28 October 2020, 08:20 WIB

Energi Terbarukan yang Mengubah Kehidupan


Lilik Darmawan | Nusantara

PERAHU bermesin itu memelankan lajunya. Setelah berjalan sekitar 2 jam dari Dermaga Sleko, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) tibalah di Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut. Bondan adalah dusun terpencil yang dikelilingi perairan Segara Anakan. Meski terpencil, dusun ini telah menjadi percontohan bagaimana wilayah terpencil mampu mandiri energi. Bahkan, di tahun 2019, kampung ini diganjar juara pertama Lomba Desa Mandiri Energi tingkat Jateng.

Salah dusun paling terpencil di Kabupaten Cilacap itu mulai berubah tiga tahun lalu. Perubahan dimulai ketika masyarakat setempat dikenalkan dengan teknologi energi terbarukan yang dikenalkan oleh Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap. Mereka mengenalkan teknologi hybrid energi one pool (Heop). Teknologi sederhana ini menggabungkan antara panel surya dengan kincir angin. Meski sederhana, tetapi itu merupakan jawaban atas persoalan energi yang membelit masyarakat setempat selama 
20 tahun.

"Saya datang ke Bondan dan menetap di sini dari Jawa Barat (Jabar) pada 1997. Waktu itu, sama sekali tidak ada listrik. Yang menjadi andalan adalah lampu minyak tanah. Kemudian baru sekitar tahun 2010, warga sepakat untuk menarik kabel listrik PLN dari Desa Grugu, Kecamatan Kawunganten. Jaraknya sekitar 5 kilometer (km). Karena hanya dengan kabel bisa, maka nyala lampu di Dusun Bondan tidak stabil," kenang Apudin, salah seorang tokoh masyarakat Dusun Bondan.

Makanya, begitu dikenalkan teknologi Heop pada 2017 silam, warga setempat begitu membuncah perasaannya. Sebab, tidak pernah diduga sebelumnya, jika ada pihak yang menaruh perhatian kepada masyarakat  terpencil. Dengan adanya teknologi Heop, maka masyarakat Dusun Bondan dapat merasakan kampungnya menjadi terang. Meski daya listrik dari Heop terbatas, tetapi setidaknya kampusng tersebut menjadi terang jika malam hari datang.

Tak hanya berhenti sampai ke teknologi Heop, sebab Pertamina kemudian mengembangkan teknologi energi terbarukan berbasis matahari dan angin yang disebut sebagai pembangkit listrik tenaga hybrid (PLTH). Peluncuran PLTH dilaksanakan pada Maret 2019 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya. Bahkan, pada saat meresmikan, Siti sangat mengapresiasi adanya PLTH yang masuk dalam program energi mandiri tenaga surya dan angin (E-Mas Bayu). Kemudian juga ada Energi Mandiri Tambak  Ikan (E-Mbak Mina). 

"Saya mengapresiasi Pertamina yang mendorong energi bersih dan peduli lingkungan di Kampung Laut, Cilacap. Ini cocok untuk daerah remote (daerah terpencil dan sulit dijangkau)," jelasnya ketika itu.

Dengan adanya PLTH di Dusun Bondan, maka ada 43 rumah warga dan fasilitas umum yang kini teraliri listrik. Secara total, ada 78 keluarga di dusun setempat. Bagi yang belum teraliri PLTH, mereka masih ada yang menggunakan teknologi Heop. Dengan kapasitas 180 Kilowatt (KW) per bulan, maka PLTH setempat mampu menurunkan emisi hingga 1,1 ton equivalent (Eq) CO2. Tidak mengherankan jika kemudian kawasan setempat  disebut sebagai wilayah energi bersih dan menjadi daerah mandiri energi.

Apudin menambahkan bahwa dengan adanya PLTH, maka kini warga setempat bisa berhemat. Sebab, dulu sewaktu masih menarik kabel listrik dari Desa Grugu, warga iuran antara Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per bulan. 

"Sekarang warga yang mendapat suplai listrik dari PLTH hanya mengeluarkan iuran Rp25 ribu per bulan, jauh lebih murah dibandingkan sebelumnya. Iuran tersebut digunakan untuk pemeliharaan. Dengan PLTH, maka listrik juga lebih stabil, tak seperti dulu yang kadang-kadang lampunya redup," jelasnya. 

Miliki Posisi Tawar dengan Tengkulak

Ketika listrik dari PLTH belum ada, yang menjadi andalan warga hanyalah menjual ikan. Kondisi ini yang kemudian menjadikan mereka tidak memiliki posisi tawar dengan para tengkulak ketika musim panen tiba. Ketika panen ikan bandeng, maka harganya dipastikan anjlok. Bahkan, nasib paling buruk adalah ikan bandeng tidak laku dipasaran. Kehadiran PLTH membuat petani tambak memiliki posisi tawar, sebab ada alternatif selain menjual mentah. Ketua Kelompok Ibu Mandiri (KIM) Bondan, Asnem, mengatakan bahwa para ibu di Dusun Bondan kini lebih sibuk, karena setelah adanya PLTH dapat memproses olahan dari ikan menjadi abon, kripik dan presto. Penasihat KIM Bondan, Apudin, mengungkapkan dengan adanya diversifikasi produk yang dihasilkan, maka petani tambak di Bondan tidak lagi hanya mempunyai satu pilihan yakni menjual hasil tambak mentah. 

Tak hanya itu, adanya PLTH mendorong teknologi untuk meningkatkan hasil panen ikan. Kepala Dusun (Bondan) yang juga Ketua Kelompok Tani Ikan Tambak Mandiri, Irawan, mengatakan bahwa PLTH ternyata juga berdampak pada intensifikasi tambak ikan dengan teknologi polikultur biofilter. 

"Pengembangan tambak polikultur biofilter ternyata mampu meningkatkan produktivitas hingga 100%. Jika sebelumnya, 1 kg ikan bandeng berisi 10 ekor, kini 5-6 ekor. Ternyata teknologi ini terbukti mampu meningkatkan bobot ikan. Tentu saja, petani tambak akan mendapat peningkatan pendapatan," ujar Irawan.

Program tambak polikultur biofilter adalah memadukan antara tanaman mangrove dengan sejumlah biota yang dibudidayakan seperti ikan bandeng, udang, dan kerang totok. Masing-masing memiliki fungsi penting, di antaranya adalah mangrove akan menyediakan pakan alami bagi udang dan bandeng. Sedangkan kerang totok akan mampu menyerap residu tambak.

Unit Manager Communication, Relations & CSR Pertamina RU IV Cilacap Hatim Ilwan menanggapi hal itu mengatakan bahwa teknologi tambak polikultur biofilter telah didesain dengan struktur ramah banjir rob. Apalagi Dusun Bondang rawan terjadinya banjir rob. 

"Dengan desain semacam itu, masyarakat petani tambak tidak akan kehilangan ikan dan udang yang dibudidayakan," ungkap Hatim.

Program tambak polikultur biofilter ini tak akan bisa diterapkan tanpa kehadiran PLTH. Karena dengan listrik dari PLTH, akhirnya mampu menggerakan aerator di tambak. Aerator berfungsi untuk memperkaya oksigen di dalam tambak, sehingga produktivitas panen ikan bakal kian meningkat. Inilah peran yang dilakukan Pertamina RU IV untuk terus meningkatkan pendapatan masyarakat setempat yang umumnya masih kurang mampu. 

Tercatat, dari 78 kepala keluarga (KK) atau 312 jiwa rata-rata belum mampu secara ekonomi. Kehadiran energi terbarukan tebukti mengubah kehidupan dan mampu menggerakkan sektor perekonomian. (OL-3)

BERITA TERKAIT