28 October 2020, 02:45 WIB

Mewujudkan Pendidikan Karakter Pancasila Sejak Dini


Gana Buana | Humaniora

MEMBENTUK karakter yang sesuai Pancasila perlu dilakukan sejak dini. Pasalnya, hal tersebut bisa berdampak terhadap kehidupan anak di masa depan.

Ibu dari sepasang pemuda berbakat ‘Rara dan Rafi’, Anggarainy Damanik mengungkapkan dirinya kerap menanamkan kesederhanaan dalam hidup pada anak-anaknya. Pasalnya, dengan menjadi anak-anak yang sederhana dalam keseharian akan membuat mereka menjadi santun dan rendah hati.

“Saya kerapkali memberikan contoh kepada anak-anak bekerja keras dalam mencapai cita-cita mereka. Tidak ada zona nyaman, kalau ingin ya harus berusaha, kalau gagal itu biasa dicoba saja terus. Yakin, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk hambanya yang berikhtiar,” ungkap Rainy kepada Media Indonesia, Minggu (25/10).

Selain itu, kata Rainy, dirinya sering menanamkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika kepada anak-anaknya. Dirinya ingin kedua anaknya memiliki karakter kuat sehingha mereka bisa menginspirasi anak-anak lain untuk berprestasi dan berkarya tanpa sensasi. Dengan begitu, mereka pun bisa menjadi anak-anak tangguh untuk masa depan Indonesia.

“Ketika mereka berdua dilepas ke tempat yang berbeda, misalnya sekolah ke luar negeri, mereka akan menjadi anak yang kuat serta dapat membawa nama Indonesia harum di mata dunia,” jelas dia.

Selama menanamkan pendidikan karakter sejak dini, Rainy mengaku tidak mengalami kesulitan berarti. Sebab semua orang terdekat pun mendukung. Dia percaya, karakter awal anak dibentuk dari keluarga inti, sehingga harus ‘seia sekata’ dengan sang suami yang memiliki prinsip sama dalam mendidik anak.

“Kendala ringan mungkin dari lingkungan sekitar ketika Rafi, anak yang beranjak dewasa, menanyakan tentang berita di televisi yang mengandung kekerasan,” tuturnya.

Solusinya, sebagai orangtua, ia kerap mengajak Rafi berdiskusi ringan tentang apa saja yang terjadi di Jakarta dan daerah lain di Indonesia. Tentunya dengan catatan, tanpa menghakimi atau tidak mengajarkan anak segala sesuatu yang bersifat kekerasan. “Kami sering berdiskusi dengan kepala dingin dan sama-sama puas dengan hasil diskusinya,” lanjut dia.

Dampak positifnya, mereka berdua pun menjadi anak yang santun, rendah hati dan yang paling penting ialah bekerja keras. “Mereka alhamdulilah tidak terjebak dalam gaya anak-anak yang berusaha untuk eksis dengan segala cara. Mereka santai tak ngoyo mengejar ketenaran. Bagi mereka, menghasilkan karya yang bermanfaat itu lebih penting daripada mencari sensasi yang bersifat sementara,” jelas dia.

Siswi berbakat dan berprestasi, Rara Sudirman, 12, menyampaikan arti cinta Tanah Air baginya ialah bangga dengan apa yang ada di Indonesia. Bahkan, dirinya kerap mempelajari budaya Indonesia.

Wujud nyata dari cintanya pada Indonesia yakni dengan mencintai lagu Indonesia, memakai baju adat ketika menghadiri acara, dan mendongeng tentang anak Indonesia yang dia buat sendiri seperti cerita tentang anak Betawi.

“Cerita yang pernah aku buat pun menang di lomba nasional. Ketika aku mengikuti lomba FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) yang diselenggarakan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), aku menjadi juara 2 tingkat nasional lomba menyanyi dan di FLS2N lomba mendongeng aku bertemu teman-teman dari 34 provinsi Indonesia. Di situ aku merasa senang dan bangga karena mereka baik-baik dan ramah- ramah. Kami berkumpul serta bermain bersama-sama dengan memakai baju adat dan mendengar bahasa adat mereka dari setiap daerah. Sungguh menyenangkan Indonesia kaya akan budaya,” jelas Rara. Berprestasi

Rafi Sudirman, 17, yang juga merupakan siswa berbakat dan berprestasi mengaku mencintai Tanah Air dengan cara berprestasi dengan musik yang ia ciptakan. Dengan cara seperti itu, ia berharap bisa memperkenalkan Indonesia di mata dunia.

“Dengan keunikan musik etnik di setiap daerah di Indonesia membuat aku semangat berkarya mengangkat musik Indonesia ke ajang internasional,” tutur dia.

Rafi mengatakan sebagai pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa, salah satu cara menghargai perjuangan pahlawan bangsa adalah mencintai Tanah Air. Pasalnya, kita dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia. “Itu menjadi tugas kita sebagai generasi penerus bangsa untuk menjaga nama baik Indonesia,” kata dia.

Menjadi muda, berbakat, dan berprestasi, Rafi pun sukses membawa nama bangsa Indonesia meraih prestasi kepada dunia sebagai juara pertama World Champion Categories Jazz, Pop, Show Choir di Gothenburg, Swedia pada 2019 lalu. (Gan/S3-25)

BERITA TERKAIT