27 October 2020, 23:40 WIB

Waktu Tunggu Ekspor dari Belawan Dipangkas Lebih Cepat Dua Hari


Yoseph Pencawan | Nusantara

PIHAK Bea dan Cukai serta badan karantina telah memangkas waktu tunggu dan biaya inspeksi komoditas ekspor dari Pelabuhan Belawan secara signifikan.

Kepala Karantina Pertanian Belawan Hasrul mengatakan, pihaknya telah melakukan uji coba penerapan pemeriksaan bersama atau Joint Inspection Karantina-Pabean di Pelabuhan Belawan.

"Penerapan pemeriksaan bersama ini sebenarnya telah menjadi Mandatory sejak 21 September 2020," ungkapnya, Selasa (27/10).

Proses uji coba menurut dia berjalan sukses dan saat ini telah diterapkan kepada 88 pelaku usaha eksportir dan 28 Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK).

Dari hasil evaluasi uji coba, penerapan pemeriksaan bersama ini dapat memangkas waktu tunggu 1-2 hari lebih cepat dari biasanya. Selain itu, pemeriksaan bersama juga memangkas biaya lebih dari setengahnya.

"Sebagai contoh, untuk kontainer 20 feet yang sebelumnya terbebani biaya Rp1,6 juta, kini hanya dikenai biaya Rp771 ribu saja," jelas Hasrul.

Kendati demikian, dia memastikan dalam mengimplementasikan program ini pihaknya akan tetap memegang teguh asas kehati-hatian atau 'precautionary principle".

Karantina Pertanian Belawan akan tetap memastikan produk pertanian yang dilalu-lintaskan sehat dan aman. Kemudian tidak membawa hama penyakit hewan dan tumbuhan yang berbahaya bagi kelestarian dan kesehatan masyarakat.

Sebelumnya, pada Minggu (25/10, kata dia, Karantina Pertanian Belawan telah meneken standar prosedur pemeriksaan bersama Karantina-Pabean untuk barang kategori resiko tinggi dan curah di Pelabuhan Belawan.

Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari uji coba penerapan pemeriksaan bersama atau single submission dalam kerangka joint inspection

Karantina dan Bea Cukai (SSm QC) yang telah dilaksanakan sebelumnya.

"Waktu tunggu atau dwelling time harus cepat dan biaya harus murah agar produk kita makin memiliki berdaya saing ," kata Hasrul.

Pemeriksaan bersama atau SSm QC diyakininya juga akan mampu mendukung keberhasilan program penataan ekosistem logistik nasional.

Hingga saat ini sudah empat pelabuhan yang menerapkan SSm QC, yakni pelabuhan Belawan, Tanjung Emas, Tanjung Perak dan Tanjung Priok. (OL-8)

 

BERITA TERKAIT