27 October 2020, 05:50 WIB

Covid-19 belum Jadi Sentral Program Kampanye di Cianjur


Benny Bastiandy | Pilkada

PILKADA Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mulai menghangat. Empat pasangan calon (paslon) gencar menyosialisasikan program-program unggulan masing-masing untuk merebut hati masyarakat.

Mesin pendukung jalur perseorangan tak kalah gesit mengimbangi pergerakan calon yang diusung partai politik. Muhammad Toha-Ade Sobari (HaDe) nomor urut 1 ialah satu-satunya paslon yang memilih melalui jalur perseorangan dengan dukungan parpol nonparlemen.

Tiga lainnya didukung parpol. Paslon nomor urut 2, Oting Zaenal Muttaqien-Wawan Setiawan (OTW), misalnya, maju menggunakan kendaraan Gerindra dan Demokrat. Selanjutnya paslon nomor urut 3, Herman Suherman-Tb Mulyana Syahrudin (BHS-M), diusung koalisi Golkar, NasDem, PDI Perjuangan, PAN, dan PPP. Terakhir, pasangan nomor urut 4, Lepi Ali Firmansyah-Gilar Budi Raharja (Pilar),
dijagokan PKS dan PKB.

Hitungan politik di atas kertas, paslon BHS-M relatif kuat karena didukung lima parpol dengan komposisi Golkar (8 kursi), NasDem (6 kursi), PDI Perjuangan (5 kursi), PAN (3 kursi), dan PPP (2 kursi). Total 24 kursi.

Disusul paslon OTW dengan kekuatan 11 kursi meliputi Gerindra (6) dan Demokrat (5 kursi). Selanjutnya paslon Pilar mendapat dukungan 10 kursi dari PKB (5) dan PKS (5).

Meski demikian, pasangan HaDe yang bertarung melalui jalur perseorangan tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka mengantongi dukungan sebanyak 113.074 suara atau melebihi syarat dukungan minimal 6,5% (108.354 suara).

Paslon HaDe mengetengahkan visi Makmur, Martabat, dan Agamis. Visi tersebut dirumuskan dalam tiga misi; Cianjur Tertata (Cinta), Cianjur Transparan (Citra), dan Cianjur Pribadi Tangguh (Cipta).

“Pembangunan Cianjur tanpa Cinta tidak akan melahirkan sebuah hal yang bisa membawa kahadean (bagus). Salah satu program yang akan kami tuangkan ialah dana RT berbasis jumlah jiwa sebesar Rp100 ribu per jiwa,” kata calon Bupati Cianjur nomor urut 1, Muhammad Toha.

Calon Bupati Cianjur nomor urut 2, Oting Zaenal Muttaqin, yang hampir 30 tahun bekerja sebagai ASN di lingkungan Pemkab Cianjur, berkomitmen mereformasi birokrasi yang pada akhirnya berimbas pada pelayanan publik dan peningkatan kesejahteraan.

Pasangannya, Wawan Setiawan, yang murni seorang politikus, dinilai menjadi pasangan pas memimpin Cianjur. “Target kami harus menang tebal,” tandas Oting.

Paslon nomor urut 3, Herman Suherman-Tb Mulyana Syahrudin, mencuat dengan sejumlah program meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM). Sejauh ini IPM Kabupaten Cianjur relatif berada di urutan bawah jika dibandingkan dengan kota dan kabupaten lainnya di Jawa Barat.

Program unggulan untuk mencapai percepatan peningkatan IPM itu ialah dengan pencanangan 1.000 kilometer jalan beton, pemberdayaan 10.000 UMKM, pemberdayaan 1.000 kobong/pesantren, peningkatan produktivitas 1.000 hektare lahan pertanian, dan program Cianjur Caang karena di beberapa wilayah masih terkendala dengan masalah pasokan listrik.

“Infrastruktur jalan yang mantap akan membantu masyarakat menjangkau fasilitas kesehatan, pendidikan, dan pusat-pusat ekonomi. Itu akan menjadi penunjang utama program-program di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan petani dan UMKM,” ujar Herman.

Wajah Cianjur Baru dijanjikan paslon nomor urut 4, Lepi Ali Firmansyah dan Gilar Budi Raharja, untuk kemajuan, kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran masyarakat. “Semangat pilkada harus menjadi momentum melahirkan pemimpin yang bisa mewujudkan harapan dan keinginan masyarakat. Kami bukan manusia yang istimewa, tapi ini semata-mata kecintaaan kami kepada masyarakat Cianjur,” pungkas Lepi.

Sosial tinggi

Siapa kandidat yang paling memiliki peluang memenangi pertarungan? Pengamat politik Cianjur, Dedi Mulyadi, mengatakan calon yang mempunyai modal sosial tinggi dan dukungan parpol yang relatif cukup akan memiliki kelebihan tertentu.

Alasannya, suprastruktur partai politik pengusung dan pendukung pasangan calon akan lebih gesit bergerak untuk memenangkan kandidat.

Faktor lain yang mesti menjadi catatan penting dari para kandidat, lanjutnya, ialah strategi mencegah penyebaran covid-19. Strategi penanganan covid-19 akan menjadi salah satu pekerjaan rumah bupati terpilih.

“Kalau hanya selalu bertumpu pada kebijakan pemerintah pusat, saya kira apa gunanya pemerintah daerah. Jadi, sekarang setiap pasangan calon harus punya program pendekatan yang bisa menjadi senjata memenangi simpati masyarakat dalam penanganan virus korona,” beber Dedi.

Dekan I Fakultas Hukum Universitas Suryakencana Cianjur tersebut juga berpandangan mesin kandidat belum maksimal menggunakan media sosial sebagai metode kampanye.

“Para pasangan calon cenderung menggunakan metode konvensional seperti tatap muka di satu titik dan sebagainya. Libatkan kalangan milenial yang notabene cukup kreatif menciptakan konten-konten menarik dan lebih jeli memanfaatkan media sosial,” cetusnya. (N-1)

BERITA TERKAIT