28 October 2020, 15:57 WIB

Presiden: Indonesia Harus Tangkap Peluang Ekonomi Syariah


M. Ilham Ramadhan Avisena | Politik dan Hukum

EKONOMI syariah memiliki potensi besar untuk dikembangkan lantaran peminatnya tidak hanya dari negara mayoritas penduduk muslim, tapi juga oleh negara lain seperti Jepang, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat. Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia harus menangkap peluang besar tersebut.

Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo saat meresmikan pembukaan gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-7 secara virtual, Rabu (28/10). Pemerintah, kata dia, memiliki Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) yang ditujukan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah nasional.

Agenda yang dibawa KNEKS merupakan strategi besar yakni menguatkan halal value chain, penguatan keuangan syariah, penguatan usaha mikro, kecil dan menengah yang dibarengi pula dengan penguatan ekonomi digital.

“Dengan mendorong akselerasi, percepatan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional sebagai bagian dari transformasi Indoensia maju dan berupaya menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah global,” ujar Presiden Joko Widodo.

Dia menambahkan, gelaran ISEF ke-7 merupakan momentum untuk menciptakan peta jalan ekonomi dan keuangan syariah yang jelas dan mendetil. Dari gelaran itu pula dapat ditemukan langkah-langkah konkret untuk mengembangkan kemampuan ekonomi dan keuangan syariah nasional.

Baca juga : Jokowi: Sumpah Pemuda Satukan Anak Bangsa di Tengah Persaingan

Sebab, industri keuangan syariah Indonesia saat ini seperti raksasa yang sedang tertidur. Hal itu amat disayangkan, sehingga upaya untuk membangkitkan raksasa itu menjadi penting. Salah satu upaya tersebut ialah dengan membentuk satu bank syariah terbesar di Tanah Air.

“Sederhananya semua aset bank syariah milik negara akan dilebur menjadi satu untuk melahirkan bank syariah raksassa. Total 3 aset BUMN, BRISyariah, Mandiri Syariah dan BNI Syariah sampai semester pertama 2020 adalah Rp214 triliun, sebuah angka yang besar,” ujar Presiden.

Pria yang akrab disapa Jokowi itu juga menyatakan, di saat yang sama pemerintah terus mengembangkan dan mendorong industri keuangan di skala kecil. Pengembangan bank wakaf mikro dengan menggandeng pondok pesantren dan organisasi keagamaan yang ada turut dilakukan.

“Kita berharap industri keuangan syariah dapat menjadi instrumen keuangan alternatif untuk memajukan ekonomi rakyat. Pengembangan ekonomi syariah yang berbasis sektor riil, padat karya dan industri halal juga sangat potensial untuk memperluas penyerapan tenaga kerja dan membuka peluang usaha baru,” imbuhnya.

“Negara kita punya barang produk halal unggulan, produk makanan, kosmetik, juga fesyen, untuk fesyen kita bahkan punya cita-cita menjadi pusat fesyen muslim terbesar di dunia,” sambung Jokowi.

Namun ia menyayangkan, potensi besar yang dimiliki Indonesia itu belum dioptimalisasi dan diimplementasikan dengan baik. Oleh karenanya, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang integratif dan menyeluruh akan terus dilakukan pemerintah.

“Ekosistem industrinya perlu dibenahi, regulasinya harus simple dan efesien, SDM-nya juga harus dipersiapkan dengan baik,” pungkas Jokowi. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT