28 October 2020, 09:43 WIB

Pemuda Terus Berinovasi Membangun Bangsa


mediaindonesia.com | Humaniora

 

KONTRIBUSI pemuda selalu dibutuhkan untuk membangun sebuah bangsa. Pemuda dinilai memiliki semangat dan pikiran yang segar untuk melahirkan inovasi-inovasi bagi persoalan masa kini.

Di era internet dan teknologi digital yang semakin maju, para pemuda memiliki peran vital membawa kemajuan bangsa. Mereka berlomba-lomba menciptakan inovasi di berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

Di bidang kesehatan, misalnya, berbagai startup bermunculan sebagai jawaban atas permasalahan akses kesehatan yang terbatas, khususnya di wilayah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Antara lain Halodoc, Sehati, dan WeCare yang diinisiasi muda-mudi berbakat.

CEO Halodoc Jonathan Sudharta bercerita bahwa startup yang dimulai sejak 2016 itu berangkat dari satu mimpi untuk menyederhanakan akses kesehatan. Melalui aplikasi, pasien dapat berkomunikasi langsung dengan dokter dan memesan obat secara online.

Saat ini, Halodoc telah beker­ja sama dengan lebih dari 20.000 dokter di seluruh Indonesia, lebih dari 4.000 apotek, dan hampir 50% rumah sakit dan klinik di Indonesia.

“Kami punya satu mimpi mensimplifikasi (menyederhanakan) akses kesehatan. Selama misi mensimplifikasi itu kita pegang terus, kita akan fokus pada solusi yang tepat dari suatu problem,” katanya dalam program Suara Muda-Mudi Bangun Negeri di Metro TV, Rabu (28/10).

“Banyak tantangan di negeri ini. Tapi kita diberikan mandat oleh yang Mahakuasa pemikiran, teman, semangat, untuk bisa menciptakan perubahan,” imbuhnya.

Adapun Sehati adalah platform yang fokus di bidang kesehatan anak. Menurut Co-Founder Sehati Abraham Auzan, persoalan kesehatan anak di Indonesia harus mendapatkan perhatian khusus.

CEO Halodoc Jonathan Sudharta  dan Co-Founder Sehati Abraham Auzan tampil di  program Suara Muda-Mudi Bangun Negeri di Metro TV

Sejumlah permasalahan besar seperti stunting hingga kematian ibu dan anak masih menghantui. Karena itu, akses pelayanan kesehatan untuk ibu dan anak masih harus ditingkatkan terutama di wilayah 3T.

“Kalau kita pergi ke daerah-daerah terpencil di pulau-pulau terluar Indonesia, itu tidak bisa dibayangkan seperti di Jakarta. Untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan mereka mungkin harus dua hari pergi ke puskesmas atau rumah sakit,” katanya dalam kesempatan yang sama.

“Maka kami ciptakan platform aplikasi serta alat TeleCTG, yakni alat ini diperuntukkan bagi bidan dalam membantu memonitor keadaan ibu hamil. Data-datanya kemudian dikirimkan ke dokter-dokter kandungan di RSUD sehingga tanpa harus melakukan perjalanan jauh, ibu-ibu di semua Indonesia mendapatkan pelayanan kesehatan yang setara,” jelasnya.

Bekerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang membantu membuka akses internet, Sehati mengimplementasikan inovasi tersebut di hampir di 20 kabupaten/kota di wilayah 3T.

Sementara itu, WeCare.id adalah platform untuk me­ngumpulkan dana bagi pasien-pasien yang memiliki kemampuan finansial terbatas. Mereka biasanya tinggal di wilayah yang sulit dijangkau, dan belum menjadi peserta BPJS Kesehatan atau kepesertaannya sudah tidak aktif.

CEO WeCare.id Mesty Ario­tedjo menyebut alasannya mendirikan platform ini karena terinspirasi dari pengalaman pribadi saat menjadi dokter di Flores, NTT, sekitar 7 tahun lalu.

“Di sana saya merasakan sekali fasilitas terbatas, infrastruktur terbatas, jalanan putus. Saat itu memang hampir semua pasien memiliki jaminan kesehatan masyarakat tapi ternyata fasilitasnya gak cukup, pasien harus dirujuk ke kota besar dan membutuhkan biaya besar karena tidak termasuk dalam jaminan kesehatan,” ungkapnya.

Sampai saat ini, WeCare telah menyalurkan dana kepada 2.000 fasilitas kesehatan termasuk menyalurkan alat pelindung diri (APD) dan sudah memiliki database lebih dari 2.800 rumah sakit.

Pendidikan

Inovasi dan kontribusi para pemuda pun banyak dilakukan di sektor pendidikan. Pertama adalah AyoBelajar yang merupakan Sistem Manajemen Sekolah berbasis web dan mobile apps.

Chief Marketing Officer (CMO) AyoBelajar Nadhira Afifa mengatakan pihaknya ingin anak-anak di daerah 3T bisa mengakses konten pendidikan yang berkualitas.

“Jadi kita coba menghadirkan learning management system (LMS) untuk sekolah-sekolah yang biasanya kesusah­an mengadakan belajar-mengajar, mereka bisa kayak mengunggah video ke YouTube, menghubungi murid dengan WA dan email,” jelasnya.

“Kami bikin integrated platform di mana mereka bisa ujian, upload assignment, melihat video dari guru, segala macam dalam satu platform. Kita bekerja sama juga dengan dinas pendidikan di daerah termasuk Bakti Kominfo untuk bisa bantu program LMS ini,” imbuhnya.

Lain halnya dengan Musisi Erix Soekamti. Dia menggagas sekolah bakat nonformal dan nonkomersial bernama DOES University sejak 2016.

DOES University saat ini memiliki 5 jurusan, yakni animasi, 3D modelling, sinematografi, desain, dan programmer.

“Sebelum jadi musisi saya juga sekolah dan kebetulan gak jauh dengan bidang pendidikan yang saya tempuh. Kesadaran ini menghasilkan sebuah evaluasi dan kesimpulan untuk berbuat sesuatu. Dan ini sekolah gratis, jadi memang semuanya pendanaan kita lakukan sendiri,” katanya.

Di sekolah ini, kata Erix, para murid dibiarkan berekspresi untuk menggapai mimpi-mimpi mereka. Menurutnya, rata-rata para murid sebelum masuk ke DOES University sudah menentukan pilihannya untuk menggapai cita-cita mereka sehingga tidak perlu diarahkan ke depannya.

Selain itu, ada Grace, seorang perempuan muda yang menjadi pengajar di Panti ­Asuhan Hawai, Jayapura, Papua. Apa yang dilakukan Grace untuk pendidikan di sana tidak dapat dianggap enteng.

Dia dengan gigih membagikan pengetahuannya agar anak-anak di Papua bisa meng­akses internet. Pasalnya, kata Grace, edukasi tentang teknologi dan informasi di sana masih terbatas.

“Facebook saja mereka sudah bingung, bagaimana dengan aplikasi-aplikasi belajar online seperti AyoBelajar, Google Meet, dan sebagainya. Di sinilah saya tersentuh untuk hadir dan membantu mereka. Saya membantu mereka cara mengakses aplikasi-aplikasi ini, bagaimana menghubungkan Google Meet dengan Classroom, bagaimana mengumpulkan tugas lewat Microsoft Office,” ujarnya.

Ekonomi

Di bidang ekonomi, sejumlah pemuda juga melakukan berbagai inovasi dengan memanfaatkan teknologi digital. Seperti yang dilakukan yang disebut sebagai pelopor bisnis dessert box di Indonesia.

Dia menyebut dunia digital memiliki peran besar untuk penjualan produk yang dirintisnya sejak 2016 ini. Berbagai platform digital pun dijadikan medium penjualan Bittersweet by Najla, seperti e-commerce, Instagram, hingga TikTok.

“Kami selalu berinovasi, itu kunci dari bisnis saya. Setiap bulan kami ada kolaborasi terutama di masa pandemi ini,” katanya.
Najla berpesan untuk gene­rasi milenial agar senantiasa berjuang untuk berkontribusi bagi bangsa di bidang masing-masing.

Selanjutnya, Priska, penggagas wisata Kampung Batik di Singkawang, Kalimantan Barat. Dia bercerita bahwa salah satu alasan menggagas Kampung Batik karena ingin memberdayakan perekonomian ibu-ibu di wilayah tersebut.

“Di sana ibu-ibunya ada nganggur tetapi juga pengen bantu ekonomi keluarga. Akhirnya diajak membuat batik sendiri,” ungkapnya.

Di masa pandemi covid-19, kegiatan di Kampung Batik cukup terdampak. “Walaupun penjualannya online, kita lebih banyak pemasukannya secara konvensional dari kunjungan, workshop, dan lain-lain,” kata Friska.

Terakhir, Ilham yang memiliki inisiasi untuk mempromosikan pariwisata Kota Sabang melalui media sosial. Ilham menyebut daerahnya memiliki potensi wisata alam yang sebelumnya tidak terlalu dilirik wisatawan.

“Promosi-promosi melalui Instagram, Facebook, Youtube, jadi salah satu strategi mempromosikan wilayah Sabang melalui media sosial. Alhamdulillah yang sudah saya lakukan berbuah hasil bagi masyarakat Sabang, terutama saat kemarin saya membuat video bagaimana cerita pelaku pariwisata di Sabang untuk mencari kehidupannya,” ung­kapnya.

Dia pun berharap anak-anak muda Indonesia bisa konsisten membangun negeri dari potensi di daerah masing-masing. (Ifa/S3-25)

BERITA TERKAIT