27 October 2020, 20:55 WIB

CFO Dituntut Semakin Berinovasi di tengah Pandemi


Irvan Sihombing | Ekonomi

PANDEMI covid-19 ikut memukul peran chief financial officer (CFO). Survei CFO Report 2020 oleh Grant Thornton menunjukkan adanya kesenjangan antara target yang harus dicapai dan kemampuan CFO dalam berinovasi.

Oleh karena itu, CFO harus lebih fokus pada peran sebagai agen perubahan dan juga ahli strategi dalam memanfaatkan otomatisasi, outsourcing, dan efektivitas divisi keuangan. Mereka juga mesti menyesuaikan strategi sehingga bisa fokus pada business-critical area.

Baca juga: Kredit Macet dan Pembiayaan Bermasalah Alami Peningkatan

"CFO dapat menyesuaikan strategi agar mereka fokus pada business-critical area sembari memastikan akuntabilitas organisasi untuk fungsi keuangan berjalan lancar saat pandemi,” ujar Legal Partner Grant Thornton Indonesia Kurniawan Tjoetiar di Jakarta, Selasa (27/10/2020).

Ia mengingatkan CFO agar fokus pada inovasi mikro yang menggabungkan sumber daya manusia, proses, dan teknologi, ke dalam model strategi baru, yang membantu mereka terus memajukan kinerja perusahaan bahkan selama pandemi.

“Melihat PSBB yang sudah berulang beberapa kali di Indonesia, kebijakan strategis dari pemimpin perusahaan akan menentukan masa depan perusahaan tersebut. Kami menegaskan CFO memegang peranan new normal yang penting,” tambah Kurniawan.

Hasil survei Grant Thornton di bulan Februari 2020 menunjukkan tanggung jawab CFO dibagi dalam peranan seimbang sebagai ahli strategi, agen perubahan, dan yang menggawangi kinerja keuangan perusahaan.

Namun, saat pandemi covid-19 semakin memburuk, peran para CFO bergeser ke arah ahli strategi dan agen perubahan tetapi lebih sedikit sebagai penjaga gawang keuangan perusahaan. Untuk itu, Kurniawan membagikan empat cara agar peran CFO di masa datang semakin kuat.

Baca juga: Menperin Yakin Ada Peningkatan Kerja Sama Sektor Industri RI-Korea

Pertama ialah pendelegasian mulai dari tugas sederhana seperti akuntasi tertentu atau dari perubahan struktural secara permanen. Kedua, CFO harus menggunakan software dengan hasil forecasting lebih cepat (otomatisasi).

"Ketiga, CFO dapat memberikan program pelatihan untuk berbagai peran maupun kompetensi yang bersifat prioritas. Cara terakhir ialah menjajaki kemungkinan melakukan alih daya fungsi tertentu (outsorcing) yang sifatnya berulang dan sangat transaksional." (RO/A-3)

BERITA TERKAIT