28 October 2020, 14:52 WIB

Momen Sumpah Pemuda : Media Diajak Turut Akhiri Kelaparan Balita


Eni Kartinah | Humaniora

HASIL survei FOI (Foodbank of Indonesia) yang dilaksanakan pada Agustus 2020 di 14 kota mengungkapkan bahwa  27% balita ke sekolah dengan perut kosong karena tidak makan hingga siang hari.

Bahkan di daerah padat perkotaan, angkanya mencapai 40-50%. Jika kelaparan terjadi dalam jangka panjang, terdapat kemungkinan gizi buruk yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada balita.

Bincang Media pada Rabu (28/10) yang diinisiasi FOI merupakan usaha untuk mengajak media ikut secara aktif mengedukasi masyarakat terhadap isu kelaparan pada balita melalui aksi nyata.

Media diminta turut mengedukasi kepada para bunda dan pengasuh anak-anak untuk membangun narasi pangan yang baik untuk balita.

Pangan lokal bisa jadi pilihan yang baik demi masa depan Indonesia merdeka 100% dari rasa lapar.

Sebelum pandemi Covid-19, Indonesia memiliki 7 juta balita yang mengalami stunting. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima di dunia dengan balita stunting terbanyak (Riskesdas 2018).

Pada sebuah keluarga, balita memanglah kelompok yang paling rentan dalam hal distribusi makanan. Mereka sangat tergantung orang tua untuk pemenuhan gizinya, dan kebutuhan ini seringkali tergeser oleh kebutuhan keluarga yang lain.

 Bahkan menurut penelitian FOI, ada sekitar 27% persen anak usia dini atau balita di Indonesia mengalami kelaparan pada saat pagi hingga siang hari.

Tentunya masalah ini harus mendapat perhatian dari berbagai pihak tak terkecuali peran media. Sesuai dengan Pasal 72 ayat (5) Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Peran media dalam perlindungan anak dilakukan melalui penyebarluasan informasi dan materi edukasi yang bermanfaat dari aspek sosial, budaya, pendidikan, agama, kesehatan anak dengan memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak.

Bertapatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda 2020, FOI mengadakan acara Bincang Media untuk mengajak media ikut secara aktif mengedukasi masyarakat terhadap isu kelaparan pada balita melalui aksi nyata dan bangkit kembali ke pangan lokal demi mewujudkan Indonesia merdeka 100% dari rasa lapar.

Menurut Hendro Utomo selaku founder FOI, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan upaya FOI agar terus bergerak memerangi kelaparan pada balita untuk mencapai impian Indonesia merdeka.

Hendro berharap, melalui kegiatan ini media dapat mengedukasi masyarakat untuk melalui narasi pangan yang baik demi mendukung balita yang merupakan masa depan Indonesia.

“Media bisa melakukan banyak hal untuk membantu anak-anak balita demi masa depan Indonesia dengan cara membangun kesadaran, mengangkat pentingnya narasi pangan yang baik untuk anak-anak dan mengubah perilaku yang menyebabkan 27% anak-anak balita kita masih menderita kelaparan,” pungkas Hendro.

Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Lenny N Rosalin mengungkapkan dalam hal tumbuh kembang anak, media juga berperan penting mengedukasi orang tua dan mengangkat isu pemenuhan hak anak atas pangan

“Mari kita bersinergi memerangi kelaparan balita, demi kepentingan terbaik bagi 80 juta anak Indonesia yang kita cintai. Mereka masa depan kita, mereka generasi penerus bangsa,” ungkap Lenny Menurut Wartawan Kompas, Andreas Maryoto, bahwa media mempunyai peran menjadi motor untuk mengajak masyarakat memerangi kelaparan pada balita.

 “Media mempunyai peran penting dalam masyarakat, sebagai fungsi pendidikan, media harus secara aktif melakukan edukasi untuk mewujudkan Indonesia Merdeka dari rasa lapar,” Jelas Maryoto. (Nik/OL-09)

BERITA TERKAIT