28 October 2020, 15:35 WIB

Ternyata Ada Hubungan antara Fobia Matematika dan Kepercayaan Diri


Galih Agus Saputra | Weekend

Matematika mungkin adalah salah satu cabang ilmu yang kerap menjadi momok banyak pelajar. Tak jarang seseorang menghindari pembahasan yang satu ini, dan ada pula yang tidak mau menekuni studi tertentu karena enggan bersinggungan dengan matematika. Dalam dunia psikologi, hal semacam itu bisa disebut sebagai fobia matematika (mathemaphobia).

Fobia matematika bisa menjadi 'kerugian'  bagi seseorang. Sebab, dengan memahami matematika, seseorang dapat lebih produktif, bahkan terampil dalam bidang science, technology, engineering dan math (STEM). Sejumlah ilmuwan dari University of South Australia (Unisa) dan Australian Council for Educational Research beberapa waktu lalu mencoba mengeksplorasi fobia ini. Hasil penelitian kemudian dipublikasikan melalui Australian Journal of Education.

Dalam paparannya, mereka menjelaskan upaya untuk memancing keterlibatan seseorang lebih besar pada matematika seharusnya dimulai dari masalah kepercayaan diri. Dari studi yang mereka lakukan di Australia, misalnya, seperempat hingga sepertiga siswa sekolah menengah di sana mengaku tegang, gugup, atau tidak berdaya saat mengerjakan matematika. Reaksi seperti itulah yang, kata mereka, dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk belajar matematika di kemudian hari.

"Banyak dari kita merasakan kecemasan matematika di masa lalu. Ada rasa panik atau khawatir, perasaan gagal, atau bahkan detak jantung yang lebih cepat. Rasa cemas pada matematika sebenarnya adalah reaksi emosional, tetapi dalam situasi lain ia sama seperti stres," tutur pakar kognisi Numerik Unisa, Florence Gabriel, seperti dilansir Sciencedaily, Rabu (28/10).

Ketika seseorang mengalami kecemasan, lanjut Gabriel, ia akan cenderung terburu-buru menjawab pertanyaan. Ia juga kehilangan fokus, bahkan menyerah ketika semuanya mulai tampak sulit. Tidak mengherankan jika reaksi semacam itu terus tumbuh dan membuat prestasi matematika menjadi menurun, atau yang lebih parah menjadikan seseorang tidak ingin terlibat dengan subjek itu sama sekali.

Gabriel dan tim melibatkan 4.295 siswa berusia 15 tahun dalam studi. Sebuah sistem kepercayaan diri lantas ia ajukan untuk memutus siklus fobia, yang dari sistem ini pula diharap dapat menjadi faktor pendukung psikologis seseorang saat belajar matematika.

Sistem kepercayaan diri itu sendiri, pertama, meliputi pemahaman terkait motivasi atau keyakinan bahwa matematika itu penting dan berguna untuk masa depan. Kedua, konsep diri atau keyakinan bahwa seorang dapat menyelesaikan soal. Ketiga ialah memahami fobia matematika atau reaksi emosional yang muncul saat belajar. Keempat, terkait ketekunan dan self-efficacy atau keyakinan bahwa seseorang mampu menguasai matematika. Serta kelima, yang tidak kalah penting adalah literasi matematika atau kemampuan seseorang untuk menerapkan matematika di dunia nyata.

"Penelitian kami menunjukkan efek domino pada variabel ini satu sama lain. Data kami menunjukkan bahwa motivasi dan konsep diri yang rendah akan menyebabkan kecemasan pada matematika, yang pada gilirannya memengaruhi ketekunan, self-efficacy dan pada akhirnya prestasi matematika itu sendiri. Dengan mengembangkan kemampuan siswa untuk merefleksikan kesuksesan sebelum adanya kecemasan pada matematika, kita dapat menerobos beberapa keyakinan negatif dan emosional tentang matematika. Mudah-mudahan cara ini dapat membuka jalan bagi siswa agar mau menerima dan terlibat lebih dalam dengan matematika di masa depan," tutur Gabriel. (M-2) 

BERITA TERKAIT