29 October 2020, 16:08 WIB

Menanti Asa Kolaborasi Manis Bisnis Petrashop


Dede Susianti | Megapolitan

KEPALA Desa Kalisuren, Odih Iyas didampingi stafnya Makmur, sigap dan langssung bergerak mencari lahan, ketika ada perwakilan dari PT Pertamina (Persero) menawarkan peluang bisnis kemitraan. Waktu itu awal Juli 2020.

Saat itu, Pertamina menawarkan peluang kerja sama kemitraan bisnis Pertashop kepada pemerintah Desa Kalisuren, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Petrashop adalah layanan lembaga penyalur resmi Pertamina dengan skala kecil untuk melayani kebutuhan BBM (bahan bakar minyak) nonsubsidi, elpiji nonsubsidi dan juga produk ritel Pertamina lainnya yang tidak atau belum terlayani oleh lembaga penyalur resmi. Bisa disebut stasiun pengisian bahan bakar atau SPBU mini.

Cerita Odih, tidak gampang mencari lahan di desanya, terlebih dengan ukuran yang cukup luas dan untuk sebuah SPBU. Syaratnya minimal 200 meter dengan titik yang strategis di pinggir jalan utama desa.

Desa Kalisuren sendiri letaknya berada di antara perbatasan Kota Depok, Parung Kabupaten Bogor, Tangerang Selatan, dan Kota Bogor.

Desa tersebut cukup padat penduduknya yakni sekitar 23 ribu jiwa dari 7.000 KK (kepala keluarga). Ada 6 (enam) kampung di desa tersebut dengan 16 RW (rukun warga) dan 61 RT (rukun tetangga). Dari luas lahan, hanya 30 persen untuk pertanian dan sisanya adalah pemukiman.

Mobilitas warga di desa yang terkenal sebagai sentra tanaman hias dan usaha jual beli suku cadang kendaraan bermotor  tersebut, cukup tinggi. Selain menjadi petani tanaman hias, rata-rata warga Kali Suren pekerja swasta.

"Kerjanya petani tanaman yang lahannya milik warga luar dan banyaknya karyawan swasta. 99 persen warga sini pakai kendaraan, minimal motor,"tutur Odih.

Keberadaan atau jarak Desa Kali Suren ke pusat pemerintahan Cibinong sendiri, sekitar 20 kilometer. Jarak terdekat hanya stasiun kereta, kurang lebih 5 kilometer.

Setelah lima kali atau tempat gagal karena tak memenuhi syarat, akhirnya Odih menemukan lahan milik Indra, salah seorang warga Jakarta. Luasnya 800 meter. Sang pemilik bersedia menyewakan lahannya dengan alasan ingin turut serta mendukung program pemerintah.

Baca juga : Lahan Pemakaman Krisis, DKI Harus Optimalkan TPU Rorotan

Ya, ini merupakan program pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI bersinergi bersama PT Pertamina. Melalui pembangunan target 40 ribu outlet  (gerai) Pertashop hingga tahun 2024, program ini untuk mendukung perkembangan ekonomi dan kemandirian desa.

"Ini ada surat-syratnya. Ini kata orang Pertaminanya program pemerintah pusat, Kementrian Dalam Negeri. Kita, Kali Suren masuk dalam program itu ,"ungkap Odih seraya menunjukkan dokumen-dokumen yang berkorp Kemendagri.

Di kesempatan yang sama, Makmur, staf Odih yang sejak awal dilibatkan dalam program ini menuturkan, bahwa di awal sasarannya adalah bumdes sehingga nantinya jadi sumber pendapatan desa dan aset desa.

Hanya saja karena keterbatasan dan program, anggaran bumdes tahun ini sudah berjalan dan desa tidak memiliki aset lahan, akhirnya program itu dialihkan ke pribadi. Pihaknya tidak ingin peluang ini hilang.

"Bumdes di sini sudah berjalan, baru satu tahun ini. Tapi demi memenuhi kebutuhan masyarakat, jadi peluang ini dialihkan, diambil pribadi. Adik pak kades yang bersedia. Tapi nantinya jika mau dialihkan lagi pengelolaanya oleh desa, bisa,"katanya.

Tumbuh dan Jadi Percontohan

Singkat cerita, dengan adanya kolaborasi baik dan manis, akhirnya Petrashop tersebut berdiri, tepatnya dibuka pada Agustus 2020.

Proses kemitraan berjalan lancar. Oleh Odih dan keluarganya lahan tersebut kini diubah bukan saja menjadi sebuah SPBU mini, tapi juga jadi tempat istirahat atau rest area mini.

Untuk bangunan Petrashop dan lahan parkirnya seluas 200 meter. Sedangkan 500 meternya disulap menjadi sebuah restoran lesehan dengan kapasitas 50-100 orang, sebuah mushola yang nyaman. Selain itu, dibangun juga beberapa gerai untuk pelaku UKM (usaha kecil menengah) sebagai fasilitas pendukung.

Model kemitraannya untuk saat ini, Pertamina menyediakan DO (delivery order) pasokan BBM dengan kapasitas 2000 liter. Biasanya dalam 2 hari sekali. Kemudian pihak Pertamina memberikan subsidi sebesar Rp 1 juta kepada pengelola per setiap bulannya. Hal itu untuk membantu pengelola karena lahan yang digunakan disewa sebesar Rp 30 juta per tahun.

Untuk hidup, pengelola pun berinovasi. Pihaknya menyewakan kembali gerai-gerai itu pada mitra UKM. Satu gerai disewakan sebesar Rp 500 ribu untuk satu bulan.

"Jadi tetap kita libatkan pelaku UKM binaan kita. Kita ingin ekonomi di sini hidup dan majukan usaha-usaha kecil,"kata Odih.

Keberadaan Petrashop di situ, mendapat respon positif, karena memang sudah dinanti. Karena sejumlah keuntungan bisa didapat warga.

"Harganya sama seperti di SPBU. Takaran dan kualitas juga terjamin. Dan di eceran gak semua jual Pertamax dan kalau pun ada harganya jauh lebih mahal,"kata Rizky salah seorang warga Komplek Puri, masih satu kecamatan, Tajurhalang.

Untuk saat ini, Petrashop Kali Suren baru beroperasi mulai pukul 06.00 wib hingga pukul 20.00 wib. Ke depannya dimungkinkan untuk ditambah jam operasi, sesuai dorongan dari warga.

Baca juga : Dua Ormas Bentrokan di Ciledug, Dua Orang Ditangkap

Menurut Odih, banyak juga keinginan warga yang masuk, agar jenis layanannya ditambah. Saat ini di Petrashop Kali Suren hanya ada Pertamax yang dijual dengan harga Rp 9.000 per liter. Harga tersebut sama dengan yang berlaku di SPBU.

Sementara itu, saat Media Indonesia ke lokasi pada akgir Agustus lalu, terlihat layanan di situ sangat baik. Karena saat ini masa pandemi virus korona (covid-19), penerapan protokol kesehatan dilakukan sangat ketat.

Untuk pekerja Petrashop, Galang dan satu rekan lainya melayani dengan cukup hati-hati. Dengan mengenakan masker di rangap dengan face shield (penutup wajah) dan sarung tangan, ramah melayani. Dan dengan daya dukung lahan kosong atau parkir luas, pembeli pun tidak berdekatan saat mengantre.

"Saya dan teman saya mendapat pelatihan dulu dari Pertamina. Saya baru lulus SMA, dan langsung kerja di sini,"kata Galang.

Pun demikian dengan di tempat makan dan musholanya. Di depan tempat makan itu, di bawah tong atau torn air ukuran 1000 liter, pengelola menyediakan tempat cuci tangan. Beberpa alat dan cuci tangan pun tersedia di beberapa sudut. Kemudian handsanitizer pun disediakan di setiap meja makan.

Kini, rata-rata penjualan bisa mencapai 300 liter hingga 400 liter per hari. Konsep rest area mini itu berbuah manis. Ditambah dengan penerapan atau pelayanan dan penjualan yang bagus, Petrashop Kali Suren yang baru seumur jagung itu pun disebut-sebut akan dijadikan percontohan untuk di seluruh Indonesia.

Pihak Pertamina menyebutkan, saat ini secara keseluruhan di Jawa Barat, ada 31 Petrashop yang sudah beroperasi. Sedangkan untuk area DKI, dan Banten ada 44 unit.

Untuk di Kabupaten Bogor, selain di Kali Suren ada tiga Petrashop yang beroperasi. Diantaranya di Tenjo, paling ujung atau bagian barat Kabupaten Bogor atau perbatasan Lebak, Banten, dan di Sukamakmur, daerah paling ujung bagian Timur berbatasan dengan Cianjur.

Unit Manager Communication Relations & CSR MOR III, Eko Kristiawan mengatakan, keberadaan Petrashop memang dibutuhkan oleh masyarakat. Terlebih dengan situasi dan kondisi saat ini, di masa pandemi yang serba dibatasi.

Dia menyebut, pihaknya akan terus melakujan kerjasama untuk pemberdayaan desa. Pihaknya pun akan terus memperluas layanan atau availability energy bagi masyarakat yang jauh dari SPBU.

"Dengan kehadiran Pertashop, masyarakat tidak perlu pergi jauh dari rumah untuk mendapatkan produk Pertamina,”pungkasnya.(OL-2)

 

BERITA TERKAIT