masyarakat Indonesia dalam bidang pendidikan yang ntinya masih terbesar pada kelompok pendidikan SD 43%, SMA 26,4%, SMP 21,2%, dan perguruan tinggi masih 8,8%. “Jadi, akses ke pendidikan tinggi masih terbatas. Kita harus membantu perluasan akses ini,” katanya.

Sedangkan narasumber lain, Amira Kaca, alumni ITB Bandung yang juga penerima beasiswa dan LSE (Master of Public Administration in Economic Policy, 2015-2017) menyarankan pemburu beasiswa aktif membuka portal informasi beasiswa dan organisasi pemberi beasiswa

Kaca menyarankan juga untu mempelajari latar belakang dan visi misi organisasi yang memberikan beasiswa, apa tujuan dari beasiswa tersebut, juga profil penerima beasiswa yang ideal (bidang studi, negara tujuan, dan track record).

“Lakukan asesmen apakah profil kita cocok dengan beasiswa tersebut dan apakah ada hal yang bisa kita tingkatkan dari diri kita agar lebih kompetitif,” ujar pengurus di Bidang Dikbud DPP Partai Golkar.

Narsumber lain, praktisi pendidikan Fitri Tandjung membagi tips inti untuk pemburu beasiswa dengan cara mengenali diri sendiri, gigih mencari informasi beasiswa, membangun sinergi, dan percaya diridan semangat. “Kita juga harus siap berkompetisi untuk meraih beasiswa,” katanya.

Ada juga narasumber keluarga yakni  praktisisi pendidikan dan media, Suradi, Msi yang tampil bersama dua putra-putrinya.

Suradi bercerita bagimana mempersiapkan ketiga anak-anaknya sejak kecil baik persiapan akademik dan keterampilan, sehingga pada saatnya, memudahkan untuk bertarung meraihbeasiswa sehingga sehingga ketiga anak-anaknya mendapat beasiswa di luar negeri,tepatnya di AS,Madrid, dan Montenegro.

Kedua anak Suradi yakni Rachmadiani Lestari dan Muhammad Rizky menceritakan pengalaman bagaimana mempersiapkan diri dan berjuang meraih beasiswa belajar dan kuliah di luar negeri.

Rachmadiani Lestari yang baru menyelesaikan pendidikan sarjana di Bidang Hukum Bisnis di IE University, Madrid, Spanyol, Juli 2020 lalu menceritakan bagaimana dia mempersiapkan diri cukup lama untuk menggapai cita-cita kuliah di luar negeri. Perjuangannya tidak sia-sia karena pada tahun 2016 setelah lulus dari SMAN 8 Jakarta, dia berangkat ke Madrid.

Dalam webinar itu Rachma, sapaan akrab Rachmadiani Lestari, membagi tipsnya yakni mempersiapkan berbagai hal yang disyaratkan, baik nilai akademis, pengalaman organisasi, pengabdian masyarakat, latihan menulis esai, dan yang tak kalah penting persiapan mental untuk hidup dan belajar, jauh dari orang tua.

Bukan hanya kuliah, Rachma selama kuliah di Madrid aaktif dalam kegiatan kampus, kegiatan organisasi seperti PPI (Persatuan Mahasiswa Indonesia di luar negeri), mengikuti berbagai lomba antarkampus, dan magang di sejumlah kantor hukum.

Begitu juga sang adik,Muhammad Rizky yang lebih berani lagi karena setelah lulus dari SMP Labschool Rawamangun, Jakarta, 2018, berangkat ke Montenegro, Eropa Selatan untuk menempuh studi tingkat SMA di Knightsbridge Schools International (KSI).

Saat ini Rizky duduk di kelas 3 dan tengah mempersiapkan diri untuk mengajukan beasiswa kuliah di AS dan sejumlah negara Eropa.

Menurut Rizky, sejak naik kelas 3 atau elas 9 SMP, dirinya rajin browsing mencari informasi beasiswa untuk tingkat SMA. Meski jarang, tetapi ada beberapa institusi pendidikan yang menawarkan beasiswa dengan syarat cukup ketat.”Saya berhasil lolos di KSI Montenegro,” katanya.

Seperti kakaknya,Rizky jugamenyarankan agar mereka yang ingin sekolah ataupun kuliah di luar negeri, rajin mencari informasi di internet, dan juga bertanya kepada yang sudah berpengalaman ataupun mengikuti seminar seperti ini.

Selain itu, persiapan lain yang mutlak disyaratkan harus dipersiapkan seperti kemampuan Bahasa Inggris lisan dan tulisan untuk membuat esai, asah ketrampilan lain baik seni maupun budaya, mengikuti organisasi di sekolah dan di luar sekolah, dan harus berani menghadapi berbagai tantangan. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT