27 October 2020, 23:03 WIB

Dunia Pendidikan harus Ubah Paradigma


mediaindonesia.com | Humaniora

DI masa mendatang, kemajuan teknologi akan makin mengikis peran tenaga manusia dalam industri. Hal ini membuat stakeholder dunia pendidikan di Indonesia harus melakukan terobosan untuk mengantisipasi kondosi tersebut.

Hal itu diungkapkan Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, dalam seminar 'Menyiapkan SMK yang Kondusif dan Hebat Melalui Ekosistem Gerakan Sekolah Menyenangkan' di Solo 23-26 Oktober 2020.

Rizal manyatakan untuk menjawab tantangan tersebut, stakeholder dunia pendidikan harus mampu menciptakan ekosistem dan konten baru dengan pendekatan a whole school approach. Bukan hanya dengan menawarkan program baru seperti DUDI (dunia usaha dunia industri) serta kurikulum baru yang sesuai kebutuhan industri saja.

"Harus diciptakan ekosistem dan kondisi dimana anak bisa menjadi dirinya sendiri agar bisa mengeluarkan talenta terbaiknya karena punya gairah selama belajar di sekolah. Lingkungan belajar yang bisa membuat anak berani memiliki 3D yakni dream, design, dan deliver," ungkapnya, Selasa (27/10).

Menurutnya, anak didik jangan diseragamkan kemampuan dan keminatannya, namun diberi ruang untuk punya mimpinya sendiri bagi masa depan dengan diberikan banyak pilihan, serta berbagai skenario bagaimana mereka belajar sesuai kekuatan yang dimilikinya sendiri. "Skenario ini akan meningkatkan ketrampilan anak dalam mendesain dan mendeliver (menjalankan) proses belajar untuk mencapai mimpinya secara sistematis dan konsisten," jelasnya.

Lebih jauh Nur Rizal, mengutarakan ekosistem persekolahan 3D diharapkan memberikan iklim baru bagi anak untuk melakukan upskilling atau reskilling sesuai tuntutan industri masa depan. Di masa mendatang, porsi penguasaan konten pengetahuan hanya diperlukan 10% saja, dibandingkan 90% penguasaan pada ketrampilan pengelolaan diri, emosi dan empati sosial serta berpikir kritis-analitis dan kreatif dalam memecahkan persoalan kompleks.

Lebih jauh, Nur Rizal menyebutkan, budaya di SMK punya peluang lebih besar dibandingkan di SMA dalam menerapkan ekosistem 3D karena sifatnya lebih kejuruan. Sayangnya, program kejuruan saat ini lebih ditujukan pada penyiapan tenaga kerja untuk kebutuhan dunia industri yang didominasi low level skills.

"Padahal pekerjaan dengan low level tersebut yang paling cepat tergantikan oleh percepatan otomatisasi akibat resesi ekonomi oleh  pandemi Covid-19," katanya. (RO/R-1)

 

BERITA TERKAIT